
Arana memejamkan matanya, refleks ketika dia sudah benar-benar terpojok dan tak bisa melakukan apapun ketika pisau itu hendak mengenainya. Arana hampir berpikir bahwa ternyata rasanya ditusuk pisau itu sama sekali tidak terasa, ketika telinganya mendengar suara debuman keras.
"Arana!"
Membuka matanya, Arana melihat Olivia telah pingsan. Berbaring dilantai dingin hotel yang berwarna latte dengan posisi yang terlihat menyakitkan. Nampaknya, Amber telah melayangkan serangan yang mematikan. Bukan dalam maksud kematian, namun benar-benar langsung bisa melumpuhkan. Arana tidak akan heran. Amber adalah pemegang sabuk hitam dalam taekwondo, dan kemenangannya di semua pertandingan taekwondo yang dia ikuti selalu medali emas. Melumpuhkan perempuan, adalah hal mudah bagi Amber. Meskipun Arana berlatih dibawah bimbingan Amber untuk membela dirinya, perempuan ini mengejutkan dirinya. Apalagi, hari ini dia menggunakan gaun panjang yang menyulitkan pergerakannya.
Amber membantu Arana berdiri. "Kamu baik-baik saja?!"
"Tidak ada yang terluka, kan?"
Arana menggelengkan kepalanya dan tersenyum lemah. "Terimakasih, Amber. Aku benar-benar berpikir akan menderita luka menyakitkan jika kamu tidak datang menyelamatkanku."
Amber segera melotot. "Aku merasakan keanehanmu dan mengikutimu. Aku sempat tersesat disana, namun aku menemukan gadis ini mencoba menyerangmu. Sebenarnya, siapa dia?"
__ADS_1
Arana menggelengkan kepalanya dan mendesah lelah. "Dia menyebut dirinya Olivia. Dia bilang, Alana membuat wajahnya mengalami luka dan meninggalkan bekas. Dan katanya, mama dan papa, membiarkan masalah berlalu hanya dengan uang tutup mulut. Kupikir, dia dendam karena itu."
Amber menggelengkan kepalanya dengan senyuman takjub. "Wah! Alana ini benar-benar luar biasa! Haha!"
"Sialan! Gadis itu benar-benar gila! Dan keluargamu lebih aneh lagi! Sudah Arana, lupakan masalah ini dan ayo kembali ke Melbourne bersamaku. Aku akan mengurus semua yang ada disini dan memastikan mereka tidak akan bisa menemukanmu lagi!" Pada akhirnya Amber mengumpat dan mengeluarkan kemarahannya.
Baru beberapa hari sahabatnya disini, dan sahabatnya itu hampir mendapatkan luka permanen diwajahnya! Bahkan jika perempuan itu bertindak lebih gila, dia bisa membunuh sahabatnya hanya karena saudari kembar Arana yang benar-benar menyebalkan dan benar-benar tidak berpendidikan itu?!
"Bagaimana mungkin? Aku sudah sejauh ini, tidak bisa menyerah begitu saja. Tidak masalah, aku yakin ini hanya kesalahpahaman saja. Aku akan baik-baik saja." Kata Arana menenangkan Amber.
Namun Amber memincing. "Tidak masalah jika hanya sekali. Bagaimana jika masih banyak lagi yang dendam pada Alana, namun melampiaskannya kepadamu karena mereka tahu kamu sebagai Alana? Aku tidak ingin kamu terluka. Bagaimana aku bisa menghadap ke makam nenekmu jika kamu terluka? Siapa yang akan merawat Snowy nantinya? Bagaimana aku menjelaskan semuanya kepada Lily?!"
Arana tahu Amber hanya khawatir, sehingga dia marah-marah seperti itu. Namun semuanya sudah terlanjur terjadi. Alana sudah meninggalkan negeri ini. Dan bahkan dia sudah menikah dengan Alva. Dia tidak bisa begitu saja pergi, dia yakin orangtuanya akan melarangnya dan mengupayakan cara apapun untuk membuatnya tetap disini, menggantikan Alana. Lagipula, bagaimana dia menghindar dari Alva?
__ADS_1
Oke, minggat begitu?
"Dengar, Amber. Kamu tahu aku tidak selemah itu. Ayolah, aku tadi sedikit linglung karena rambutku ditarik. Itu sedikit menyakitkan dan membuat kepalaku pusing. Kamu tahu, meskipun Alana memang menyebalkan dan musuhnya banyak, kupikir tidak semua musuhnya seimplusif Olivia. Setidaknya, maksudku, jika mereka mencoba menggunakan otak, aku selangkah lebih maju dari mereka. Atau aku akan kembali ke sekolah dasar untuk sekolah." Arana membela dirinya.
Amber menghela napasnya. Tidak berdaya. "Aku akan menghubungi seseorang dibawah untuk menangkapnya. Kamu kembalilah keruang istirahat. Aku tahu kamu sedikit terguncang karena kejadian barusan. Itu jelas bukan masalahmu."
"Terima kasih, Amber." Arana menyunggingkan senyuman yang dibalas deheman oleh Amber. Gadis itu kemudian berbalik dan melangkah pergi, menuju ke ruang istirahat yang ada dilorong sebelah kiri.
Membuka pintu bertuliskan ruang istirahat, Arana menemukan sebuah ruangan luas dengan sofa panjang ditengah ruangan. Ada furnitur lengkap, dari televisi, lemari. Disisi ruangan, ada pantry kecil lengkap dengan peralatan memasak, bahkan kulkas berisi bahan masakan. Ruangan itu didominasi oleh warna hitam granit dan putih tulang yang sedikit kontras, namun menawan. Melangkah menuju sofa, Arana membaringkan dirinya dan menumpahkan air matanya.
"Nenek, Rana takut," dia berbisik pada udara kosong. "Sikap Alana, benar-benar diluar perkiraan Rana."
__ADS_1