
"Apa yang kau rencanakan kali ini, huh?"
Alva berdiri didepan pintu apartemen Selena, memandang wanita yang mengenakan dress rumahan berwarna merah. Tatapan Alva tajam dan mengancam, namun Selena tidak gentar atau mundur dan dengan tenang memandang Alva.
Alva merasa penasaran dengan istrinya yang seringkali menemukan Arana tengah berkirim pesan dengan seseorang. Dan terkadang, Arana akan sering tersenyum dan terkekeh sendiri. Karena merasa penasaran, Alva mencuri lihat ponsel Arana ketika Arana sudah tertidur. Akibatnya, dia menemukan bahwa Arana mengobrol dengan Selena!
Jadi dengan tegas dia langsung mendatangi apartemen Selena.
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan?" Tanya Selena.
"Mengapa kau mendekati istriku?" Tanya Alva dengan nada yang serius. Alva akan selalu menjadi pria yang serius dihadapan orang lain ketika menyangkut tentang seseorang yang dia sayangi dan seseorang yang berharga baginya.
Selena menyandarkan bahunya diambang pintu dan menyilangkan tangan. "Tidak bolehkah aku dekat dengannya?"
"Ngomong-ngomong kami berteman sekarang."
Alva dengan tajam berkata, "Aku tidak peduli dengan apa yang akan kau lakukan. Namun jika kau mencoba membahayakan istriku, kau akan melihat akhir mengerikan dirimu. Ingat itu."
Selena menghela napas. "Aku bersumpah bahwa aku tidak merencanakan apapun. Aku benar-benar tulus ingin berteman dengan Nana setelah tahu dimana letak kesalahanku. Lagipula, kau harus sopan padaku. Tanyakan pada ibumu mengapa kau harus melakukannya karena itu akan menjadi alasan mengapa aku tidak akan pernah mengejarmu lagi, nak."
Setelahnya, Selena menutup pintu apartemennya, meninggalkan Alva yang kebingungan didepan pintu hitam itu. "Nak?"
Setelahnya, selepas menghubungi Arletta, Alva akhirnya tahu alasan mengapa Selena mengatakan hal demikian kepadanya. Selena benar-benar bibinya.
Arletta tidak menceritakan banyak hal secara garis besar. Namun Arletta hanya menceritakan bahwa orangtua Selena adalah anak hasil nikah siri kakek buyutnya. Jadi secara otomatis, Selena adalah adik dari sang mama dan juga merupakan bibinya. Namun karena kakek buyutnya sudah meninggal sebelum bisa bercerita banyak, jadilah Alva sampai sekarangpun tidak tahu karena baik kakek dan neneknya serta Johan dan Arletta tidak ada yang bercerita kepadanya.
Ternyata silsilah keluarganya cukup rumit.
"Tapi jika memang benar, berarti aku harus merasa lega bahwa Selena memang tidak akan menyakiti Arana lagi. Ugh, apa sekarang aku harus mulai memanggilnya bibi?" Gumam Alva yang tengah duduk dibangku dikantornya.
...***...
Arana memandang dengan manik bundar pada sebuah undangan yang dia terima. Undangan itu berwarna hitam dengan biru kerlip yang menawan. Ada sebuah tulisan yang terpajang didepannya.
__ADS_1
Exel & Amber.
Melihat undangan itu, Arana membungkam bibirnya selama beberapa waktu sebelum menoleh pada Alva yang juga menatapnya setelah melihat undangan itu. Alva berkata, "Aku tidak percaya bahwa mereka pada akhirnya akan menikah."
Arana dengan tenang menghela napas lega dan menyunggingkan senyuman sebelum memandang kembali pada undangan pernikahan ditangannya. Arana kemudian membuka suaranya, "Mau tahu sebuah rahasia, sayang?"
"Malam itu, kak Exel tidak mabuk."
Ucapan Arana membuat manik Alva melebar. Ia memandang Arana dengan tatapan bingung dan penasaran sebelum Arana menyunggingkan senyuman yang lebih besar. "Ceritanya sangat panjang, sayang. Tapi aku benar-benar bersyukur bahwa keduanya bisa bersama pada akhirnya. Aku juga bersyukur bahwa Amber tidak membenci kak Exel dan kak Exel bisa bertanggung jawab atas bayinya."
"Intinya, mereka akan berbahagia selamanya. Aku yakin." Bisiknya diakhir.
Alva merangkul Arana dan dengan lembut menggosok lengannya. "Aku sedikit bingung dengan apa yang kamu katakan, namun jika kamu berkata demikian, aku juga akan turut senang dengan pernikahan mereak. Amber juga sudah memikirkan tentang masa depan bayi dikandungannya, kan? Amber peduli tentang sosok ayah bagi si kecil, meskipun dia pernah mengatakan bahwa dia bisa membesarkannya seorang diri."
Arana menganggukkan kepalanya. "Um."
"Ngomong-ngomong, Amber mengatakan kita harus datang. Apa boleh, Al? Sepertinya usia kehamilanku sudah boleh naik pesawat."
Alva mengangguk. "Tentu sayang, dia sahabatmu. Tentu kamu boleh pergi. Namun sepertinya aku tidak bisa ikut karena aku harus mengesahkan pembukaan perusahaan cabang diluar kota pada hari yang sama. Aku akan meminta seseorang menemanimu."
"Di pesawat kan ada banyak sekali pramugari dan bahkan ada perawat. Jika aku butuh sesuatu secara tiba-tiba, aku akan meminta bantuan mereka."
Alva sedikit memikirkannya. Melihat tatapan Arana, Alva menghela napas dan menganggukkan kepalanya, mengizinkanmu pergi sendirian. "Tapi pastikan bibi Cella atau menjemputmu dibandara."
Arana menganggukkan kepalanya. "Oke, sayang! Terimakasih sudah percaya padaku."
"Aku akan selalu percaya kepadamu, sayang."
Alva menarik Arana kepelukannya, memastikan bahwa dia tidak menekan perut Arana dan dengan lembut mengusap surai Arana. "Yang penting sekarang adalah berjanjilah untuk menjaga dirimu dan segera hubungi aku jika kamu butuh sesuatu. Oke?"
Arana mengangguk. "Oke!"
Kemudian dua hari kemudian, Arana diantar oleh Alva menuju bandara dan Alva memastikan bahwa Arana berada di penerbangan paling nyaman dengan tenaga medis dan pramugari yang profesional. Ketika pesawat lepas landas, Alva yang berdiri didekat jendela menghela napasnya.
__ADS_1
"Bapa, tolong jaga Arana."
...***...
Setelah belasan jam tebang, Arana kemudian turun dari pesawat. Ia tidak membawa banyak barang dan hanya membawa ransel berukuran kecil yang hanya berisi ponselnya, dompet dan beberapa snack ringan, sebab Cella mengatakan kepada Arana bahwa semuanya sudah akan disiapkan oleh Cella, termasuk pakaiannya.
Arana memandang sekelilingnya guna menemukan sosok yang katanya akan menjemputnya. Arana mengedarkan pandangannya sekali lagi, sampai pandangannya sedikit terhenti ketika melihat sosok yang akrab baginya. Pria muda itu bersandar di pilar bandara, mengenakan kacamata sembari memegang ponsel ditangan kanannya, dan nampak tengah melihat sesuatu dengan wajah serius yang hampir jarang Arana temukan dari sosok Asyon.
"Asyon!" Panggilnya begitu ia berjarak beberapa meter dari Asyon.
Asyon mendongak dan segera menemukan Arana. Arana saat itu menggunakan mini dress selutut berwarna abu muda yang lembut. Arana memadukannya dengan cardigan kotak-kotak berwarna merah maroon dan putih. Helaian surainya diikat menggunakan pita yang membuat penampilannya lebih sederhana.
Melihat tas yang dibawa Arana, Asyon segera mengulurkan tangannya, mengambil ransel Arana dan membawanya disebelah bahunya.
"Terimakasih. Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kamu menunggu? Apa sudah lama? " Tanya Arana.
"Belum lama. Baru limabelas menit. Mama bilang kamu akan tiba disini jam sembilan, jadi aku menjemput dari rumah jam tujuh. Untuk tidak macet." Jawab Asyon sembari berjalan beriringan keluar dari bandara dibawah tatapan beberapa pengunjung bandara yang merasa penasaran akan keduanya.
Arana melangkah dengan sedikit hati-hati menuruni tangga dengan bantuan Asyon. Keduanya sesekali mengobrol sampai mobil, dan sampai mobil melaju menuju rumah Amber, dimana acara pernikahan akan dilangsungkan. Arana dengan tenang melangkah keluar bersama dengan Asyon ketika mobil itu berhenti di depan sebuah bangunan sederahana namun nyaman. Ada sebuah karangan bunga dipagar rumah, penuh dengan romantisme.
Cella segera menyambut Arana dengan senyuman lebar.
"Sayangnya Cece! " Cella berteriak dan memeluk Arana, bukan pelukan erat karena dia tidak ingin menyakiti jabang bayi diperut Arana.
Cella kemudian sedikit membungkuk dan mengusap perut Arana. "Halo, sayang~ Ini granny Cece~! "
"Maaf Nana telat, Cece." Kata Arana meminta maaf yang segera mendapatkan gelengan kepala dari Cella. "Tidak telat kok, Nana. Ayo masuk! Cece sudah menyiapkan gaun yang akan dikenakan Nana nanti. Kemudian kita akan pergi bersama-sama ke gereja untuk melangsungkan pernikahan Amber dan Exel."
Arana menganggukkan kepalanya. Dua jam kemudian, Arana sudah tampil menawan dengan balutan gaun semi biru selutut yang bagian lehernya tinggi. Arana melapisinya dengan sebuah selendang berwarna biru yang menjaga tubuhnya untuk tetap hangat meskipun saat itu cuaca sedikit terasa dingin namun menyenangkan. Setelah bersiap, Arana, Asyon, Cella, Jake dan Arselyne bersama-sama menuju gereja tempat pernikahan akan dilangsungkan untuk menjadi saksi.
Manik Arana memandang foto Amber yang tengah dipeluk hangat oleh Exel.
Arana menatapnya selama beberapa saat sebelum menyunggingkan sebuah senyuman tipis.
__ADS_1
"Amber, aku mendoakan kebahagiaanmu. Kebahagiaan, dimana selamanya kamu akan tersenyum tanpa perlu mengingat kesedihan dan rasa sakit yang selama ini kamu rasakan dan kamu pendam."