My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 83: Calling


__ADS_3

Arana tidak tahu berapa lama dia melangkah. Kakinya sakit, dan kepalanya berdenyut karena rasa pusing yang mendera. Pandangannya mencoba fokus kedepan. Napasnya memberat, dan Arana sesekali terlihat menyeka keringat yang menetes dari pelipisnya.


Rasanya benar-benar melelahkan, dan entah kemana dia berjalan sekarang.


Matahari sudah menuju kearah barat dengan cepat, mungkin Arana sudah berjalan setengah hari lebih. Perutnya yang lapar mungkin bisa terganjal oleh sebatang coklat yang dia miliki didalam tasnya, rasa hausnya bisa sedikit terobati air yang dia simpan. Namun rasa lelahnya tidak bisa disingkirkan dengan istirahat, karena jika dia beristirahat, langit yang menggelap akan berbahaya baginya. Terlebih, ponselnya mati dan tidak bisa dijadikan sebagai alat penerang. Arana benar-benar berharap bisa segera menemukan bantuan.


"Bapa, apakah jalan yang Rana ambil benar?" Batinnya, berdoa.


Ia memandang sekelilingnya, dan tidak lama mendengar suara-suara yang sayup berasal dari balik hutan bambu yang rimbun.


Arana melebarkan matanya, mencari arah ke sumber suara, merasa yakin bahwa ada suara tawa anak kecil yang terdengar disana. Arana tidak ragu, menyusuri pohon bambu, sampai akhirnya dia menemukan jalan setapak. Bahu Arana terasa lemas, dan beban berat dibahunya seakan terangkat. Ia mengabaikan kakinya yang sakit, berlari menyusuri jalan setapak yang semakin dan semakin bersih disetiap langkahnya. Melewati hutan bambu, melewati hutan aren, sebelum langkahnya berhenti. Napasnya menderu, dan dadanya naik turun, mencoba menenangkan paru-parunya yang berusaha menyerap udara dengan sekuat tenaga.


Sepasang maniknya terpaku memandang desa kecil dilereng gunung itu. Dan tanpa disadarinya, Arana telah bersimpuh ditanah dan menitikkan air mata tanpa berkedip.


Ia pikir ia akan mati.


...***...


Di gedung apartemennya, Alva berjalan bolak-balik sembari mencoba menghubungi Arana. Meski ponselnya mati, Alva berharap bahwa ponsel gadis itu akan hidup, sehingga Alva dapat melacak perangkatnya.


Duduk disofa, seorang remaja muda tengah duduk menghadap laptope berlayar ganda, yang entah memunculkan data dan rekaman apa didalamnya. Sepasang manik biru itu memandang layar dengan fokus, dan jemarinya menari diatas keyboard.


Alva bertanya dengan suara dingin. "Bagaimana?"


"Belum." Hanya gumaman pelan yang disampaikan remaja itu, membuat tangan Alva terkepal kuat, tidak sabar.


Erlan disamping remaja itu juga nampak fokus dengan ponselnya, dan selama beberapa waktu bertukar pesan dengan seseorang, dia menoleh. "Bos, J sudah berhasil menemukan orang itu. J mengatakan bahwa dia ditemukan disebuah bar dan sedang berpesta pora dengan banyak orang. J hampir berurusan dengan pihak bar, namun dia sudah mengatasinya. Pria itu sudah dibawa ke tempat biasa."


Manik Alva penuh dengan emosi buruk, dan bila mata bisa membunuh, ribuan orang bisa terbunuh sekaligus hanya dengan tatapan matanya. Alva membuka bibirnya dengan perlahan. "Minta J dan R untuk bermain dengannya sebentar. Dan minta Angga untuk tetap membuatnya sadar selama permainan mereka. Aku tidak mau tahu jika J dan R menggila, asalkan mereka membuatnya memilih mati daripada hidup."

__ADS_1


Erlan menganggukkan kepalanya. "Baik, bos."


Alva hendak mencoba menghubungi Arana kembali ketika seseorang terlebih dahulu menelpon-nya. Maniknya memandang layar ponselnya dengan penuh kejutan, dan tangannya dengan segera mengangkat panggilan telepon itu.


"Sayang! Dimana kamu? Apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya segera setelah panggilan terhubung. Suaranya membuat Erlan dan remaja itu memandangnya.


[ ... aku ... saja ... tidak ... jangan mengkhawatirkanku .. aku .. ]


Tidak ada yang jelas dari perkataannya yang terputus-putus. Alva mengerutkan keningnya, dan dengan mencoba menenangkan perasaannya ia kembali bertanya. "Sayang, dimana kamu? Aku tidak bisa mengerti dimana kamu sekarang?"


[ .. Al? Ha .. lo .. lo? ]


Tut .. Tut .. Tut


Panggilan berakhir begitu saja. Alva dengan cepat mencoba menghubungi Arana, namun nomer Arana kembali tidak aktif. Alva menoleh kepada remaja itu dan segera menyerahkan ponselnya kepadanya. "Cal, segera lacak teleponnya!"


"Aku menemukannya bos!"


Alva berkata, "Kirimkan kepada Erlan. Lan, siapkan mobil, kita akan kesana sekarang juga."


Erlan menganggukkan kepalanya. Meski tidak menjawab, dia dengan tegas menghubungi seseorang setelah Calvian dalam sedetik mengiriminya alamat yang dimaksud. "Mobil sudah siap bos, kita bisa berangkat sekarang."


Alva bangkit berdiri, bersama dengan Erlan dan Calvian, ketiganya turun menuju basement. Ada tiga mobil yang terparkir rapi, sebuah Roll-Royce hitam yang mewah dan dua mobil yang sama mewahnya disampingnya. Ketiganya memasuki mobil yang berada di paling depan, dan bersama-sama ketiga mobil itu melaju menuju tempat dimana Arana saat ini berada.


...***...


"Bagaimana, kak? Apakah bisa?"


Pertanyaan itu terlontar dari bibir seorang remaja perempuan berkulit tan. Ia mengenakan kain tenun yang melilit tubuhnya, menampilkan bagian lengan dan kakinya. Mata bundarnya yang jernih berbinar dibawah cahaya, dan membuat Arana tidak bisa menahan untuk membatin bahwa matanya sangat indah. Persis seperti mata anak yang polos, murni dan jujur.

__ADS_1


Arana harus merasa bersyukur bahwa ketika dia hampir pingsan kelelahan, dia menemukan desa ini. Ketika mereka melihat Arana dengan penampilannya yang memprihatinkan, mereka segera berbondong-bondong menolongnya dan membantunya. Menempatkannya dirumah kecil yang hangat ini, kemudian merawat luka-lukanya.


Desa ini berada dipinggiran jalan raya yang sebenarnya hampir seperti jalan mati. Karena jalanan ini tidak pernah digunakan setelah adanya jalan tol yang memotong hutan, orang-orang lebih senang menggunakan jalan tol tersebut, daripada harus menggunakan jalan ini, yang bisa menempuh jarak lebih jauh dan lebih lama. Lagipula, ujung jalanan ini adalah kearah pantai, dan sangat jarang orang yang datang ke pantai tersebut.


Arana tersenyum lemah dan menggeleng. "Bisa, tapi suaraku terputus-putus. Kemudian, sinyalnya benar-benar menghilang."


"Sinyal disini memang sangat buruk! Tidak masalah, kak! Setelah paman kembali, paman akan mengantar kakak ke kota dengan mobil pengangkutnya, dan kakak bisa menghubungi keluarga kakak disana." Hibur gadis itu.


Wanita yang mengantarkan bubur untuk Arana mendengar perkataan putrinya dan mengangguk. "Benar sekali. Tidak perlu cemas, nak. Pemimpin desa akan kembali besok pagi, dan aku akan memintanya mengantarkanmu kembali ke kota. Ini, makanlah selagi panas."


Arana menyunggingkan senyuman, menganggukkan kepalanya, merasa bersyukur atas kebaikan orang-orang didesa ini. "Terimakasih banyak."


"Tidak perlu sungkan, makanlah." Ramah wanita itu.


Arana memandang semangkuk bubur putih dengan daun bawang dan sepotong telur diatasnya. Bagian bawah mangkuk yang hangat juga menghangatkan hatinya. Dunia ini memang keras, penuh dengan orang-orang yang egois dan mementingkan dirinya sendiri. Namun bukan berarti tidak ada diantara mereka yang berhati malaikat. Mereka yang terkadang nampak seperti tidak peduli bahkan bisa menjadi orang yang paling mempedulikanmu.


Arana dalam diam menyendokkan bubur kedalam mulutnya dengan kecepatan yang stagnan, menikmatinya sembari bersyukur dalam hatinya.


Faktanya, masih banyak orang baik didunia yang seakan menentang keberadaannya.


Beberapa lama kemudian, Arana selesai makan. Arana dan wanita itu nampak mengobrol, saling melempar pertanyaan dan jawaban yang membuat suasana nyaman dan harmonis. Arana dengan hangat menyunggingkan senyuman yang membuat wanita itu tertular senyuman, sama halnya dengan sang putri wanita yang berbaring tengkurap didekat Arana sembari dengan asyik mendengarkan perbincangan Arana dan beberapa ibu-ibu yang sengaja datang untuk melihat Arana.


"Ibu! Ada sesuatu yang datang kemari!"


"Apa itu?"


Mendengar suara ribut diluar, ibu-ibu lain dan sang pemilik rumah saling menatap dengan bingung. Wanita itu bangkit berdiri, melangkah keluar dan memasang wajah tercengang begitu dia membuka pintu. Hal itu mengundang rasa penasaran Arana, jadi dia dengan cepat menyusul wanita itu, sebelum menemukan sesuatu yang mengejutkan, sama halnya dengan ibu-ibu lainnya.


__ADS_1


__ADS_2