My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 98: Drugs And Misconceptions


__ADS_3

Pada awal Arana mendengar tantangan mereka untuk Civanya, Arana tahu bahwa mereka memang sengaja membuat pilihan sulit untuk CIvanya.


Jika yang duduk dibangku ini adalah Alana asli, Arana tidak yakin apakah dia bahkan mau duduk disebelah Civanya. Namun karena ini adalah dirinya, Arana tidak terlalu memusingkannya. Toh, didalam hatinya, Arana sudah menganggap Civanya seperti Amber dan Lily, yang merupakan teman pertamanya di Indonesia. Amber juga sering mencium pipinya ketika merasa sangat senang, dan ciuman disana merupakan bentuk rasa sayang yang ditunjukkan kepada sahabat.


Jadi, ketika Civanya mendapatkan tantangan seperti itu, dia tahu bahwa Civanya akan memilihnya karena sebenarnya gadis itu sudah lebih berani berinteraksi dengannya akhir-akhir ini.


"Tidak melanjutkan?" tanya Arana, "Jika tidak, aku akan pulang."


Lora segera menggeleng. "Jangan pulang dulu. Aku akan memutarnya."


Tangannya yang berhias kuku merah segera memutar botol kaca yang mengarah kepada Alen--pemuda yang duduk disamping Leva. "Eoh, aku? Baiklah, aku pilih dare."


Leva mengangkat tangannya. "Lihat wanita disana? Bercintalah dengannya disana. Jangan lupa foto untuk membuktikan."


Alen mengikuti arah pandang Leva dan menyunggingkan seringaian miring. "Itu sangat mudah."


Namun Arana yang mendengarnya memiliki wajah yang tidak menyenangkan. Bagaimana bisa mereka begitu mudah meyebutkan kata seperti itu dan melakukan hal seperti itu hanya karena permainan? Memang benar mereka yang ada didalam tempat itu sebagian besar adalah mereka yang sudah berselam dalam dunia malam, namun Arana tidak habis pikir bahwa mereka bisa begitu bebas dan berani melakukan tindakan diluar nalar orang sepertinya.


Kemudian dengan mata kepalanya sendiri, Arana melihat Alen berdiri dan dengan percaya diri menghampiri wanita yang duduk disofa panjang bersama temannya dan nampak duduk disampingnya, merangkulnya dan mengucapkan kata-kata didekat telinganya dan nampak keduanya secara alami menjangkau untuk saling berciuman.


Ketika semuanya menjadi lebih jauh, Arana menarik pandangannya dan tidak pernah sekalipun menoleh ke arah itu kembali.


"Mari lanjutkan~"


Permainan dilanjutkan. Dalam beberapa kali putaran, Arana tidak pernah tertunjuk, dan Civanya sekali lagi tertunjuk. Namun dia hanya memilih truth dan menjawab sesuai dengan kenyataan yang ada. Dipermainan ini, dewi keberuntungan nampaknya sedang tidak berpihak pada Arana, ketika tutup botol mengarah kepadanya.


"Truth or Dare, Na?" Tanya Maudy.

__ADS_1


"Dare."


"Kalau begitu, habiskan minumanmu, minuman Civa, dan minumanku sekaligus." Tantang Maudy. "Tentu saja kamu akan berhasil, kamu biasanya bisa menghabiskan satu botol minuman keras sendirian, kan~"


Hati Arana berdetak lebih cepat. Dia sekalipun tidak pernah menyentuh alkohol dan dia tidak tahu seberapa toleran tubuhnya terhadap alkohol. Bagaimana jika dia mabuk dan menceritakan semua rahasianya kepada mereka? Tentang identitasnya?


Arana menimangnya selama beberapa waktu, sebelum dengan mengeratkan giginya meraih gelas didepannya dan mengenggak cairan kebiruan itu dengan sekali tegukan. Rasa panas yang terasa membakar lidah dan tenggorokannya. Air mata tercipta disudut matanya yang memerah, dan hidungnya terasa panas. Arana menarik napas dan mengambil gelas Civa dan melakukan hal yang sama, menahannya bahkan pada gelas Maudy.


Rasa pusing mendera kepalanya, dan maniknya berkunang-kunang dalam sekejab.


"Wow! Seperti yang kamu katakan, dia memang hebat1"


"Gadis yang pemberani!"


"Oh, lanjutkan, lanjutkan!"


Civanya menjadi satu-satunya yang memperhatikan keanehan Arana dan mengulurkan tangannya untuk menyadarkan Arana. "Na, kamu baik-baik saja?"


Arana bangkit berdiri. "Aku akan kekamar mandi."


Civanya menyusulnya, "Perlu aku temani?"


"Eh, tidak boleh kabur dari permainan, duduklah." Perintah Leva membuat CIvanya memandang bolak balik ke Arana dan Leva sebelum duduk kembali ketika melihat Arana mengibaskan tangannya yang menandakan bahwa dia tidak perlu ditemani.


Arana kemudian dengan hati-hati berjalan menuju kamar mandi. Lorong panjang dipenuhi dengan aroma wewangian dan kamar-kamar kedap suara yang memang menjadi tempat dimana pasangan yang bukan suami istri dapat melakukan tindakan tidak senonoh mereka. Arana mengikuti tanda menuju kamar mandi dan menemukan pintu disudut. Ia membuka pintu, melangkah menuju wastafel dan dengan cepat mencuci wajahnya.


Air dingin tidak membuat keadaannya membaik, namun panas ditubuhnya semakin dan semakin menjadi.

__ADS_1


"Ugh!" ringisnya tidak nyaman.


Tubuhnya melemas, dan rasa pening menyambar kepalanya semakin dalam. Panas ditubuhnya menyebar dari perutnya keseluruh tubuhnya, dan membuatnya tidak bisa menahan untuk tidak melengguh tidak nyaman.


Apakah ada yang salah dengan minumannya?


Mengapa tubuhnya begitu aneh dan tidak nyaman?


Arana keluar dari kamar mandi, hendak menghampiri CIvanya untuk mengantarkannya pulang, Namun ditengah jalan, sebuah pintu terbuka dan seorang pria muda tanpa atasan melangkah keluar dengan ekspresi gelap. "Oh! Itu kau? Mengapa kau sangat lama, sialan?!"


Tanpa aba-aba dia menarik Arana melangkah masuk kedalam dan mengunci pintu setelah melemperkan Arana keranjang ruangan itu.


"Sudah hampir setengah jam aku menunggu dan kau bahkan tidak merasa bersalah? Segera berlututlah dan jilat kakiku!" raungnya.


Arana memandangnya dengan mata berkilat tajam, menahan kesadarannya. "Kau ... salah, salah orang."


Dia bukan pekerja disini, namun pria itu salah paham kepadanya dan menganggapnya sebagai salah satu pe*cur diclub itu.


Pria itu memandang tajam dan tidak puas pada Arana sebelum dengan tegas merobek pakaiannya. Arana terkejut luar biasa, dan mendapati kemejanya terobek dan menampilkan jelas baju dalamnya. Arana menampar pria itu dan menutup dadanya. "Kubilang kau salah orang!"


Plak!


Yang Arana rasakan selanjutnya adalah rasa panas yang menjalar dipipi kirinya. Pandangannya memburam, berkunang-kunang dan telinganya berdenging keras. Dia telah ditampar, dan terbaring miring diatas tempat tidur dalam keadaan linglung.


"Sialan, beraninya wanita rendahan sepertimu menamparku." Desis pria itu. "Pekerjaanmu hanyalah melayani dan layani aku dengan benar!"


Arana melihatnya merangkak keatasnya, dan mencengkram wajahnya untuk menciumnya. Dengan tenaganya, Arana mendorongnya kesamping dan hendak kabur ketika kakinya tertangkap dan dia jatuh kebawah. Kepalanya menghantam lantai dan dia semakin pusing.

__ADS_1


Wajah pria itu menggelap, dan dia melepaskan ikat pinggangnya dengan wajah dingin. "Kau yang menantangku, pe*acur sialan!"



__ADS_2