
Duduk diatas ranjangnya dengan kaki yang diluruskan, Arana meraih ponselnya ketika ponselnya berbunyi. Ketika dia membuks lockscreen, ia mendapati pemberitahuan dari Karina tentang pekerjaan pertamanya.
Seminggu yang lalu dia memaksa Alva untuk membiarkan dirinya kembali. Setelah merayu Arana banyak kali, beruntungnya pria itu luluh dan mengatur agar Arana bisa kembali ke apartemen. Dengan syarat, bahwa Arana akan setuju jika akan ada seorang perawat pribadi yang bertugas merawatnya selama Alva tidak ada dirumah.
Arana tidak suka dengan suasana rumah sakit, jadi meskipun terdengar kurang nyaman untuk memiliki perawat pribadi, Arana setuju dengan syarat yang diberikan oleh Alva.
"Mari kita lihat tugas pertama." Gumamnya sembari membuka pesan dari Karina.
[Seorang aktris akan menghadiri sebuah Award di New York bulan depan. Tema acara adalah hitam putih, dengan gaya modern tapi memiliki unsur fantasy didalamnya. Sebab film yang dimainkannya adalah sebuah drama romantis berunsur fantasy. Dia adalah pemeran kedua, jadi dia tidak boleh terlalu mencolok daripada pemeran utama. Karakter yang dia mainkan adalah seorang gadis desa yang suka berpetualang dan bebas. Namun disisi lain dia adalah sosok yang cukup feminim dan pecinta alam. Desain harus siap dalam 3 hari ya, Ala. Jika sudah selesai, kirimkan kepadaku lewat tautan ini. Selamat bekerja, Alana. Semangat!]
Arana tidak memberitahu keadaannya kepada Karina maupun Amber, bahwa dia mengalami kecelakaan. Arana tidak ingin membuat mereka khawatir.
Apalagi, jika Amber sampai mendengar bahwa dia mengalami kecelakaan, bahkan ketika dia sedang memiliki urusan, dia akan memesan tiket dan langsung meluncur terbang kembali ke Jakarta. Apalagi Lily, bahkan dia bisa langsung meninggalkan proyek kampus yang dikerjakannya hanya untuk memeriksanya.
Arana tidak ingin mengganggu Amber dan Lily. Lagipula, ia hanya mengalami luka kecil dan akan sembuh dalam beberapa minggu kedepan. Tidak perlu memperbesar hal kecil ini sehingga biss membuat orang lain kerepotan.
Itu sebabnya saat menandatangani surat perjanjian kerja, Arana meminta Karina mengantarkannya melalui kurir dengan dalih sibuk dengan kegiatannya.
Untungnya semua berjalan lancar.
Arana memikirkan desain pakaian yang harus dibuatnya. Merasa tidak cukup mendapatkan bayangan, ia mengetik balasan di ponselnya.
[Apa film yang dimainkannya? Dan siapa yang diperankannya?]
__ADS_1
Tak lama, balasan datang. [Dia bermain di film "Story Of Xefariol Land" dan mengambil peran sebagai Sesitea.]
Merasa mendapatkan informasi yang dibutuhkan, Arana keluar dari aplikasi WhatsAppnya dan mengakses aplikasi menonton film yang sudah premium, sehingga Arana bisa mengaksesnya dengan mudah tanoa iklan maupun kendala seperti tak bisa diputar tanpa akun berbayar.
Mengetik nama filmnya, ada sebuah sampul gadis bersurai pirang tengah berdiri diatas gedung tinggi sembari membawa tombak panjang.
"Baiklah, hanya ada 2 episode. Aku bisa menyelesaikan hari ini." Gumamnya sembari mengklik salah satu episode, dan mulai menonton dalam khidmat.
...***...
Diluar dugaan, setelah hampir setengah menonton, ternyata karakter Sesitea cukup banyak muncul Dalam beberapa adegan penting protagonis wanita dan pria bertemu, selalu ada keberadaan Sesitea disana.
Ada satu cara yang menurut Arana penting untuk menciptakan sebuah desain tanpa harus membuang banyak desain gagal. Arana hanya perlu memahami inti pesanan. Ketika dia bisa memahami uang menjadi objek desain, dia bisa menggambar dengan mudah, dan kemungkinan besar satu desain saja sudah langsung disetujui.
Tak hanya disana, Arana mencari tahu biodata aktris yang memerankan karakter Sesitea sebagai unsur tambahan.
Arana memandang jam yang ada disebelahnya, dan mau tak mau menelan keinginannya untuk menggambar hari ini. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, dan sebentar lagi Alva akan kembali jika tidak ada acara mendadak di kantor. Lebih baik mengantisi daripada apa yang dia lakukan diketahui oleh Alva.
Menekan sebuah tombol di remote yang ada diatas nakas meja, tak berselang lama, seorang wanita melangkah masuk setelah mengetuk pintu. Wanita yang nampak berusia 40 tahunan itu mendekati Arana.
"Apa anda butuh sesuatu, nona?"
Arana sedikit tidak nyaman dipanggil nyonya, karena tidak terbiasa. Namun dengan status yang disandangnya, Arana hanya bisa menerima panggil tersebut.
__ADS_1
Arana menjawab, "Tolong bantu saya ke kamar mandi. Saya ingin membersihkan diri."
Wanita itu lebih tua dari Arana, dan hampir menyamai usia Lidia. Jadi, Arana berkata dengan sopan. Wanita itu menganggukkan kepalanya dengan senyuman. "Saya akan menyiapkan airnya dulu, nyonya."
Setelah beberapa saat, wanita itu kembali. "Mari, nyonya. Berhati-hatilah saat mandi. Tolong pastikan anda tidak membuat kaki anda basah. Setelah mandi, saya akan mengganti perban Anda. Jika nyonya membutuhkan sesuatu, Anda bisa memanggil saya. Saya akan menunggu didepan kamar."
Arana menganggukkan kepalanya dan membiarkan dirinya dibantu berjalan menuju kamar mandi. Begitu melihat sang perawat keluar, Arana mulai melepaskan pakaiannya dengan tubuhnya bersandar di dinding kamar mandi, menahan kaki kanannya agar tidak secara langsung menahan nerat tubuhnya.
Karena menggunakan rok, Arana lebih mudah melepaskan pakaiannya, meski ada bagian dimana dia kesulitan juga.
Setelahnya, dia meraih tepi bathup, dan memasukkan separuh badannya kedalam. Kaki kanannya mencuat keluar dan bertopang pada kursi kecil yang disediakan agar tidak membuat kakinya ngilu dan pegal. Air hangat mengepung tubuhnya. Uap air dengan aroma dari ekstrak bunga membuat hati dan pikirannya menjadi lebih santai.
Maniknya menatap air berwarna merah muda keemasan itu dan tatapannya sedikit turun.
Sudah lama sekali sejak dia bisa kembali menikmati hangatnya berendam seperti ini. Sejak tinggal di apartemen, hanya ada air dingin yang bisa dirasakannya, dan jikapun dia ingin mandi menggunakan air panas, dia harus merebus air terlebih dahulu. Hangat air yang selalu dirasakannya ketika masih bersama dengan neneknya tergantikan dinginnya air ketika dia mandi di apartemen.
Hidup Arana yang sibuk oleh pekerjaan membuatnya tak sempat untuk memikirkan kembali kenyamanan seperti ini.
Bahkan jika dia tidur diatas lantai yang dingin dengan selembar selimut tipis dan atap yang bocor, Arana menjalaninya selama dia bisa hidup, bisa bekerja untuk bisa makan.
"Jangan pikirkan kenyamanan, Arana. Kenyamanan selalu tidak berarti apa-apa. Ini tidak akan bertahan lama, ketika kamu mengharapkan dan memikirkannya." Gumamnya sembari menyenderkan pundaknya ke dinding kamar mandi di samping kirinya.
__ADS_1