
Civanya memandang Arana yang sejak tadi termenung. Meski Arana memang menepati janjinya menemaninya ke toko buku, namun gadis itu sejak tadi diam dan hanya berdiri didepan rak yang sama sembari mengulurkan tangannya dan menyentuh buku dengan cara yang ceroboh. Hal itu membuat Civanya tidak tahan lama kelamaan.
"Na, apa kamu sedang tidak enak badan?" Tanya Civanya, "Jika iya kita bisa kembali sekarang. Aku bisa membeli buku besok."
Arana tersadar dari lamunannya ketika mendengar pertanyaan Civanya. Arana jadi merasa bersalah ketika dia mendengar perkataan terakhir Civanya. Arana dengan cepat menggeleng. "Tidak, kok! Aku sehat. Aku hanya sedang mengingat buku apa yang ada dirumah dan ingin membeli volume terbarunya."
Civanya sedikit ragu. "Kamu serius?"
Arana menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, menyakinkan Civanya agar tidak perlu khawatir dan bisa melanjutkan kembali memilih buku.
"Baiklah kalau begitu."
Melihat Civanya kembali memilih buku, Arana menghela napas samar yang hanya bisa didengar olehnya sendiri. Sepasang maniknya terpejam selama beberapa detik, sebelum terhenti ketika dia melihat sebuah buku yang ada dirak atas. Arana memandangnya selama dua detik, sebelum kedua tangannya terkepal.
"Civa?" panggilnya membuat Civanya yang ada dibelakangnya segera menoleh.
"Ya? Apa sekarang kamu benar-benar tidak nyaman?" tanyanya.
Arana tidak mengalihkan tatapannya dan dengan ragu bertanya, "Jika aku merubah sikapku disekolah, apakah kamu akan berpikir aku aneh?"
Civanya mungkin mengerti maksud Arana, dan dia jelas tahu alasannya. Namun Civanya tidak bisa terang-terangan menjawab. "Sebenarnya akan aneh."
"Tapi, perubahan ke arah mana dulu. Jika itu perubahan ke arah yang lebih baik, menurutku tidak akan aneh sama sekali. Itu seperti Noona dari novel Love Triangle. DIa penjahat, tapi dia sadar dan segera mengubah dirinya, kemudian orang-orang tidak lagi membencinya." Lanjutnya.
"Oh, jadi aku penjahat, begitu?" tanya Arana.
Civanya menyengir tanpa dosa. "Aku kan mengilustrasikannya. Ini hanya seperti, bukan sama. Tapi intinya, jika kamu mau berubah ke arah yang lebih baik, aku akan mendukungmu seratus persen, tidak! Dua ratus persen!"
Bukan tanpa alasan Arana menanyakannya kepada Civanya. Arana ingin berubah.
__ADS_1
Arana tidak ingin berpura-pura menjadi Arana dan meniru sikapnya yang selama ini dimilikinya. Arana akan memang masih mempertahankan identitasnya sebagai Alana karena tidak ingin Alva sakit hati dan membencinya, namun dia akan mengubah sikapnya, memunculkan karakternya sendiri dan tidak akan peduli bahkan jika orang lain berpikir dia aneh atau terbentur sesuatu hingga membuatnya berbeda. Toh pada kenyataannya, hanya segelintir orang yang tahu bahwa Lidia memiliki putri kembar. Semua orang hanya mengetahui bahwa satu-satunya putri Lidia dan Michael adalah Alana, bukan Arana. Jadi bahkan jika dia berubah, mereka tidak akan berpikir macam-macam.
Arana memandang buku didepannya dan bibirnya tanpa sadar tersungging.
Jadilah Dirimu Sendiri.
...***...
Malam telah tiba ketika Arana sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Langit menggelap, meninggalkan rona kemerahan samar ketika sang raja siang berpaling untuk menyapa belahan bumi yang lain. Arana tengah duduk ketika dia memandang nomor dilayar ponselnya dengan ragu. Arana menarik napas selama beberapa waktu sebelum dengan tegas menekannya. Ada suara dial sebelum beberapa waktu kemudian panggilan itu tersambung. Ada sebuah suara yang menyapa diseberang.
[Siapa ini?]
Arana mendengar suaranya yang arogan dan tidak bisa menahan untuk tidak mencibir dalam hatinya. "Ini aku, Arana."
[Oh, kau? Tumben sekali menghubungiku, ada apa?]
Suara Alana terdengar sangat tidak tertarik, dan Arana bahkan merasa bahwa saat ini mungkin Alana tengah melakukan perawatan tubuh dan mendengarkannya hanya untuk masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Namun Arana tetap membuka bibirnya. "Alana, berapa banyak rahasia yang kau simpan?"
"Berapa banyak rahasia yang kamu sembunyikan untuk membuatku selalu dalam masalah, Alana? Mengapa kau tidak mengatakan semuanya kepadaku?" tanya Arana.
Suara Alana nampak tidak senang. [Kau bisa bahasa manusia atau tidak? Aku bertanya dan kau menjawab dengan jawaban aneh macam itu. Jawab aku dengan benar, apa maksudmu?]
Arana menghela napas dan berkata, "Aku bertemu dengan David. Seseorang yang mengaku sebagai teman benefitmu."
[David? David ... oh, ya, aku ingat dia. Apakah dia mencoba berhubungan dengamu? Haha, terima saja, kau akan dapat banyak keuntungan darinya jika kau mau.]
"Dia menyebut tentang Stephen padaku!" lantang Arana. Ia merasa marah ketika Alana dengan mudahnya menyamakan dirinya sendiri dengannya. Arana sama sekali tidak sudi untuk melakukan hal itu hanya demi manfaat duniawi.
Ada keheningan sebelum suara Alana kembali terdengar, sama tidak tertariknya. [Oh, kau sudah tahu tentang dia? Lalu apa?]
__ADS_1
Arana tercengang. Apakah dia baru saja mendengarnya berkata lalu apa?
[Bahkan jika kau sudah mengetahuinya, apa yang bisa kau lakukan? Dia sudah hidup bersama dengan orang lain, kan? Biarkan saja.]
"Bukan itu intinya, Alana!" tegas Arana, "Kau ... sudah pernah melahirkan dan begitu responmu?"
[Ghash! Lalu kau mau aku berbuat apa?! Kau pikir aku mau menanggung anak itu dan mengakui bahwa aku memang pernah hamil dan melahirkan pada semua orang? Kau memang benar-benar menyebalkan, ya? Kau ingin membuatku terlihat buruk dimata orang lain, kan? Mama dan papa lebih menyayangiku, jadi kau cemburu dan ingin me-!]
"Alana!!"
Arana tidak habis pikir. Bagaimana dia bisa mengatakannya semudah itu?!
Arana tahu bahwa dia juga tidak bisa melakukan apapun karena Stephen yang adalah keponakannya itu sendiri sudah hidup nyaman dan bahagia dengan orang lain. Bahkan jika dia muncul, dia hanya akan membuat kekacauan, makanya Arana juga tidak bisa melakukan apapun. Namun ... tidakkah Alana sedikit saja, sedikit saja merasa bersalah?
[Kau gila berani meneriakiku, huh?!]
"Apa hati nurani sudah mati? Apa kau tidak merasa sedikitpun bersalah telah menelantarkan buah hatimu sendiri hanya karena gengsi yang kamu miliki dan kesalahan yang kamu lakukan sendiri?!" tanya Arana penuh penekanan.
"Kamu memang pernah hamil dan melahirkan, kamu tidak bisa mengelak dari kenyataan itu! Tetapi, bukankah itu juga kesalahan yang kamu lakukan karena melakukan perbuatan tidak senonoh diusia yang masih dibawah umur? Bagaimana kamu bisa begitu nekat dan berakhir mengorbankan anakmua. Apa kamu pernah membayangkan jika sepupu David tidak menerima Stephen, apa yang akan terjadi padanya, huh?!"
[Rasa bersalah? Kau pikir kau siapa bisa mempertanyakan nuraniku? Kau tidak tahu apa-apa tentang diriku, jadi jangan pernah mengomentari tentang hidupku! Kau hanya anak yang dibuang! Sama dengannya, kau itu benar-benar mengganggu dan parasit yang pantas disingkirkan jauh-jauh!]
[Jangan menghubungiku lagi, sialan!]
Tut!
Manik Arana memerah, dan debuman jantungnya bisa ia dengar sendiri diruang apartemen yang kosong itu. Arana memejamkan mata. meremat ponselnya kuat sebelum dengan keras memukul bantalan sofa yang didudukinya guna menyalurkan emosinya.
Kini Arana benar-benar yakin, bahwa tidak ada diantara mereka yang bisa disebut keluarga. Bahkan saudari kembarnya sendiri yang seharusnya terhubung secara batin dengannya, tidak bisa menyadari kesalahannya barang sedikitpun.
__ADS_1
"Nenek, Rana tidak bisa menganggap mereka keluarga Rana, nenek." Lirihnya sebelum mengusap wajahnya kasar dan menghela napas dengan tegas.