My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 35: Want To Touch It?


__ADS_3

Arana tidak pernah tahu bahwa dia menderita alergi biji wijen. Dia memang tidak pernah memakan wijen sejak dulu. Baru pertama kali dia memakan, dan ternyata langsung berakibat buruk dan berakibat parah dengan dia tidak bisa bernapas dan ruam-ruam yang sangat jelas.


"Itu semua salahmu karena memberiku es itu!" Arana melipat bibirnya.


Hatinya sedih. Es enak itu, dia tidak akan bisa merasakannya lagi jika ada wijennya. Tidak, tidak hanya itu. Tadi dia baru saja melihat ada makanan bernama onde-onde yang baunya sangat manis, namun dia tidak bisa memakannya karena diselimuti wijen. Ahh!


Alva menggenggam tangannya. "Iya, itu salahku. Maafkan aku karena membuatmu merasakan sakit karena alergi. Aku benar-benar tidak tahu bahwa kamu alergi pada wijen."


Arana menjerit dalam hatinya. "Aku juga tidak tahu!"


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan pria tadi?" Tanya Arana membuat Alva menatapnya. "Sudah ada di kantor polisi. Polisi bilang, setelah diinterogasi dia memang berniat menyerangku karena masalah perusahaan. Dia adalah pekerja yang dulu tidak kuterima karena beberapa masalah latar belakang. Namun aku tidak tahu dia sampai berbuat nekat seperti itu."


Arana memahaminya. Namun dia dengan tajam berkata kepada Alva. "Maka dari itu lebih berhati-hatilah. Siapa suruh kamu membuat masalah dengan orang lain."


Alva tersenyum canggung sebelum menganggukkan kepalanya. "Iya, maafkan aku sayang. Aku akan lebih berhati-hati."


"Aku mau pulang." Kata Arana kemudian. Oho, walaupun dia sempat terkena insiden alergi, tapi tidak akan menghentikan dia dari rencananya membuat Alva menceraikannya.


Rencana D: Merepotkan Alva


...***...


Tiba di apartemen mereka, Alva melangkah lebih dulu, membiarkan Alva membawa semua jajanan yang mereka beli tadi dikedua tangannya. Pria itu meletakkan jajanannya keatas meja dapur dan menyusul Arana yang duduk disofa. "Ada yang kamu inginkan?"

__ADS_1


Arana menatap apartemennya. "Apartemen kotor. Tubuhku masih lemas karena aku baru saja disuntik. Sepertinya kamu yang harus membersihkan apartemen hari ini."


"Eh?"


Mendengar beo-an dari Alva, Arana mengangkat alisnya. "Kenapa? Ya sudah, aku yang akan membersihkannya."


Alva segera menahannya. "Tidak, sayang! Aku akan membersihkannya. Aku yang akan membersihkannya. Jadi, kamu duduk saja sambil makan jajanan yang sudah dibeli."


Arana tersenyum. "Ide bagus, aku mau bakso bakar. Tolong ambilkan."


"Baiklah." Menyeringai begitu Alva berbalik, Arana tertawa jahat dalam hati. "Hahaha! Dia seharusnya tidak akan bertahan sampai seminggu dengan sifatku yang begini. Hehe, segera ceraikan aku, suamiku~"


Dua menit kemudian, Alva kembali dengan tiga tusuk bakso bakar berukuran besar. Masing-masing tusukan berisi empat bakso yang sudah terlumuri bumbu bakar yang aromanya menggugah selera. Karena sudah cukup dingin saat dibawa tadi, Alva terlebih dulu memanaskannya dalam oven, sehingga sekarang bakso bakar itu kembali hangat dan lebih lezat dimakan.


"Terimakasih, sayang." Arana menerimanya dengan senang hati, membiarkan giginya bekerja sementara Alva mulai membersihkan apartemen yang sebenarnya tidak begitu berantakan karena Arana selalu membersihkannya.


Alva tersenyum, menggerakkan ujung penyedot debu ke bawah meja. "Iya, sayang."


"Jangan lupa mengelap bagian bawah vas. Itu juga kotor jika tidak diperhatikan." Peringat Arana membuat Alva yang sekarang tengah mengelap sudut interior rumah mengangguk. "Baik, sayang."


Sesi membersihkan rumah itu ditemani dengan suara Arana yang terus memerintahkan Alva. Namun, Alva juga selalu merespon perintah Arana dengan respon positif. Bukannya Alva yang kewalahan karena diperintah, namun justru Arana yang kewalahan karena memerintah dan pusing karena Alva hanya merespon dengan iya, dan baik. Bahkan selalu memasang senyuman kepadanya, seperti tidak terlihat terbebani dengannya.


Aduh, bukan ini tujuan Arana.

__ADS_1


Yah, walaupun apartemen jadi bersih, sih. Tapi, intinya bukan seperti ini, Arana ingin Alva muak dengan sikapnya yang semena-mena.


"Akhirnya selesai." Gumaman Alva membuat Arana tersadar dari lamunannya.


Ia mendongak, menatap Alva yang entah mengapa pada saat ini terlihat begitu seksi dan menawan dimata Arana. Kemeja putihnya sedikit basah, mencetak tubuh atletisnnya. Meskipun bukan olahragawan, Alva tidak pernah melewatkan olahraga ringan. Entah itu lari berkeliling taman dekat apartemen, push-up, sit up atau hanya sekedar peregangan. Itu yang membuat otot-ototnya terbentuk, meski tidak sekekar binaragawan. Tubuhnya sempurna. Saat ini rambutnya lepek oleh keringat, jatuh didahinya. Lehernya ternoda oleh keringat, yang mengalir dari pelipisnya.


"Indah." Gumamnya tanpa sadar, membuat Alva menoleh kearahnya. Kedua pasang mata itu saling bersitatap.


Arana berkedip selama beberapa kali sebelum wajahnya memerah.


"Apa yang aku pikirkan?!"


Melihat wajah Arana yang memerah, Alva menyunggingkan seringaian jahil. "Oh, jadi sedari tadi istriku menyuruhku bekerja, untuk melihat aku yang seksi, begini?"


"Uhuk!" Terbatuk canggung, Arana menggeleng. "Tidak, maksudku bukan begitu. A–Apartemen benar-benar berantakan karena belum dibersihkan. It–Itu tidak ada maksud lainnya seperti melihat ototmu atau apapun yang lain!"


Ahhh! Bicara apa dia?!


Alva mencondongkan tubuhnya kearah Arana, menjebak gadis itu diantara lengannya yang bertumpu pada sofa. "Benarkah?"


Kemeja Alva yang tidak terpancing bagian atasnya memberikan akses Arana untuk melihat otot dadanya yang bidang. Manik Arana berputar dengan pening, wajahnya memerah sempurna. Bibirnya bergetar, dan dia bergumam. "Bu–Bukan begitu.."


Arana benar-benar malu! Dia tidak pernah melihat hal seperti otot laki-laki seumur hidupnya!

__ADS_1


"Apa kamu ingin menyentuhnya?"



__ADS_2