
"Aku kan sudah bilang lupakan saja." Arana yang kebingungan hanya menjawab seasalnya. Berusaha membuat bahwa dia benar-benar masih marah dan kesal.
Ditengah ketegangan yang hadir, suara ketukan pintu membuat Arana merasa bahwa dia telah diselamatkan. Maniknya berbinar memandang kearah pintu. Dan lebih cerah saat mengetahui siapa yang muncul dari sana.
Erlan!
"Bos, ada—eh?!" Erlan hendak melangkah mendekat ketika dia terkejut saat melihat sosok Arana. Pikirannya berkelana pada siapa yang bertanya padanya di bawah tadi. Oh, pertanyaannya terjawab sudah. Ternyata itu Alana, atau Arana? Wajah Erlan sedikit mendingin ketika melihat Arana.
Dia ingin tahu apa yang ingin dilakukan wanita ini diperusahaan Alva. Mencuri informasi perusahaan atau apa?
Dia tidak menyadari tatapan intens Arana padanya. Oh, Arana sudah merencanakan banyak hal dengan keberadaan Erlan disini. Maaf Erlan, tapi Arana harus mengorbankan waktumu demi kesuksesan rencananya. Arana menoleh, menatap Alva. "Sayang, temani aku jalan-jalan hari ini."
"Maaf bos, tapi anda memiliki berkas yang belum ditandatangani dan harus diselesaikan hari ini." Mendengar perkataan Arana, Erlan segera menyelanya dan memberikan penolakan secara jelas. Tentu saja harus ditolak, perusahaan sedang sibuk, semua orang pontang panting mengurus pekerjaan mereka, dan gadis itu seenaknya mengajak Alva jalan-jalan.
"Aku tidak peduli. Sayang, pokoknya kamu harus menemaniku hari ini!" Rengek Arana.
Sejujurnya dalam hati, Arana ingin menenggelamkan dirinya kedalam bak karena malu merengek seperti bayi.
Arana memandang Alva. Merasa yakin bahwa Alva akan menyetujui ajakan Arana. Karena pria itu sangat mencintai Alva, maka Arana yakin Alva tidak akan menolak. Dan betul saja, pria itu membuka bibirnya kemudian. "Baiklah, aku akan menemanimu Jalan-jalan hari ini."
"Tapi bos!" Sebelum Erlan bisa berkata lebih banyak, tatapan Alva yang tajam membuatnya terbungkam. Erlan menghela napas, namun dalam hati merasa kesal dan merasa sangat dirugikan. Tentu saja, setelah Alva pergi, dia yang akan mengerjakan pekerjaan pria itu. Siapa yang pusing coba?
Alva bangkit berdiri. Merapihkan jasnya dan melangkah mendekati Arana yang sudah berdiri. "Erlan, tolong awasi perusahaan sebentar."
"Baik, bos." Gumam Erlan tertekan.
"Ayo, sayang." Ajak Alva sembari mengulurkan tangannya untuk digandeng Arana. Gadis itu menerima uluran tangan Alva sembari melirik Erlan sekilas saat keduanya melangkah keluar. Merasa bersalah dalam hati. Oh, Erlan yang malang. Arana minta maaf.
__ADS_1
...***...
Melangkah keluar dari lift, Arana dan Alva disambut tatapan-tatapan penasaran dari para karyawan yang bekerja disana. Meskipun tidak berani melihat secara terang-terangan karena ada Alva disana sebagai CEO mereka, namun lirikan mereka membuat Arana merasa sedikit tidak nyaman. Beberapa karyawan wanita yang mengidolakan Alva memandangnya dengan sinis. Nampak menilai dirinya, dimana dari dirinya—sebagai Alana, yang berhasil memikat Alva.
Arana sedikit menatap kebawah, ketika Alva mengeratkan genggaman tangannya. Pria itu tersenyum lembut kearahnya, dan hati Arana berdesir aneh. Ia menatap tangan indah yang menggenggam tangannya dan tak bisa menahan untuk membatin.
"Hangat."
"Kamu ingin jalam-jalan kemana hari ini, sayang?" Pertanyaan itu membuat Arana mendongak, memandang bingung Alva sebelum pikirannya melesat ketempat mana yang harus didatanginya.
"Hmm, kemana saja, asalkan jalan-jalan bersamamu." Ujar Arana membuat Alva tersenyum geli. "Baik, bagaimana dengan jalan-jalan ditaman kota? Aku dengar sedang ada Bazaar makanan disana. Mau mencoba?"
Bazaar makanan?
Arana menoleh dengan cepat dan mengangguk dengan cepat.
Arana sangat suka mengunjungi bazaar makanan karena ada bermacam-macam makanan yang lezat. Selain itu, Arana dengar bahwa uang hasil bazaar akan disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan. Dulu didekat tempat tinggal Arana diadakan bazaar untuk anak-anak disablitas. Arana membeli banyak sekali makanan hari itu, dan pada akhirnya dia membagi-bagikan makanan yang dibelinya kepada anak-anak dipanti asuhan. Yah, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Dia dapat membantu anak-anak disabilitas, dan dia juga bisa membantu anak-anak dipanti asuhan meski hanya dengan sedikit makanan.
...***...
Perjalanan dari perusahaan Alva dan taman kota diadakan cukup jauh. Alva dan Arana harus menempuh perjalanan selama setengah dengan menggunakan mobil. Begitu sampai, Arana langsung dapat mencium bau dari berbagai macam makanan dikios-kios yang didirikan dipinggir jalan utama taman kota. Aparat setempat telah memberikan izin, sehingga ada beberapa petugas keamanan yang terlihat berpatroli disekitar kios-kios, mengawasi jalannya bazaar makanan.
Cahaya matahari yang tidak terlalu terik pada hari mendukung suasana bazaar yang ramai. Semua orang berbondong-bondong mencicipi makanan dan membeli apa yang mereka suka sebelum kembali ke rumah masing-masing. Oh, atau ada yang sekedar duduk-duduk bersama dengan teman atau keluarga untuk mengobrol ditemani jajanan yang telah dibeli.
Arana memandang sekelilingnya. Kebingungan untuk memulai dari mana. Sungguh! Ini pemandangan yang akan membuat para pecinta kuliner jatuh cinta!
"Sayang, mau makan serabi?" Tawaran Alva membuat Arana mengangguk. "Mau!"
__ADS_1
Arana tidak tahu apa itu serabi. Tapi dia pernah melihat di forum sekolahnya dulu, seseorang pernah membahas tentang serabi. Dan Arana merasa penasaran dengan rasa serabi. Membiarkan Alva menggandengnya sampai ke stand serabi, pemuda diseberang segera menyapa dengan ramah. "Selamat datang, kakak! Silakan coba dulu serabinya, jika suka, kakak bisa langsung beli."
"Bolehkah?" Mendengar pertanyaan Arana, pemuda itu mengangguk, mengulurkan sepiring kecil berisi potongan-potongan kecil serabi dari berbagai rasa sebagai tester.
Arana mengambil sepotong dan memasukkannya kedalam mulutnya sebelum maniknya berbinar cerah. Rasanya lembut dan manis! Enak sekali!
"Kami memiliki bermacam rasa serabi, mulai dari serabi kacang, serabi coklat, serabi keju dan lainnya."
Arana menoleh pada Alva. "Aku mau yang coklat dan kacang."
Alva tersenyum dan menoleh kepada pemuda yang menjaga stand itu. "Buatkan sebungkus untuk masing-masing rasa."
Pemuda itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tangannya dengan cekatan meraih wadah berisikan adonan dan menuangkannya kedalam cetakan. Sebelumnya ia telah mengoleskan minyak. Menatapnya dengan penuh perhatian, Arana tidak bisa menahan rasa penasarannya. "Kak, serabi ini terbuat dari apa?"
"Eh, bahannya sederhana, kak. Hanya tepung beras atau bisa juga tepung terigu, telur, mentega, gula, sedikit garam dan untuk memberi aroma menggunakan sedikit vanilli atau menggunakan daun pandan." Jelas pemuda itu sabar sembari membiarkan tangannya bekerja menaburkan chocolate chip keatas olesan coklat diserabi itu.
Arana mencatatnya dalam hati. Kapan-kapan mungkin dia bisa membuatnya untuk Amber dan Lily. Dia harus berbagi makanan lezat ini kepada Amber dan Lily.
Alva menerima dua bungkus serabi itu sembari membayar. Uang lembaran merah itu diberikan kepada pemuda itu. "Kembaliannya, kak."
Alva segera membalas sembari menyerahkan sekantung serabi itu kepada Arana yang menerimanya dengan senang hati. "Ambil saja kembaliannya."
Pemuda itu tersenyum lebar, merasa beruntung dan mengucapkan terimakasih kepada Arana dan Alva yang mulai melangkah menjauh dari standnya. Arana mengunyah dengan riang, nampak menikmati serabi ditangannya. Arana menoleh, melihat Alva yang memandangnya dengan senyuman. Gadis itu mengangkat wadah serabinya dan menawarkannya kepada Alva. "Kamu mau?"
"Untukmu saja."
Arana mengangguk. Dia hanya menawarkan, jika Alva tidak mau. Ya dia makan sendiri, hehe. Oh, Arana siap untuk berburu semua makanan yang ada disini, haha!
__ADS_1
Hmm, nampaknya Arana lupa apa tujuan utamanya.