
"Aku sudah menyiapkan cincinnya, tapi ternyata kamu sudah menikah dengan orang lain."
Pada titik ini, Arana tidak bisa menjawab apapun dan dengan gerakan samar menunduk setelah melirik Ernad disampingnya. Ernad menoleh dan menyunggingkan senyuman kepada Arana yang tengah memandang lurus kedepan.
"Tapi tidak apa, mungkin itu juga kesalahanku karena aku tidak bisa menemanimu selama dua tahun karena aku harus keluar negeri. Jadi, aku tidak bisa mempertahankan hubungan dan kepercayaan yang sudah kita janjikan sejak dulu." Katanya.
Meski ia tersenyum, Arana bisa melihat ekspresi kesedihan diwajahnya yang entah bagaimana bisa membuat Arana merasa simpati. Tidak, Arana memang tidak begitu mengenal Ernad, bahkan bisa dibilang dia sama sekali tidak mengenal Ernad. Ia tidak tahu bagaimana hubungan Ernad dan Alana dulu, namun dari yang dilihatnya, Ernad benar-benar tidak bersalah disini dan memiliki kepentingan untuk belajar ketika dia sudah berkomitmen untuk menjalin LDR. Namun sayangnya Alana yang lebih dulu mengkhianati Ernad.
Arana seketika memikirkan tentang Stephen.
Akankah Ernad tahu bahwa Alana sudah pernah mengandung dan bahkan putranya sudah berusia diatas empat tahun?
Arana mengeyahkan pemikiran itu dari kepalanya dan mendongak ketika dia membuka bibirnya. "Itu bukan salahmu. Dan kurasa itu juga bukan sepenuhnya salahku. Tuhan sudah menakdirkan kita untuk menjadi sebatas teman, dan tidak lebih. Itu artinya baik aku maupun kamu akan menemukan seseorang yang pasti akan bisa lebih membahagiakan, membuat nyaman dan memberi pengaruh baik satu sama lain."
Arana melanjutkan. "Bukan berarti bahwa aku menganggap kamu membosankan karena tidak bisa membahagiakanku atau kamu membawa pengaruh buruk bagiku. Hanya, Tuhan sudah membawaku dalam sebuah pernikahan sakral bersama dengan Alva. Tuhan sudah menjadikkan kami satu dan aku percaya bahwa Alva adalah yang terbaik untukku sebagai pasanganku. Demikian kamu, aku yakin suatu hari nanti kamu akan menemukan seseorang yang sempurna untuk melengkapimu."
Mendengar penuturan Arana, Ernad terdiam sebelum dengan tenang menyunggingkan senyuman. "Ah, benar. Aku senang mendengar bahwa kamu tidak terbebani, itu membuatku sedikit lega."
Arana menyunggingkan dan merasa bahwa Ernad semakin tidak terlihat begitu buruk seperti yang dia anggap pertama kali. Dia mungkin hanya terlalu menaruh harapan pada Alana dan ternyata dikecewakan yang membuatnya masih tidak yakin. Sekarang Arana sudah yakin bahwa tidak masalah untuk membiarkan Ernad menjadi seorang teman.
Arana hendak berucap lagi ketika ponselnya berdering.
"Maaf, bisakah aku mengangkat panggilan ini?"
Meski itu berasal dari nomor asing, Arana bukan tipe yang akan mengabaikan nomor asing. Jika itu adalah penipuan, Arana hanya perlu menutupnya. Jika itu adalah panggilan penting dan mendesak, Arana bisa segera tahu. Ernad menganggukkan kepalanya, mempersilakan Arana untuk mengangkat panggilan telepon itu. Arana segera menarik ikon telepon keatas.
"Halo? Dengan siapa ini?" Tanya Arana.
[Nana! Huee! Ini aku, Amber!!]
__ADS_1
Arana sedikit terkejut dan menatap layar ponselnya memastikan nomor Amber. "Amber? Kenapa kamu menghubungiku dengan nomor asing? Tidak, tunggu! Lupakan itu, mengapa beberapa hari ini kamu tidak membalas ataupun merespon panggilan dan pesan baik dariku maupun Lily? Apa yang terjadi denganmu?"
Ada suara tawa diseberang. [Maaf, Na. Ponselku jatuh dari tangga dan hancur. Aku tidak bisa memulihkan data-datanya dan aku lupa nomormu. Aku berkutat dengan banyak buku catatan harianku dan akhirnya berhasil menemukan nomormu. Jika tidak, aku akan langsung ke Indonesia dan meminta nomormu lagi, hehe.]
Arana menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum geli. "Bisa-bisanya kamu lupa dengan nomor kami. Aku bahkan masih ingat dengan jelas nomor guru sains kita dulu."
[Itu kan kamu. Lily juga bahkan bisa mengingat nomor ponsel semua guru di sekolah menengah kita.]
Arana terkekeh. "Tapi kamu benar-benar baik-baik saja, kan? Tidak ada yang salah kan? Karena jika ada sesuatu yang salah, aku akan segera terbang kesana dan menjemputmu."
[Haha, kau pikir aku siapa? Aku Amber si hebat bela diri. Tidak akan ada yang bisa membuatku kenapa-kenapa kecuali kaki meja. Serius, rasanya bahkan lebih sakit daripada ditusuk piasu. Ngomong-ngomong beberapa hari kedepan aku juga akan sulit dihubungi. Beri aku nomor Lily, Na. Aku juga akan mengabari dan meminta maaf kepadanya karena membuatnya khawatir karena aku tidak bisa dihubungi selama berhari-hari.]
"Baiklah, akan aku kirimkan."
Arana bertanya, "Apa kamu sibuk saat ini?"
[Yah, aku harus ikut turnamen tahunan dan ada tes mingguan yang akan mulai kuhadapi mulai minggu sekarang sampai empat bulan kedepan untuk mengetes bagaimana dan dimana kemampuan kami berada.]
Amber tertawa. [Haha! Tentu saja, aku harus mendapatkan pujian karena akan menghadapi hal semacam itu setiap hari.]
"Amber sangat hebat! Bersemangatlah untuk ujianmu."
[Baiklah, kamu pasti juga sedang sibuk, Na. Kita lanjutkan nanti ya. Sampai jumpa!!]
Suara Amber masih terdengar seceria biasanya yang membuat Arana tanpa sadar menggulung senyuman dan meletakkan ponselnya ketika dia mendongak dan tertegun melihat tatapan mata Ernad padanya. Oh, dia lupa bahwa Arana tidak sendirian disana.
"Maaf, dia temanku."
Ernad menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia mengerti. Ernad menyunggingkan senyuman. "Aku tidak tahu bahwa kamu punya teman yang bernama Amber. Apakah dia teman barumu?"
__ADS_1
Arana menganggukkan kepalanya. "Kami berteman dari online. Ngomong-ngomong, aku akan kembali. Apa kamu juga akan kembali atau masih tetap ingin disini?"
"Aku akan kembali juga."
Arana mengedikkan bahunya acuh, mengambil buku sketsanya dan dengan tenang melangkah bersama Ernad menuju apartemen mereka. Beberapa pasang mata menatap Arana dan Ernad, namun keduanya sama-sama mengabaikan tatapan yang diberikan kepada keduanya. Sampai sebuah suara membuat Arana menghentikan langkahnya.
"Kak Alana?"
Arana menoleh dan mendapati sosok anak remaja berusia belasan tahun tengah menggunakan seragam sekolah menengah pertama. "Loh, Serine? Kamu sudah pulang? Dimana kak Mellisa?"
Serine mengangguk dan dia memasang senyuman sopan. "Sudah, ada rapat dadakan disekolah hari ini, kak. Karena mama sedang ada urusan dengan beberapa temannya, jadi aku pulang sendiri naik taksi."
Maniknya beralih memandang Ernad. "Siapa kak?"
"Ah, dia teman kakak. Namanya Ernad. Dia juga tinggal disini, jadi dia termasuk tetangga kita meskipun berbeda lantai. Ngomong-ngomong berbicara bahasa Indonesia saja dengan Ernad, dia mengerti bahasa Indonesia, kok."
Serine mengangguk dan sedikit menundukkan kepalanya. "Halo, senang bertemu dengan Anda."
"Halo. Senang juga bertemu denganmu. Namamu Serine, kan?"
Serine menatap senyuman Ernad dan mengangguk tipis. Ia tidak nyaman dengan senyuman yang diberikan oleh Ernad.
...***...
Amber sesungguhnya tidak baik-baik saja.
Gadis itu berdiri didepan cermin, menatap wajahnya yang dipenuhi memar dan bahkan bekas cakaran. Maniknya menatap dingin dan datar pantulan wajahnya ketika dia baru saja mengakhiri panggilan telepon dengan Arana. Amber sangat ingin menangis, mengadu kepada sahabatnya betapa sakitnya dia, betapa ingin dia menjerit dan menangis. Dia ingin dipeluk dan dia ingin ditenangkan, namun Amber tidak ingin membuat sahabat-sahabatnya kesulitan karenanya.
Ia mengepalkan tangannya, melirik pergerakan dipintu sebelum matanya membulat lebih dingin dan kejam ketika dia menjerit.
__ADS_1
"KELUAR!"