My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 84: Finding You And Lies


__ADS_3

Ada tiga buah mobil mewah yang beriringan dengan tegas memasuki lingkungan desa kecil yang hanya terdiri dari beberapa bangunan rumah itu. Kedatangannya membuat semua orang menghentikan kegiatan mereka dan memandang tiga mobil itu. Para pemuda yang bermain bola, anak-anak yang saling berlarian berhenti, berlari dan bersembunyi dibalik bangunan, para panatua yang tengah bermain catur menoleh, menyipitkan mata mencoba menerka benda berkilau apakah yang memasuki penglihatan mereka itu. Mobil berhenti ditengah-tengah desa, dan manik Arana melebar ketika dia melihat siapa yang datang.


Alva turun, auranya menampilkan kharisma dan kewibawaan yang kental, yang membuat sang Ibu-Ibu merasa bahwa orang itu jelas bukan seseorang yang bisa didekati sembarangan dan bisa disinggung. Mereka saling pandang, takut untuk mendekat, sampai akhirnya seorang wanita setengah baya hendak melangkah mendekat, ketika Alva menoleh, melebarkan matanya memandang lurus kedepan.


Melihat tatapan Alva yang salah, mereka yang ada disana segera mengikuti arah pandangnya dan menemukan bahwa gadis yang mereka bantu memandang pria muda yang tampan bak pangeran itu dengan sepasang manik yang melebar dan sedikit memerah.


"Al." Lirihnya.


Alva mengabaikan sekelilingnya untuk sesaat, bahkan Erlan yang dengan canggung mencoba menjelaskan situasi dan keberadaan mereka kepada para pria didesa itu yang mendekatinya, menaruh sedikit kewaspadaan kepada mereka dan mobil yang mereka bawa. Tampaknya mereka mengkhawatirkan bahwa mereka adalah seseorang yang akan mengusir mereka atau mencoba menghancurkan tempat tinggal mereka.


Langkah Alva tegas, rambutnya tersingkap, mengungkapkan dahi mulus ketika dia berlari, untuk kemudian menarik Arana kedalam pelukannya yang erat.


"Sayang, maafkan aku karena membuatmu menunggu." Ia berbisik, suaranya lembut dan penuh dengan perhatian. "Kamu pasti ketakutan."


Pertahanan Arana runtuh. Rasa takut akan kematian ketika dia hampir terjatuh di tebing. Kelelahan dan rasa takutnya akan binatang buas yang bisa saja dia temui ditengah hutan. Ketakutan jika dia tidak bisa menemukan siapapun yang bisa membantunya. Ia menahannya selama ini, namun pada akhirnya, didekapan Alva, dia tidak bisa menahan air matanya, dan itu mengalir begitu saja tanpa diberi aba-aba. Cairan hangat yang membasahi pipinya dan jatuh didagunya, memasahi pudak Alva yang tidak sedikitpun melepaskan pelukannya pada Arana.


"Hiks, Al .. Hiks, hika! Aku, aku pikir, aku akan mati, huaa!!"


Pada akhirnya dia menangis. Jika benar-benar seseorang mengincar Alana, mengapa dia yang harus merasakan ketakutan dan bayangan kematian seperti ini?


Ketidakadilan dan rasa takut membuat Arana menangis dengan keras. Dia tidak bisa membedakan antara apakah dia menangis karena dia takur, atau dia marah namun tidak bisa melampiaskannya kepada siapapun, dan ia hanya bisa menangis. Yang dia inginkan sekarang hanyalah dekapan hangat, elusan lembut dipunggungnya, yang hangatnya seperti dia menemukan cahaya dan nyala api ditengah rasa dingin dalam badai salju.


"Stt, tidak apa sayang. Tidak masalah, sekarang kamu sudah aman."


"Aku disini."

__ADS_1


...***...


Dalam perjalanan kembali ke apartemen, Arana memeluk Alva, memejamkan matanya, nampak tertidur. Ada jejak air mata yang tersisa dikedua pipinya, dengan lembut Alva mengusap pipi gadis itu. Merasa terganggu dalam tidurnya, Arana sedikit melengguh, mencoba menghindari tangan Alva dan menenggelamkan wajahnya diceruk leher Alva yang menangkap pinggangnya dengan penuh perhatian. Alva meraih selimut disebelahnya, menyelimuti Arana dan mengusap punggung dan lehernya guna menenangkannya dalam tidurnya.


Tangan kirinya yang bebas meraih tangan Arana dengan lembut, memandang luka diantara jari-jarinya dan tidak bisa tidak merasakan perasaan tertekan.


Mengambil ponselnya, Alva menghubungi Erlan, yang langsung mengangkatnya dalam sedetik. "Lan, minta Angga datang ke apartemen untuk menyembuhkan istriku."


[Tenang bos, aku sudah menghubunginya lebih awal. Dia berkata dia akan sampai disana lebih awal, dan akan menyiapkan sekalian perlengkapan yang dia butuhkan.]


Mendengar itu, Alva menyunggingkan senyuman tipis. Merasa puas bahwa Erlan merupakan pekerjanya yang benar-benar cakap dan tanggap. Bahkan tanpa perlu diberitahu sebelumnya, ia sudah memikirkannya dan melakukannya. Alva bergumam dan mengingat sesuatu kemudian dia berkata kembali dengan nada suara yang lebih dingin. "Bagaimana dengan pria itu?"


[Angga tadi memberitahuku. Dia bilang J dan R terlalu menggila sehingga keadaan pria itu benar-benar sangat buruk. Informasi yang mereka dapat hanya sebuah panggilan nomor telepon umum, dan kemudian suara seorang wanita yang menyuruhnya menculik istrimu. Pria itu mengaku mendapatkan uang tanpa bertemu langsung, dan uang itu ditinggalkan didekat bangunan tua seperti yang dikatakan oleh wanita itu.]


"Tidak masalah, terus selidiki." Perintah Alva membuat Erlan diseberang sana mengiyakan. Setelahnya, panggilan telepon berakhir.


Alva memandang wajah Arana yang bersandar padanya. Suara nafasnya yang tenang dan lembut membuat Alva merasa hatinya lebih tenang, dan tidak sekacau ketika Arana menghilang. Ia dengan lembut dan penuh kasih sayang menjatuhkan kecupan didahi Arana yang terbuka, dan mengeratkan pelukannya.


"Aku berjanji akan melindungimu."


...***...


Alana memandang ponselnya dengan kerutan yang tidak bisa disembunyikan didahinya. Sudah beberapa kali dia mencoba menghubungi kekasihnya, namun pria itu tidak kunjung menjawab panggilan telponnya, dan bahkan mengabaikan pesannya.


Duduk diranjang kamarnya dengan hanya menggunakan piyama terbuka yang menampilkan tubuh moleknya, gadis itu mengacak rambutnya dan mencoba menghubungi kembali kekasihnya. Dua percobaan kemudian, panggilan telepon terhubung. "Josh, kemana saja kamu? Kenapa tidak menjawab panggilanku dan mengabaikan pesanku? Sekarang juga sudah larut, kenapa belum kembali?!"

__ADS_1


Suara diseberang sana terdengar sedikit menyimpan nada malas, namun ditelinga Alana, ia terdengar hangat. [Maaf sayang, aku sedang ada acara dengan temanku. Kami sedang membahas pekerjaan baru, dan mungkin akan bernilai jutaan dolar.]


Mendengarnya, Arana masih merasa tidak senang. "Lalu kenapa kamu tidak melihat dan bahkan mengangkat panggilanku? Kenapa baru mengangkatnya setelah sudah lama sekali?"


[Maaf sayangku. Aku mensilent ponselku karena tidak ingin kerjasama kami terganggu. Aku harus menunjukkan sikap profesional kepada teman-teman dan rekanku. Jika proyek ini berhasil, aku akan membelikanmu cincin permata dan mengajamu liburan ke luar Maldives.]


"Benarkah?" Harap Alana.


Sepasang maniknya berbinar. Ia selalu menyukai permata, dan kekasih mana yang tidak bahagia jika kekasihnya akan menjanjikannya sebuah liburan yang mungkin saja juga merupakan rencana lamaran? Memikirkannya saja membuat Alana sangat bahagia!


[Tentu saja!]


Alana menetralkan wajahnya dan suaranya. Ia berdehem, "Baiklah. Aku akan memaafkanmu kali ini. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan untuk membantumu dengan proyekmu, kabari saja aku."


Alana adalah kekasih yang tidak pernah perhitungan ketika dia benar-benar mencintainya. Selama dia memilikinya dan selama kekasihnya membutuhkannya, dia tidak akan ragu memberikan semua yang dia miliki kepada kekasihnya, toh ia selalu berpikir bahwa itu juga akan menjadi kesuksesannya dimasa mendatang.


Ia melemparkan dirinya ketempt tidur, membuka media sosial dan dengan senang hati melihat-lihat serba-serbi kehidupan elit, sembari merasa bahagia bahwa kekasihnya akan mengajaknya liburan dan akan membelikannya sebuah cincin. Oh, bagaimana jika itu benar menjadi cincin lamaran?


Yang tidak dia ketahu adalah, pada saat ini, Josh, yang baru saja selesai melakukan panggilan telepon memandang ponselnya dengan senyum geli dan senyuman cemoohan. Gadis bodoh itu bahkan tidak ragu untuk memberikan segalanya kepadanya. Tubuhnya dan hartanya. Benar-benar yang Josh inginkan dari semua wanita. Tubuh untuk kenikmatannya, dan harta untuk kepuasannya.


Menoleh, Issabel melangkah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya tertutup handuk putih yang tipis. Ia menyeringai.


Satu lagi, ah.


__ADS_1


__ADS_2