
Arana melihat keterkejutan Asrleyne dan menyadari kesalahpahaman yang dia ciptakan. Ia segera menjelaskan. "No, no. Don't get me wrong. I don't work, I just help my grandmother deliver porridge to my grandmother's friend who is sick || Tidak, tidak. Jangan salah sangka. Aku tidak bekerja, aku hanya membantu nenekku mengantarkan bubur untuk teman nenekku yang sakit."
Arselyne mengangguk paham setelahnya, dan merasa sedikit malu.
Keduanya berjalan selama beberapa waktu sebelum suara Amber terdengar ditelinga Arselyne. "Arse!!"
Dalam sekejab, dia ditarik kebelakang tubuh Amber. Amber memandang Arana dengan tatapan bermusuhan dan bertanya dengan kejam. "What did you do to be with my brother until he cries?! || Apa yang kau lakukan sampai bisa bersama dengan adikku sampai dia menangis?!"
Adik apa?
Arselyne melirik Arana dan menemukan anak perempuan itu memiringkan kepalanya sedikit sebelum tersenyum ramah. "Your brother was lost, so I helped him. I really didn't do anything to make him cry || Adikmu tadi tersesat, jadi aku membantunya. Aku benar-benar tidak melakukan apapun yang bisa membuatnya menangis."
Menilai penampilan Arana, Amber memutuskan bahwa Arana benar-benar mengatakan kejujuran. Ia menoleh pada Arselyne yang menggelengkan kepalanya, tanda bahwa Arana bukanlah orang jahat. Amber menghela napas, berkacak pinggang, menyunggingkan senyuman dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"My name is Amber, and I am her older sister. Actually not a real brother anyway, we're friends. Sorry for accusing you earlier, I really can't imagine if he disappeared. I'm sure auntie will scold and lecture me 40 days and 40 nights! || Namaku Amber, dan aku adalah kakak perempuannya. Sebenarnya bukan kakak sungguhan sih, kami bersahabat. Maaf sudah menuduhmu tadi, aku benar-benar tidak bisa membayangkan jika dia menghilang. Aku yakin bibi akan memarahi dan menceramahiku 40 hari 40 malam!" Kata Amber panjang kali lebar.
Mendengarnya, Arana menyunggingkan senyuman dan membalas uluran tangan Amber. "My name is Arana, nice too meet you || Namaku Arana, senang bertemu denganmu."
...***...
Memandang pintu apartemen Arana, Arselyne dengan tenang menekan bel. Sesaat kemudian, pintu terbuka dari dalam ketika Arana membuka pintu dari dalam. Arselyne memandangnya dengan tanpa ekspresi, sementara Arana memandangnya dengan tidak berdaya dan rasa bersalah yang tidak bisa disembunyikan.
"Um, masuklah."
Ketiganya melangkah masuk. Amber duduk disebelah Arana dan Arselyne duduk disofa tunggal.
"Kalian ingin minum apa? Aku akan membuatkanya."
Amber hendak menjawab ingin minum es lemon ketika Arselyne terlebih dahulu menyela ucapannya. "Aku disini tidak untuk minta minum, Arana. Aku ingin mendengar penjelasanmu."
Arana meneguk ludahnya dengan kasar, dan ia meremat kedua tangannya yang ia letakkan diatas pahanya. Arana benar-benar tidak tahu ingin memulainya dari mana, dia kebingungan dan kecemasan tergambar nyata diwajahnya.
__ADS_1
Pada akhirnya, dia mulai berkata, "Sudah cukup lama sejak orangtuaku datang menjemputku. Mereka menemui Amber dan menanyakan keberadaanku, kemudian Amber mengantar mereka ke caffe tempatku bekerja."
"Awalnya aku senang, karena kupikir mereka akan kembali untukku. Sampai mereka memintaku untuk menikah menggantikan Alana. Mereka mengatakan Alana tidak mencintai Alva, dan mereka tidak bisa memaksa Alana untuk menikah dengan seseorang yang tidak dia cintai." Lanjutnya dengan suara yang lebih pelan.
Tangan Arselyne terkepal. Baru mendengar awal ceritanya saja sudah membuat Arselyne gemetar karena amarah. Orangtua apa yang mendatangi anaknya setelah membuangnya hanya untuk menyuruhnya menikah menggantikan saudari kembarnya yang mereka manjakan dan mereka sayangi? Arselyne benar-benar mempertanyakan kewarasan mereka.
"Aku sempat ragu, namun aku terbawa emosiku dan menerima pernikahan itu, karena kupikir, setidaknya itu yang bisa kutunjukkan sebagai rasa terimakasihku pada mereka karena sudah melahirkanku." Kata Arana.
Arsleyne mencibir dengan dingin. "Rasa terimakasih? Setelah mereka membuangmu? Bukankah sudah kukatakan berkali-kali jika kamu bodoh ketika kamu memikirkan hal seperti itu?"
Arana tidak bisa membantah ucapan Arselyne dan mengangguk dengan lemah. "Aku tahu, Ly. Aku tahu. Namun itu sudah terlambat."
"Kemudian aku mengikuti mereka, mengubah penampilanku dan menikah dengan Alva. Mereka mengatakan hanya sementara, dan aku bisa menceraikannya setelah perusahaan papa lebih stabil bekerja sama dengan perusahaan Alva."
Arselyne menatap marah Arana. "Lihat, bahkan bayi sekalipun tahu bahwa mereka berdua menjualmu. Mereka hanya menyayangi putri tunggal mereka dan tidak ingin putri mereka menjadi jaminan untuk membuat perusahaan mereka menjadi lebih kaya. Dan kamu .. jika kamu masih berharap bahwa mereka akan melihatmu sebagai putri mereka, jangan pernah menyebutku sahabat lagi."
"Ly, aku juga memiliki perasaan. Hatiku sakit ketika didepan mataku mereka memanjakan Alana, padahal kami kembar. Aku selalu memikirkannya, apa yang membuat kami berbeda. Aku tahu bahwa aku naif, namun aku juga menyadari bahwa hatiku terlalu sakit, Ly. Aku bukan Arana yang lemah, aku sudah selalu mencoba menguatkan diriku sendiri."
Arana memandang Arselyne dengan manik memerah. "Aku tidak bisa memungkiri bahwa didalam diriku, aku adalah anak-anak yang mendambakan kasih sayang, aku kesepian, aku menginginkan cinta dan perhatian untuk diriku juga. Tidak masalah jika itu dibagi, namun aku juga ingin merasakannya. Itu karena aku memiliki kejujuran dalam diriku sendiri."
Arselyne mendengarkan perkataan Arana sampai ia menghela napasnya dengan kasar, menyandarkan punggungnya disandaran sofa sembari menyilangkan tangannya didepan dada.
"Lalu bagaimana?"
Arselyne memandangnya. "Kapan kalian akan bercerai? Kapan perusahaannya bisa seimbang dengan perusahaan Alva? Aku bukan pria bodoh yang tidak tahu apa-apa, Na. Perusahaan pria itu sudah dikenali sampai keseluruh dunia dengan kekayaan yang luar biasa. Dia adalah seseorang yang sama kayanya dengan satu keluarga kerajaan Inggris jika kekayaan mereka digabungkan."
"Dan bagaimana jika kamu ketahuan? Aku bahkan bisa mengenalimu dalam sekali pandang bahkan jika kalian berdua berdiri berdampingan dengan penampilan yang sama persis. Apa menurutmu dia akan membiarkan masalah ini berakhir dengan sederhana?" Lanjutnya dengan lebih keras.
Arana diam, tidak bisa berkata-kata selama beberapa waktu sebelum menggelengkan kepalanya dengan lemah.
Arana memang tidak pernah memikirkan konsekuensi yang akan diterimanya. Namun dia tahu, bahwa Alva akan merasakan kekecewaan yang besar dan akan membencinya. Arana meremat kedua tangannya diatas pahanya dan dengan samar menggigit bibirnya. Dia tidak ingin dibenci. Dia tidak ingin Alva memandangnya dengan kebencian.
__ADS_1
"Lihat, kenapa kamu diam?"
Melihat bahwa Arana semakin didesak dan hampir putus asa, Amber memandang Arselyne dan berkata, "Already Ly. Since earlier you have been talking as if Arana is the most guilty here. Arana also didn't expect it to happen like this. Don't keep pushing it || Sudah Ly. Sejak tadi kamu berbicara seolah Arana yang paling bersalah disini. Arana juga tidak menyangka kejadiannya akan terjadi seperti ini. Jangan terus mendesaknya."
"You also joined the plan, right? || Kamu juga bergabung dengan rencananya, bukan?" Arselyne mengalihkan kekecewaan dan kemarahannya pada Amber. "Do you think I'm still a seven year old kid who can't do anything without you guys and doesn't understand anything until you guys even cover this matter from me? || Apa kamu pikir aku masih anak tujuh tahun yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa kalian dan tidak mengerti apapun sampai kalian bahkan menutupi masalah ini dariku?"
Amber mengerutkan keningnya. "We didn't really mean to hide it, Ly. We just don't want you to worry and disturb your concentration on your project, because we know how much you hope for it! || Kami tidak benar-benar bermaksud menyembunyikannya, Ly. Kami hanya tidak ingin kamu khawatir dan mengganggu konsentrasimu pada proyekmu, karena kami tahu seberapa besar harapanmu pada proyek itu!"
"No need to carry around project names. Amber, tell me, am I really not needed in our friendship? That much you don't believe me? || Tidak perlu membawa-bawa nama proyek. Amber, katakan, apa aku benar-benar tidak dibutuhkan dalam persahabatan kita? Sebegitu kalian tidak percaya padaku?"
Amber semakin terpancing. "What?! Why do you say such unimportant things? Stop being childish and try to understand Arana's situation! If you want to see from another perspective, you will know that Arana is not completely wrong. Well, he was indeed guilty of being unable to control his emotions and so easily agreed to the marriage. But you won't be able to understand her feelings, how can she be that strong and accept this marriage, replacing her twin sister || Apa sih?! Kenapa kamu justru mengatakan hal-hal tidak penting seperti itu? Berhentilah bersikap kekanakan dan cobalah untuk mengerti keadaan Arana! Jika kamu mau melihat dari sudut pandang lain, kamu akan tahu bahwa Arana tidak sepenuhnya salah. Baik, dia memang bersalah karena tidak bisa mengatur emosi dan dengan mudahnya menyetujui pernikahan itu. Namun kamu tidak akan bisa mengerti perasaannya, bagaimana dia bisa sekuat itu dan menerima pernikahan ini, menggantikan saudara kembarnya."
"Try to understand the situation || Cobalah untuk mengerti keadaannya."
Arselyne menatap Arana yang sejak tadi mencoba menahan air mata yang menggenang disepasang maniknya. "Na, tinggalkan tempat ini sekarang juga. Kembali ke Melbourne sekarang juga bersama kami atau aku tidak akan pernah peduli lagi dengan urusanmu."
"Arselyne!" Sentakan Amber terdengar bersahutan dengan sentakan Arselyne.
"Diam Amber!"
"Since earlier I really restrained myself from overdoing it, Arse. But your behavior has gone too far! || Sejak tadi aku benar-benar menahan diriku untuk tidak berlebihan, Arse. Tapi tingkahmu sudah keterlaluan!"
Arana memandang keduanya yang sedang berceko-cok, dan ia memejamkan mata ketika air matanya mengalir begitu saja. Ia dengan samar mengahpus air matanya sembari memijit pangkal hidungnya dengan kedua telapak tangan yang disatukan dan mencoba menenangkan dirinya.
"Stop acting childish Arse!! You always do it when you can't understand something, and you're always whining and blabbering!! || Berhenti besikap kekanakan Arse!! Kau selalu melakukannya ketika kau tidak bisa memahami sesuatu, dan kau selalu merengek dan mengoceh!!"
Amber selalu memberikan nama panggilan kepada seseorang yang dekat dengannya sejak dia menginjak bangku sekolah menengah pertama. Hanya sedikit yang tahu, bahwa jika Amber sudah memanggil seseorang yang dekat dengannya menggunakan nama aslinya, itu berarti Amber marah padanya, dan kemarahannya bukan yang sederhana.
"Aku mohon hentikan." Lirih Arana tenggelam dalam suara pertengkaran Amber dan Arselyne.
__ADS_1