My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 136: Stay At Arletta House


__ADS_3

Setelah seminggu tinggal di Melbourne, Arana dan Alva sudah bersiap-siap untuk kembali. Arselyne sudah kembali ke Belanda terlebih dulu karena kesibukan yang dimilikinya. Acara berpamitan antara Arana dan Cella berakhir dramatis ketika wanita yang usianya menginjak angka 40 tahunan itu menangis bombay dengan gayanya yang seakan dia adalah korban perselingkuhan dan korban perundungan hanya karena tidak ingin berpisah dari Arana.


"Lelah sekali."


Arana menjatuhkan dirinya ketempat tidur diapartemen keduanya. Arana meregangkan otot-otot tubuhnya sebelum dengan tenang membuka matanya dan melirik Alva yang tengah memandangi ponselnya. Nampak berkirim pesan dengan seseorang.


"Mengabari Erlan, ya?"


Alva menoleh, menggeleng dan tersenyum. "Iya, dia sudah menerorku dan menyuruhku berangkat ke perusahaan besok."


Arana meringis merasa bersalah. "Sepertinya aku harus meminta maaf lagi kepada Erlan karena harus merepotkannya. Padahal dia pasti ingin menghabiskan waktu dengan kekasihnya, namun jadi tidak bisa karena pekerjaan."


"Erlan punya kekasih?"


Arana mengangguk. "Iya, saat aku pergi bersama dengan Aki ke taman hiburan waktu itu, aku berpapasan dengan Erlan. DIa memperkenalkan kekasihnya, dan kekasihnya juga karyawan ditempatmu bekerja, Al."


Alva menaikkan alisnya. "Benarkah? Sepertinya aku harus menanyakannya secara langsung kepada Erlan. Bagaimana mungkin aku tidak tahu bahwa sahabatku memiliki kekasih? Aku mungkin harus memberikan ucapan selamat karena dia akhirnya memiliki kekasih setelah bertahun-tahun menjomblo."


Arana tertawa pelan sebelum mengambil ponselnya dan mengabari Civanya bahwa dia sudah kembali ke Indonesia setelah gadis itu banyak menanyakan keadaan dan kabarnya. Arana membalas dengan sedikit kebohongan bahwa dia memiliki urusan mendadak di luar negeri, dan secara kebetulan setelah masalah selesai, Arana dan Alva mengambil waktu untuk berlibur selama lebih dari satu minggu untuk merefreshkan pikiran dari beban kerja dan beban kuliah selama ini.


Untungnya Civanya tidak menanyakan masalahnya dan dengan semangat mengucapkan selamat atas liburan yang dianggap Civanya sebagai sebuah bulan madu.


"Minggu depan, ayo menginap dirumah mama. Apa kamu mau?"


Arana segera menoleh. "Menginap dirumah mama?"


"Iya. Mama bilang papa akan pergi keluar kota selama beberapa hari dan dia akan kesepian. Meski ada pembantu, mama pasti masih akan merasa sepi. Bagaimana jika kita menginap beberapa hari untuk menemani mama? Lagipula, perusahaan dan rumah mama tidak jauh."


Arana dengan sangat setuju menganggukkan kepalanya. "Aku mau. Aku juga bisa mengambil kelas online jadi aku bisa tetap berada dirumah dan menemani mama saat kamu bekerja."


"Baiklah, kalau begitu sudah diputuskan kita akan menginap dirumah mama minggu depan." Alva tiba-tiba menghela napas penuh kelegaan dan rasa puas. "Aku pasti akan bergegas pulang karena masakan istri dan mamaku pasti akan menjadi masakan paling lezat didunia."


Arana dengan malu meringis. "Apa, sih?"


Meski hatinya berbinar penuh dengan kebahagiaan.


...***...

__ADS_1


Satu minggu berlalu tanpa terasa. Arana menghabiskan satu minggunya dengan tenang. Dia mengurus Alva sebelum berangkat seperti biasanya, mengurus apartemen, berangkat kuliah seperti biasanya, dan dia juga mendesain untuk Karina. Hari-harinya dilalui dengan tenang sampai tiba hari ini, dimana dia akan menginap bersama dengan Alva dirumah Arletta.


"Sudah siap, sayang?"


Arana dengan senyuman menganggukkan kepalanya. Beberapa waktu lalu Arana masih merasa tubuhnya seperti biasa, namun setelah menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa kerumah sang mertua, Arana merasa lelah tanpa sebab. Tubuhnya sedikit lemas namun bukan sampai titik dimana dia bisa menganggap dirinya sakit.


"Apa karena aku belum makan, ya?" Batin Arana.


Keduanya sarapan selama beberapa waktu sebelum berangkat menuju rumah orangtua Alva yang memang cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Membawa lambhorgininya membelah jalanan, Alva dengan tenang mengobrol sesekali bersama dengan Arana sebelum ia menghentikan mobilnya ditepi jalan.


"Kenapa, Al?"


Alva tersenyum. "Tunggu sebentar ya, sayang. Aku akan membeli sesuatu."


Arana berkedip bingung sebelum tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan tenang. Mendapatkan respon dari Arana, Alva meraih dompetnya dan dengan tenang melangkah keluar mobil untuk menyebrang jalan dan berhenti di stand penjual makanan dipinggir jalan. 20 menit kemudian, Alva kembali ke mobil.


"Apa yang kamu beli, Al?"


Alva segera membuka bungkusan ditangannya dan mengeluarkan dua bungkusan yang diletakkan diwadah stereofoam. Aroma pedas menguar diudara yang membuat Arana merasa perutnya bergejolak. Ia memandang ceker ayam yang dibumbui pedas dan juga pentol yang dimasak dengan bumbu cabai. "Kelihatan enak sekali!"


Berkata demikian, Alva mengambil sarung tangan plastik yang disediakan dan mengambil satu buah ceker ayam berukuran sedang tanpa tulang itu dan mengarahkannya kemulut Arana. Arana dengan riang hati membuka mulutnya dan menerima suapan Alva yang penuh dengan perhatian dan penuh dengan kehati-hatian itu. "Enak!"


Alva menyunggingkan senyuman dan menyuap untuk dirinya sendiri. Keduanya makan dengan Alva yang menyuapi dirinya sendiri dan menyuapi Arana, tidak ingin Arana kesulitan memakai sarung tangan plastik. Setelah selesai makan, Alva mengeluarkan sebotol yogurt stroberi dan memberikannya kepada Arana. Arana menyesap dengan senyuman sebelum mengembalikkannya kepada Alva yang juga menenggak minuman itu hingga tandas.


Setelah puas menikmati jajanan, Arana dan Alva kembali mengendarai mobilnya menuju kerumah sang mama.


30 menit kemudian, Arana dan Alva sampai di depan gerbang sebuah rumah besar bertingkat dua. Arana melangkah turun bersama Alva dan segera melihat Arletta berdiri didepan pintu, menyambut mereka dengan senyuman hangat. Arana dan Alva menghampiri Arletta.


"Ma." Alva memeluk Arletta dan menyapa selama beberapa saat sebelum melepaskan Arletta dan membiarkan Arletta gantian memeluk Arana, menyapanya.


"Ma, gimana kabarnya?"


Arletta tersenyum dan menarik diri dari pelukan Arana, namun tangannya masih menggenggam kedua tangan Arana dengan lembut. "Kabar mama baik, sama halnya dengan papa. Terimakasih sudah perhatian dengan mama dan papa, Na."


Arana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Puji Tuhan kalau mama dan papa baik-baik saja."


Arletta tersenyum dan mengusap lembut kepala Arana dan menyunggingkan senyuman keibuan. Arana menatap Arletta dan merasakan perasaan sedih dan haru membuncah didadanya. Matanya memerah. Arana merasa ingin menangis detik itu juga karena tatapan lembut dan teduh Arletta, amat mirip dengan tatapan sang nenek.

__ADS_1


"Nana kenapa?"


Arletta menyadari perubahan ekspresi Arana yang membuat Arletta bertanya karena merasa khawatir. Arana menunduk, mengusap sudut matanya yang basah dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, ma. Nana tidak apa-apa."


"Jangan bohong. Katakan, apa Alva menyakitimu? Jika iya, katakan saja. Biar mama yang memarahi Alva dan menghukumnya."


Arana menggelengkan kepalanya dan memandang Arletta ragu. "Mama, Nana boleh minta peluk lagi?"


Alva tidak mengerti dengan polah istrinya. Namun melihat Arana tersenyum riang ketika Arletta tersenyum dan merentangkan tangannya untuk menyambut Arana membuat Alva juga tidak bisa menahan senyuman. Alva bahagia sekali jika bisa melihat senyuman dan tawa istri tercintanya.


Arana.


"Ya sudah, ayo masuk."


Arana menarik diri dari pelukan Arletta dan menganggukkan kepalanya begitu juga dengan Alva. Merangkul lengan Arana, Arletta menuntun gadis itu memasuki rumahnya. Arana terpukau dengan desain bangunan rumah orangtua Alva yang megah. Dengan sentuhan gaya modern dan campuran gaya kalsik, rumah itu dipenuhi nuansa warna cream dan putih yang lembut.


Arletta membawa Arana menuju kamar. Bukan kamar tamu, namun kamar yang juga menjadi kamar utama dirumah itu. Jendela besar disisi kamar menjadi akses untuk melihat pemandangan kebun yang ada dihalaman depan rumah, dan cahaya matahari berpendar hangat masuk melalui kaca semi hitam itu. Yang membuat Arana kagum adalah, bahkan foto pernikahannya dengan Alva terpasang apik diatas kepala ranjang, persis yang ada di apartemen Alva.


"Ini kamar kamu dan Alva dirumah ini."


Arana melihat Arletta dan menganggukkan kepalanya dengan senyuman penuh syukur. "Makasih, ma."


"Sama-sama sayang."


"Mama, Alva mau pancake yang biasa mama masak saat Alva masih kecil." Ucapan Alva yang tiba-tiba membuat Arletta menaikkan alisnya dengan bingung.


"Tiba-tiba sekali, nak? Ada apa?"


Alva tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Hanya rindu, ma. Alva jadi ingin makan pancake buatan mama. Buatkan ya, ma?"


"Tentu, mama akan buatkan, nak." Arletta tersenyum, "Sekalian mama bisa mengajari Arana membuat makanan kesukaan Alva saat Alva masih kecil."


Arana segera mengangguk dengan antusias. "Arana mau ma! Mau belajar bikin pancake."


"Nah, makan siang nanti ayo bikin pancake~"


__ADS_1


__ADS_2