
Keadaan Arana bisa dibilang cukup parah. Darah mengalir dari kepalanya ketika dia pertama kali dibawa ke rumah sakit oleh mobil ambulance. Meski dia masih terjaga, namun kesadarannya sangat tipis, dan pada akhirnya pingsan di dalam mobil.
Saksi mata mengatakan bahwa ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya ketika Arana tengah menyebrang. Orang-orang tahu bahwa mobil itu yang salah karena melanggar lampu merah, dan menyebabkan kecelakaan terjadi. Bahkan parahnya, Arana menjadi korban tabrak lari karena pengendara mobil itu melarikan diri tepat setelah Arana terlempar beberapa meter dari tempatnya.
Alva berlari menuju ruang IGD seperti yang dikatakan oleh resepsionis di depan, yang memberitahunya keberadaan Arana sebagai korban kecelakaan di Jalan Sembilan.
"Hah! Hah!"
Terengah, Alva menemukan sosok dokter dan suster tengah berdiskusi didepan pintu ruang dimana Arana berada. Ia segera menghampiri keduanya. Namun langkahnya melambat dan terhenti ketika dari celah tirai yang terbuka, dia mampu melihat keadaan Arana dari balik kaca bening yang membatasinya ini. Itu adalah Arana.
Jantung Alva yang berdetak cepat karena panik dan sehabis berlari, bertambah cepat ketika melihat keadaan Arana yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit sementara seorang perawat membersihkan darahnya. Wajah pucarnya terpampang jelas di penglihatannya. Alva merasakan rasa sakit dan sesak didadanya.
"Permisi, apakah Anda keluarga pasien yang ada didalam? Korban kecelakaan di Jalan Sembilan?" Suara sang Dokter membuat Alva menoleh. Dia bertanya dengan panik kepada pria itu. "Dokter! Bagaimana keadaan istri, saya? Dia baik-baik saja, kan? Tidak akan terjadi apapun padanya, kan?!"
"Kami sudah melakukan tindakan pertolongan pertama kepada pasien. Pendarahan dikepalanya sudah berhasil dihentikan. Selanjutnya kami akan melakukan pengecekan secara menyeluruh untuk memastikan keadaan korban baik. Jika kami menemukan sesuatu yang berbahaya, kami memerlukan izin keluarga pasien untuk melakukan operasi darurat, hanya jika diperlukan." Ucap Dokter menjelaskan.
Alva berkata tanpa keraguan. "Apapun! Lakukan apapun untuk menyelamatkan istri saya. "
...***...
20 menit kemudian, Lidia datang ke rumah sakit bersama dengan Juan dan Delita—Ibu Juan yang juga adalah adik dari Lidia. Ketiganya datang dengan sedikit terburu, dan ketika Lidia melihat Alva, wajahnya menampilkan kecemasan. "Alva!"
"Alva, bagaimana keadaan Alana? Apakah dia baik-baik saja?" Pertanyaan itu membuat Alva bangkit berdiri.
Dengan suara beratnya, Alva menjawab pertanyaan dari Lidia. "Dokter sudah menanganinya, ma. Mama tidak perlu khawatir."
Meski berkata begitu, dalam hati Alva tidak yakin apakah wanita didepannya ini benar-benar menangis untuk gadisnya—Arana, yang tengah terbaring di dalam, dan tengah dalam pemeriksaan Dokter. Bagaimanapun, seorang Ibu yang tega menelantarkan putrinya begitu saja tanpa memperdulikannya bahkan ketika tahu bahwa dia seharusnya menjadi tanggungjawabnya, apakah peduli dengan keadaan Arana saat ini?
__ADS_1
Jika bukan karena sekarang ada dirinya dan orang yang dikenalnya, Alva tidak yakin Lidia akan menangis seperti sekarang.
Aktingnya begitu meyakinkan bagi Alva.
Meskipun ketidaksukaannya kental dibenaknya, Alva hanya bisa diam-diam menelan kebenciannya dan memilih duduk kembali dalam diam dan kekhawatiran. Memilih mengabaikan momen drama dimana Lidia sedang ditenangkan oleh Delita. Maniknya menatap lantai yang dingin, hampir sama dinginnya dengan pandangannya. Dadanya bergemuruh mengingat wajah Arana yang pucat.
Kedua tangannya saling tertaut dan terkepal didepan bibirnya yang hanya menampilkan garis padat.
Alva akan mencari dan menemukam bed*bah yang telah mencelakai Arana dan membalasnya. Berani-beraninya melarikan diri setelah membuat Arana terluka seperti itu.
"Tidak bisa dimaafkan." Gumamnya dengan aura dingin.
"Cobalah untuk lebih tenang, kak. Kakakku sudah menyelidiki masalah ini."
Manik Alva bergeser, menemukan Juan telah duduk di sampingnya. Pemuda itu duduk dengan kaki bersilang, meski nampak tenang, sebenarnya dia juga khawatir dan cemas dengan keadaan Arana. Dia tengah ikut Ibunya berkunjung ke rumah Michael menemui Lidia ketika bibinya itu mendapat panggilan telpon yang mengatakan bahwa seorang pasien bernama Alana masuk rumah sakit karena mengalami kecelakaan.
Kakak Juan adalah seorang polisi. Mendengar Juan mengatakan hal demikian, Alva menganggukkan kepalanya. "Ya."
Walaupun sebenarnya dia tidak begitu yakin apakah antara orang kepercayaannya dan kepolisian, polisilah yang akan lebih dahulu menemukan pelakunya.
Walaupun Juan berkata demikian, Alva tetap akan menyuruh seseorang menyelidiki masalah ini. Mengingat bahwa Alana adalah biang masalah, Alva ingin memastikan apakah benar masalah ini berhubungan dengan Alana atau tidak. Jika benar berhubungan, Alva bersumpah akan menghancurkan gadis itu tanpa sedikitpun rasa ampun. Dan jika bukan, heh, Alva mungkin akan mempertimbangkan untuk menghancurkan hidupnya saja tanpa membuatnya seperti hidup dineraka.
Jika orang lain bisa membaca pikiran Alva, mungkin mereka akan gemetar ketakutan karena bayangan gilanya yang seperti seorang psikopat.
Cklek!
Pintu yang terbuka mengalihkan atensi mereka. Melijat Dokter keluar dari ruangan Arana, Alva segera bangkit berdiri. "Bagaimana keadannya, Dok?!"
__ADS_1
"Iya, Dok! Bagaimana keadaan putri saya? Apakah dia baik-baik saja? Dia tidak terluka parah kan?!" Cecar Lidia dengan pertanyaan yang membabibuta.
Dokter itu menurunkan maskernya dan menyunggingkan senyuman. "Mohon tenang, Pak, Bu. Setelah pengecekan, Istri Anda tidak menderita luka yang bisa mengancam nyawanya. Istri bapak hanya menderita beberapa luka ringan ditubuh bagian atasnya. Namun tulang dikakinya mengalami keretakan."
"Apakah kakinya bisa sembuh, Dok?" Lidia menyela penjelasan sang Dokter.
Dokter itu mengangguk. "Bisa, namun masa penyembuhannya bisa memakan waktu berminggu-minggu, begitupun masa pemulihannya, sampai tulangnya kembali normal."
"Sebaiknya pola makan pasien dijaga dengan makanan yang banyak mengandung kalsium."
"Satu lagi, pasien masih harus menjalani pengecekan rutin setelah diizinkan keluar. Jadi, jangan lupa untuk membawa pasien kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan." Lanjutnya membuat Alva mengangguk paham.
"Terimakasih, Dok. Lalu, apakah sudah bisa masuk?"
Dokter itu membalas, "Pasien harus dipindahkan dulu ke ruang perawatan. Setelahnya, baru keluarga bisa menunggu pasien. Namun, usahakan tidak terlalu banyak orang, atay istirahat pasien bisa terganggu."
Alva tidak mengatakan apapun, hanya menganggukkan kepalanya. Bahkan ketika Lidia meraih tangannya, "Alva, tidak terjadi apapun pada Alana. Dia tidak kenapa-kenapa. Meski—Meski kakinya terluka, Alana tidak apa-apa. Dia bisa sembuh."
Apa wanita didepannya ini khawatir bahwa dia akan menceraikan putrinya jika Arana sampai mengalami luka serius ditubuhnya? Apakah dia benar-benar mencemaskan Arana, bukan nasib perusahaannya jika dia menceraikan Arana?
Benar-benar!!
Dia bersumpah akan membuat orang itu membayar harga yang sama dengan yang dialami oleh Arana.
Gigi diganti gigi, mata diganti mata, dan tulang diganti tulang. Mungkin itu terdengar buruk, namun, itu adalah prinsip yang diyakininya selama ini.
Jika tidak ingin diperlakukan sama, maka jangan pernah mengusik kehidupan Alva dan apa yang menjadi kepunyaannya.
__ADS_1