My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 139: Michael And Lidia


__ADS_3

Arana menatap Alva dan Arletta yang masih sibuk berbelanja di mall untuk membeli barang-barang yang ibu hamil butuhkan agar merasa nyaman. Tidak tanggung-tanggung, saat ini Arletta dan Alva bahkan sedang berdebat untuk memilihkan sofa duduk untuk Arana agar duduknya menjadi lebih nyaman.


Memandang keduanya, Arana dengan tenang menyunggingkan senyuman sebelum mengambil jarak dan meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Ma.."


[Ada apa, Rana?]


Arana menahan napasnya selama beberapa detik sebelum menghembuskan napas dalam hati dan menjawab. "Aku hamil, ma. Sudah satu bulan."


Ada keheningan selama beberapa saat sebelum Lidia mengucapkan sesuatu. [Benarkah? Bagus sekali, terus pertahankan identitasmu. Satu hari nanti, ketika Alana kembali, bayi itu akan menjadi anak Alana juga.]


Manik Arana menjadi dingin. Anaknya akan menjadi anak Alana?


Tidak mungkin. Arana tidak akan membiarkannya. Jika nanti memang dia harus pergi, dia akan pergi bersama dengan buah hatinya. Dia tidak akan menyerahkan darah dagingnya untuk orang lain bahkan meskipun itu adalah kembarannya sendiri, karena Arana tidak akan pernah membiarkan dirinya menjadi korban lagi. Dia akan menjadi egois untuk dirinya sendiri dan tidak akan peduli dengan alasan apa yang akan diberikan Alana ketika dia tidak bisa mendapatkan bayinya.


Karena bayi diperutnya sekarang hanya miliknya dan milik Alva, bukan milik orang lain.


[Mama sedang diluar, Rana. Mama akan memberitahu papamu dan kami akan datang beberapa hari kedepan.]


"Aku sedang tidak dirumah. Jika mama dan papa ingin datang, datang saja kerumah orangtua Alva."


[Benarkah? Baiklah. Terus jaga identitasmu dan jaga hubunganmu tetap baik dengan orangtua Alva. Mengerti?]


Arana bersenandung acuh sebelum dengan tegas mengakhiri panggilan telepon. Ternyata memang tidak ada gunanya. Sekalinya tetap diabaikan dan dianggap pengganti, selamanya dia akan menjadi seperti itu. Arana meremat ponselnya sedikit sebelum menghela napas, mengatur emosinya.


"Nana, kamu suka warna cream atau warna hitam, sayang?"


Suara Arletta terdengar. Arana berbalik dan tersenyum menjawab pertanyaan Arletta yang berdiri didekat sofa bersama dengan Alva. "Nana suka warna yang lembut, ma."


Arletta memukul pelan lengan Alva. "Apa mama bilang? Nana akan suka warna yang lembut. Selera lelaki jika bukan menyangkut wanita adalah urusan yang buruk."


"Keputusan sudah bulat. Kita akan membeli yang ini." Lanjut Arletta, "Sekarang waktunya mencari tempat tidur!"

__ADS_1


Kemudian seharian itu, Arana benar-benar menghabiskan waktunya dengan melihat Alva dan Arletta berdebat tentang membelikannya ini dan itu.


...***...


Duduk disofa bersama dengan Alva yang tengah memijat lengannya, Arana hampir tidak bisa berkata apa-apa.


"Sayang, sudah, ya? Berhenti memijat." Arana berusaha menarik tangannya, namun Alva mencegahnya dan dengan lembut terus memijat lengannya hingga bahunya. "Tidak sayang, kata dokter kamu harus rileks dan tidak boleh kelelahan."


"Itu jika aku hamil besar, Al. Jika begini, jatuhnya aku terlalu manja kepadamu. Mama juga harus memasak sendirian karena aku tidak membantunya."


Alva mengusap surai Arana dengan sayang. "Ada pembantu dirumah, sayang. Mereka yang akan mengurus urusan rumah. Ngomong-ngomong soal membereskan rumah, aku sudah memanggil seseorang yang akan datang setiap hari kerumah untuk membersihkan apartemen. Jadi, kamu tidak perlu kelelahan membereskan rumah."


Arana menelan kembali suaranya ketika melihat tatapan lembut Alva. Arana memang hamil, namun bukan berarti dia seketika menjadi seorang putri yang tidak bisa melakukan apapun karena sejak kecil bahkan dimandikan dan disuapi atau dipotongkan kukunya. Arana masih bisa melakukan apapun meski memang bukan pekerjaan kasar seperti mengangkat barang berat atau berlarian.


Arana mungkin tahu perasaan keduanya.


Alva ingin yang terbaik baginya karena janin dikandungannya adalah buah hati pertama Alva. Itu juga buah hati pertamanya. Sementara bagi Arletta, itu adalah cucu pertamanya, dan Arletta ingin memastikan bahwa Arana dan bayinya baik-baik saja.


"Aku mengerti, Al."


Alva dengan lembut mengusap perut Arana dan dengan penuh senyuman mencium kedua pipi Arana. "Sayang, aku sungguh-sungguh mencintaimu."


"Aku juga, Al."


Alva hendak mengucapkan sesuatu kembali ketika bel pintu berbunyi. Pembantu rumah tangga yang bekerja dirumah Arletta segera membukakan pintu, dan dua orang melangkah memasuki ruangan luas itu. Arana menoleh dan Alva sedikit mengerutkan dahi melihat mereka. Sebelum wajahnya berubah menjadi sedikit tersenyum palsu.


"Mama dan papa kemari?"


Alva tidak berdiri, menahan kaki Arana yang hendak turun dan masih meletakkannya dipangkuannya dan memijatnya dengan lembut dibawah tatapan bingung Arana.


"Tentu saja. Putri kesayangan kami hamil, bagaimana kami tidak akan menyambut cucu pertama kami?"


Michael mengucapkannya dengan suara yang tegas. Ada kebahagiaan yang terselip dinada suaranya. Sebagai seorang dengan ambisi yang kuat, Michael sangat berharap pada cucunya. Michael sangat berharap bahwa cucunya adalah laki-laki dan ketika dia dewasa, dia bisa mewarisi perusahaannya untuk menjadi perusahaan yang besar.

__ADS_1


Michael berjalan menuju Arana dan memeluknya. "Selamat, nak. Terimakasih banyak, kami sungguh bahagia bahwa kami akan menjadi kakek dan nenek."


Dididepannya, Lidia juga turut memeluk Arana, menangis dengan wajah yang nampak dipenuhi kebahagiaan, meski Arana dan Alva tahu bahwa keduanya hanya berakting. Arana menyunggingkan senyuman dibawah tatapan Alva dan balas memeluk keduanya dengan samar. "Sama-sama, ma, pa. Aku juga sangat senang."


"Akulah yang seharusnya merasa sangat berterimakasih kepada mama dan papa karena sudah membawaku kesini, jadi aku bisa merasakan kebahagiaan ini."


"Apa maksudmu?"


Lidia membeku dan bertanya dengan suara lirih ketika Arana kemudian tersenyum manis. "Eh, Nana salah bilang. Maksudku, terimakasih sudah membawa aku lahir kedunia ini, sehingga aku bisa bertemu dengan Alva yang tulus mencintaiku apa adanya. Alva yang mau mencintai kekuaranganku dan tidak hanya memandang kelebihanku saja. Terimakasih ma, pa."


Lidia menatap Arana dan dengan canggung tersenyum. Wajahnya sedikit pucat, dan jantungnya berdentum kencang ketika dia hampir mengira bahwa Arana akan mengungkapkan rahasia bahwa dia sebenarnya bukan Alana namun Arana yang mereka bawa kesini untuk menggantikan Alana.


"Papa dan mama silakan duduk dulu."


Ucap Alva dengan senyuman yang bukan senyuman. Ia menoleh kepada seorang pembantu rumah tangga yang baru saja membukakan pintu. "Bi, tolong panggilkan mama dan buatkan minuman untuk tamu kita."


Ungkapan tamu untuk Lidia dan Michael yang berkunjung kerumah Arletta dan Johan sebenarnya sedikit kasar sebab mereka bukan tamu biasa karena mereka adalah besan. Namun perkataan Alva kepada sang pembantu tadi dengan jelas menegaskan bahwa Lidia dan Michael hanyalah tamu dan bukan bagian dari keluarga dalam rumah itu.


Lidia melirik Michael yang mendudukkan dirinya disofa diseberang Arana dan Alva sebelum ia mengikuti sang suami untuk duduk. Lidia memandang Arana dan menyunggingkan senyuman sebelum membuka suara kembali. "Putri mama sudah besar saja, sekarang sudah akan menjadi seorang ibu."


"Dan aku yakin Nana akan menjadi Ibu yang baik. Benarkan, Lidia?"


Keempatnya menoleh dan mendapati Arletta menyunggingkan senyuman dan memandang Lidia dengan tatapan yang membuat Lidia tanpa sadar merasakan perasaan tertindas didalam benaknya dan sekelebat ingatan perlahan mengalir dikepalanya.


"Bukankah aku sudah pernah mengatakan kepadamu untuk tidak pernah membantahku?"


"Jal*ng miskin sepertimu apakah layak memiliki pilihan dalam hidupmu?"


"Menghilanglah dan jangan pernah bermimpi untuk bisa bangkit dari keterpurukanmu. Selamanya kau akan menjadi pecundang bukan?"


"Kau tidak pernah berubah, ya?"


Karena sejak dulu, Lidia tidak pernah bisa menang dari Arletta.

__ADS_1



__ADS_2