My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 51: Honest Heart


__ADS_3

Membuka maniknya perlahan, cahaya terang dari lampu di langit-langit kamar inapnya membuat Arana berkedip beberapa kali, menyamankan penglihatannya sembari melengguh pelan ketika rasa pening hinggap dikepalanya.


"Uh!"


"Sayang? Kamu sudah bangun? Tidak apa, tidurlah lagi. Jangan banyak bergerak dulu." Suara yang akrab itu membuat Arana menoleh. Kesadarannya sepenuhnya sudah kembali. Disana, ada Alva yang duduk disebelahnya.


Ia mengerjab bingung. "Aku ... Apa yang terjadi?"


Alva meraih tangannya, meremasnya lembut, menghantarkan rasa nyaman pada si gadis. "Kamu mengalami kecelakaan, sayang."


Arana berkedip, sebelum ingatan mengalir dikepalanya. Benar jugs, beberapa waktu lalu dia mengalami kecelakaan setelah kembali dari boutique Karina. Dia tengah menyeberang, ketika sebuah mobil melanggar lampu lalu lintas dan menabraknya. Arana ingat dia sedikit mengurangi efek benturan dengan menahan bagian depan tubuhnya dengan tangan, namun pingsan karena terdorong dua meter. Kepalanya membentur tepi jalan dan pandangannya berkunang-kunang sampai dia tidak sadar apa yang terjadi padanya.


"Apa aku cacat? Apa aku lumpuh? Aku tidak bisa berjalan lagi, kan?!" Arana bertanya dengan panik ketika dia ingat kakinya terbentur badan mobil dengan cukup kuat. Rasa sakit yang dirasakannya waktu itu masih membekas.


Alva mengusap lengannya dan berkata dengan lembut. "Tenang, sayang. Kamu tidak cacat. Kamu tidak lumpuh. Kakimu hanya sedikit mengalami keretakan. Tapi itu akan sembuh dalam beberapa minggu dan sembuh total dalam beberapa bulan."


"Benarkah?" Tanya Arana memastikan.


Alva mengangguk. "Iya sayang. Dokter bilang, selama kamu banyak makan makanan dan minuman yang mengandung kalsium, kaki kananmu akan segera sembuh."


Arana melirik kaki kanannya yang diperban. Keram dan ngilu ketika dia mencoba menggerakkannya. Arana menghela napas. Dia tidak boleh mengeluh hanya karena luka kecil yang dialaminya. Tuhan masih menyayanginya dengan menjaganya. Hanya mengalami keretakan tulang, Arana bersyukur nyawanya masih selamat. Sebab, jika Arana terlambat sedikit saja bereaksi, sudah dipastikan tubuhnya akan terhantam kuat dan mungkin baginya untuk berada di ruangan lain yang membuatnya bergidik ngeri.


"Terima kasih, Bapa. Engkau masih menyelamatkanku dari maut." Batin Arana tak lepas dari rasa bersyukurnya.


Fokus Arana teralihkan pada Alva yang menggenggam erat tangan kanannya. Menempelkannya didahinya. "Aku sangat takut terjadi sesuatu kepadamu, sayang."


Hati Arana menghangat. Namun dilain sisi, dia juga merasakan hatinya sakit.

__ADS_1


Arana yang berumur 5 tahun pernah mendatangi Lidia ketika Lidia datang ke Melbourne untuk memberikan uang bulanan sekaligus mengajak liburan Alana yang sedang marah. Terlihat dari wajahnya yang selalu tertekuk ketika menginjakkan kakinya kerumah sederhana sang nenek.


Pada waktu itu, Arana sedang terluka karena perundungan yang dilakukan oleh teman sekolahnya. Tangannya terkilir dan sedikit bengkak.


Dia menunjukkannya kepada sang mama, berusaha mendapatkan sedikit saja perhatian. Jika Lidia tidak suka dia lebih baik dari Alana, mungkin perhatian Lidia akan dia dapatkan dari luka yang di dapatkannya. Mungkin sang mama akan iba, dan mulai memperhatikannya. Namun, Arana salah.


Lidia justru memandangnya kembali sebagai anak pembawa masalah dan menyuruhnya untuk menjadi anak baik yang tidak melakukan tindakan buruk.


Arana sudah terbiasa tanpa kasih sayang, selain dari nenek dan sahabatnya.


Perhatian yang diberikan Alva kepadanya membuatnya luluh. Hatinya yang mendambakan dan merindukan kehangatan juga kasih sayang tergerak oleh kebaikan dan ketulusan Alva. Setiap tindakan kecil yang dilakukannya. Perhatiannya. Senyumnya. Tatapannya. Menghangatkan hati Arana..


Tapi kemudian Arana selalu dan selalu menyadari, bahwa tatapan itu hanya untuk Alana, bukan untuknya. Senyuman itu, perhatiannya, kata-kata manis Alva kepadanya hanya karena dirinya berpura-pura menjadi Alana.


Yang dicintai Alva adalah Alana, bukan dirinya.


Kenyataan itulah yang membuat dada Arana sesak. Ia sakit ketika Alva tersenyum kepadanya. Ia sakit ketika Alva memanggilnya sayang dengan lembut. Dia sakit ketika Alva memeluknya ketika malam menjelang.


Dia hanya Arana, yang tak tahu malu mencintai seorang pria yang dia tipu. Ketika cinta pria itu begitu tulus.


Arana mengepalkan tangannya. Bulir air mata tak bisa ditahan, meluncur lolos dari ujung matanya. Arana hanya ingin bahagia, Arana hanya ingin diperhatikan. Arana juga manusia, dia seorang anak. Dia sama seperti Alana, bahkan mereka adalah saudara kembar. Tapi kenapa?


"Sayang?" Alva terbeo ketika melihat bulir air mata diwajah Arana. Ia kelimpungan ketika isakan perlahan lolos dari bibir pucat gadis itu. "Hiks ... Hiks!"


Alva mengusap air matanya dan bertanya dengan cemas. "Sayang, ada apa? Apakah ada yang sakit? Apa sesuatu mengganggumu? Mengapa kamu menangis??"


Tidak mendapatkan jawaban apapun, Alva hanya bisa mendekap Arana. Ia mengelus punggung tipisnya dan mengucapkan kata-kata lembut yang membuat hati Arana semakin sakit.

__ADS_1


Kenapa kehidupan mereka begitu berbeda?


"Hiks!"


...***...


"Va, apa dia baik-baik saja?"


Erlan bertanya kepada Alva ketika menemukan manik sembab gadis itu. Arana tengah tertidur dipelukan Alva, memeluknya erat seolah jika Alva pergi, ia akan kehilangan segalanya. Wajah pria itu dingin, namun tangannya dengan lembut menyentuh pipi Arana, menyeka sisa air mata yang tercetak setelah hampir setengah jam menangis. Ia merasakan napas halus di lehernya, dan tangannya terkepal.


"Dia menangis. Mengapa dia menangis?" Gumam Alva.


Erlan yang berdiri disampingnya sedikit ragu. Pads akhirnya, dis tidak mengatakan apapun dan hanya memperhatikan dalam diam. Sahabatnya benar-benar telah jatuh kepada gadis itu.


Erlan mengenal baik Alva sejak lama.


Dulu sekali, Alva adalah pribadi yang dingin, kaku, dan hampir tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun kecuali Flora. Bahkan dengan Flora-pun, hubungan mereka tampak seperti lebih kepada hubungan mutualisme. Flora yang butuh tameng agar tidak dijodohkan, dan Alva yang muak dikejar-kejar oleh perempuan saat mereka duduk di bangku kuliah.


Kemudian dia berpacaran dengan Alana. Erlan tahu bahwa itu adalah kepalsuan, sikap manis dan baiknya selama ini tidak lebih dari sekedar rencana balas dendam. Erlan pikir Alana akan luluh pada Alva, namun siapa sangka jika ternyata gadis itu kabur, dan mrnyuruh Arana untuk menggantikannya hanya agar perusahaan orangtuanya tidak bangkrut jika kerjasama antara perusahaan Michael dan Erlangga putus.


Arana adalah sebuah anomali di rencana Alva.


Erlan tidak berpikir bahwa Alva mendekatinya karena cinta. Mungkin Alva ingin menjadikannya sebagai senjata untuk menghancurkan Alana. Namun nyatanya, sikap yang selama ini Alva tunjukkan pada Arana adalah bentuk ketulusan yang sebenarnya. Alva benar-benar menyukai Arana.


Bagi Erlan, siapapun itu, selama Alva benar-benar mencintainya dengan tulus, dan tidak menyakiti Alva, Erlan akan menerimanya.


Maniknya memandang Arana dengan lekat. Namun dia tidak bisa menahan untuk berharap, agar Arana mampu mrmbuat Alva melupakan balas dendamnya.

__ADS_1


"Balas dendam tidak akan mengubah apapun, Va. Lagipula, psinsip yang kamu pegang selama ini, bukanlah hal yang diinginkan adikmu, kan?" Batinnya dalam keterdiamannya.



__ADS_2