My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 14: The Perfect Wedding Dress


__ADS_3

Beberapa hari berlangsung dengan cepat. Bagi Arana, beberapa hari itu benar-benar tidak berasa, dan ketika dia menyadarinya, dia telah ada didepan cermin rias, menunggu acara pernikahan berlangsung. Arana tidak mengerti, namun dadanya bergemuruh. Seakan dia gugup, tidak, sebenarnya dia memang gugup dan sedikit cemas.


"Nenek, apa keputusan Rana benar?" Batinnya sembari meremat kedua tangannya didepan dada.


Acara pernikahan diadakan disebuh gedung megah yang memang diperuntukkan untuk pernikahan. Perlu beberapa bulan bagi pasangan untuk dapat menyewa tempat yang berharga fantastis ini. Tetapi, sepadan dengan uang yang telah dikeluarkan, dekorasi dan semua detail kecil diperhatikan oleh seluruh staf pekerja. Wedding Organization mempersiapkan acara dengan sangat baik. Penataan bunga-bunga putih dan merah yang mewah, dengan meja putih dan ukuran kaca yang mempesona oleh lampu berwarna biru yang lembut dan hangat. Setiap kaca dan ventilasi udara diperhatikan, memastikan pada pagi itu, semua orang merasa nyaman dan merasakan kebahagiaan yang turut tersampaikan oleh masing-masing keluarga besar keduanya.


Arana menarik napas, mencoba menenangkan dirinya. Diruang pengantin perempuan yang memiliki nuansa putih dan dipenuhi dengan mawar putih yang melambangkan kesetian dan ketulusan, Arana sesekali memandang dirinya dipantulan cermin. Oh, betapa cantiknya dirinya disana.


Arana tidak narsis, jika bisa dipahami, itu sebuah ironi. Disana memang dirinya, tetapi yang dilihat orang lain, dirinya adalah Alana. Mereka tahu bahwa ini pernikahan Alana, dan bukan Arana. Mereka hanya tahu bahwa dirinya adalah gadis yang dicintai Alva, bukan perempuan yang bahkan dilupakan dan ditinggalkan oleh keluarganya untuk hidup seorang diri didunia.


Akankah Arana bisa mempertahankan identitasnya dari Alva? Bahkan jika bisa, sampai kapan dirinya harus mengambil posisi Alana dan menjadi istri palsu Alva?


"Nenek, Arana takut. Arana mohon, kuatkan Rana." Batinnya sembari memejamkan matanya. Berharap semua keluhannya sampai kepada Tuhannya dan kepada neneknya.


"Gawat! Bagaimana ini?"


Mendengar keributan dari arah ruang gantinya, Arana menoleh dan bangkit berdiri. Melangkah mendekat dengan dorongan rasa penasarannya. Sepasang manik itu melebar kala melihat gaun yang seharusnya dikenakannya pada hari ini, terkoyak dibanyak sisinya, hampir hancur. "Ada apa ini? Kenapa gaunnya bisa sampai seperti ini?! " Kagetnya membuat dua pekerja di butik Katrina menoleh dengan kaget, sedikit tersentak.

__ADS_1


"Ma-Maafkan kami nona! Sa-Saat kami pergi untuk mengambil tudung gaun, gaunnya—" Dia tidak bisa melanjutkan perkataannya ketika dia menangis.


"Nona Karina pasti akan sangat sedih, hikss.. Gaun ini telah dibuatnya penuh perhatian untuk acara pernikahan nona, hiks.. Mohon maaf, nona, hiks.." Gadis itu menangis, dan yang lebih muda menenangkan di sampingnya, namun memasang wajah cemas, sedih dan takut. "Acara akan dimulai dalam 2 jam. Jika, jika anda tidak memakai gaun, bagaimana anda bisa melakukan pernikahan? Sedangkan nyonya Karina sedang tidak ada dikota ini."


Arana menatap tanpa bisa berkata. Bagaimana ini? Sekarang gaunnya rusak, dan pernikahannya akan dilangsungkan dalam 2 jam. Apakah dia tidak seharusnya panik?


Itu gila, dia panik!!


"Tidak ada gaun lain yang kalian bawa?" Pertanyaan itu diangguki oleh yang berambut coklat. "Ada, nona. Kami tidak sengaja membawanya dalam kotak. Namun, gaun itu adalah model lama, dan tidak secantik gaun ini. Gaun itu juga sedikit berlebihan pada hiasannya."


Keduanya saling pandang selama beberapa saat, sebelum menganggukkan kepalanya dan bergegas melaksanakan apa yang diperintahkan Arana. Alasan Arana tidak ingin masalah ini diketahui, karena Arana tidak ingin membuat suasana menjadi kacau karena cemas dan panik. Arana mungkin bukan detektif atau polisi yang bisa menelisik kasus, tapi Arana tahu bahwa dia——ralat, Alana ditargetkan oleh seseorang. Alasan orang itu melakukan ini mungkin untuk memancing agar pernikahan ini ditunda, atau bahkan berpikir bahwa Alana akan dipermalukan. Atau bahkan dalam pikiran Arana yang lebih buruk, merencanakan untuk pergi membeli gaun dan pesta hancur karena dirinya terjebak oleh kemacetan atau parahnya disekap didalam ruang ganti. Namun, Arana menyunggingkan senyuman.


"Untuk apa nilai penuhku di semua mapel dan desain jika aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini?" Gumam Arana.


"Mohon maaf orang asing, aku tidak akan membiarkanmu mengacaukan pernikahanku! Ups, maksudku, pernikahan Alana!" Tekadnya.


...***...

__ADS_1


"Mengapa Ala belum juga muncul?" Alva bertanya kepada sang mama yang berdiri disampingnya, siap memulai acara.


Sang mama——wanita berparas ayu dengan surai kecoklatan, menggelengkan kepalanya. Dia memandang jam ditangannya, dan nyonya Erlangga segera berkata, "Mama akan menyusulnya."


"Oh, sepertinya tidak perlu, ma." Tuan Erlangga berkata, menunjuk kearah garis lain karpet merah yang akan dilalui Arana untuk menuju Alva.


Keduanya menoleh. Tertegun mendapati sosok Arana berdiri disana. Sepasang manik itu sedikit terkulai. Bibirnya merah muda alami dengan pipi kemerahan dan helaian rambut karamelnya yang ditata sedemikian rupa. Dengan tambahan hair extensions, rambut gelung yang mempesona itu berhasil membuat siapapun yang melihatnya akan terpana. Betapa cantiknya.


Tetapi yang istimewa adalah gaunnya. Semua orang yang sadar akan tahu bahwa gaun yang dikenakannya berbeda dengan hasil foto prewedding mereka yang dijadikan latar belakang pintu masuk. Sebuah gaun putih panjang yang melilit tubuhnya terlihat unik, hampir tidak bisa dimengerti bagaimana seseorang bisa membuatnya. Dengan bagian ekor yang panjang dan melebar seperti sebuah permadani yang penuh pesona. Lengan rampingnya terekspos, namun leher jenjangnya terlindung dalam lilitan kain putih yang berhiaskan bunga mawar putih. Bahkan, begitu nyatanya sampai kupu-kupu, hinggap disekitar gaun yang berornamen mawar putih itu.


"Sangat cantik."


Alva bergumam tanpa sadar. Mengalihkan tatapan sang mama untuk menatapnya. Arletta Delliska menatap putranya dalam diam. Sesungguhnya, dia tidak pernah menyukai gadis yang menjadi pilihan putranya. Gadis angkuh, arogan dan tidak tahu sopan santun serta manja itu tidak lebih sebagai alat yang digunakan oleh keluarganya untuk jalinan bisnis. Namun Arletta juga tahu, bahwa dilain sisi, putranya mencintai gadis itu, sehingga membuatnya buta akan keburukan gadis itu.


Menatap kedepan, Arletta menghela napas tanpa suara. Tapi dia tidak bisa mengelak, bahwa gadis didepan sana, sangatlah cantik. Benar-benar cantik.


__ADS_1


__ADS_2