
"Na, bagaimana keadaanmu?"
Civanya bertanya kepada Arana yang tengah bersandar diranjang rumah sakit sembari menikmati buah yang telah dia kupaskan. Anggur adalah salah satu buah kesukaan Arana, jadi dia dengan tenang menikmati acara makan buahnya dengan riang hati.
Membalas pertanyaan Civanya, Arana mengangguk. "Aku baik-baik saja. Apa kau pikir aku begitu lemah sampai aku bisa kenapa-kenapa hanya karena luka seperti ini?"
Tidak, awalnya Arana benar-benar ketakutan. Arana hampir tidak bisa tenang semalaman dan terus menangis didekapan Alva. Mengingat bagaimana Alva semalaman tidur diranjang rumah sakit bersamanya, memeluknya dipelukannya, dan membiarkannya tidur didadanya. Setiap kata-kata lembut yang diucapkan oleh Alva masih terngiang dikepalanya dan ia benar-benar merasa malu untuk hal itu. Tetapi mengingat betapa hangatnya pelukan Alva semalam, hati Arana menghangat dan ia tidak bisa menahan senyuman lembut tercipta dibibirnya.
Civanya yang melihat itu membuka bibirnya dan menggoda Arana, "Oh. Apa kau sedang mengingat Alva sekarang?"
Arana tertangkap basah dan dia menggeleng dengan wajah merah. "Tentu saja tidak!"
"Wajahmu semerah tomat, tau~" goda Civanya membuat Arana kelabakan, sebelum pada akhirnya menutup kedua pipinya menggunakan telapak tangannya dan sedikit menundukkan kepalanya, memandang tidak puas pada Civanya.
"Jangan menggodaku, atau aku akan memanggil Senandika agar menyeretmu pergi."
Senandika adalah tunangan Civanya. Pria itu merupakan dokter yang terkenal dirumah sakit langganan Arana, jadi Arana cukup mengenalnya. Mendengar ancaman kekanakan Arana, Civanya terkekeh pelan sebelum tatapannya terfokus pada apel ditangannya yang tengah ia kupas.
"Suamimu benar-benar sangat peduli padamu." Ucap Civanya.
Arana memandang Civanya yang masih menunduk mengupas apel dan diam untuk mendengarkan perkataannya. "Ketika aku menghubunginya malam itu, dia segera ke club untuk menemukanmu. Bahkan ketika kamu tidak sadarkan dipelukannya, dia memelukmu sangat erat dan menangis untukmu. Aku ada didekatnya, dan aku mendengar kata-katanya. Dia bilang, dia berharap bisa menyerap semua rasa sakitmu karena hatinya hancur melihatmu dalam keadaan parah saat itu."
Civanya mendongak, memasang senyuman. "Suamimu benar-benar mencintaimu. Betapa beruntungnya kamu."
Arana memandang Civanya tanpa kata-kata, sebelum dia dengan ragu menurunkan tatapannya dan bersuara dengan suara pelan. "Sebenarnya, keberuntungan seseorang itu benar-benar sebuah ketidakadilan bagi orang lain."
"Ah?" beo CIvanya.
"Kamu tahu, terkadang ... aku begitu ketakutan jika suatu hari nanti, Alva akan berbalik dan meninggalkanku--tidak, bukan begitu," lirihnya, "Aku begitu takut, jika suatu saat nanti dia akan memandangku dengan tatapan yang tidak dia perlihatkan padaku saat ini."
"Jika itu terjadi, mungkinkah aku ..."
"Kamu apa?" tanya Civanya.
Arana menggeleng. "Lupakan, aku hanya mengatakan omong kosong."
__ADS_1
Pada akhirnya, bahkan Arana tidak bisa mengatakan bahwa dirinya, mungkin tidak akan pernah bisa melupakan Alva seumur hidupnya.
...***...
Beberapa minggu berlalu, dan Arana sudah diizinkan untuk keluar dari rumah sakit. Luka diwajahnya menghilang, meski masih terlihat sedikit, itu hanya samar, dan ditutupi menggunakan foundation tipis saja, bisa tersamarkan. Luka dibibirnya sudah mengering dan sembuh. Penampilan Arana lebih hidup daripada sebelumnya.
Dibelakangnya, Civanya membawakan tas barang-barang yang digunakan Arana selama dirumah sakit, dan Alva menuntun Arana dengan begitu perhatian. Sejak beberapa minggu lalu, Civanya menjadi satu-satunya teman Alana yang datang menjenguk Arana dan menemaninya selama beberapa jam sampai Alva kembali, agar Arana tidak merasa bosan di kamar rumah sakit sendirian.
Sejak saat itu juga, hubungan CIvanya dengan Arana menjadi jauh lebih dekat dan jauh lebih baik. Arana mengabaikan bahwa dia harus menjadi Alana didepan Civanya dan mengubah kepribadiannya didepan gadis yang dia anggap teman baik itu. Arana tidak ragu bercerita tentang keluhannya kepada Alva ketika pria itu membuatnya kesal, Arana tidak ragu banyak bercerita tentang hidupnya selama menjadi Alana, dan dia tidak ragu menanggapi gurauan dan cerita Civanya.
Civanya tidak pernah membahas tentang alasan perubahannya, dan Arana juga tidak ingin memberitahunya.
Kedekatan mereka mengalir begitu saja.
"Al, kita mampir ke restoran hot pot dulu, ya? Aku ingin makan hot pot~" kata Arana sembari memandang Alva dengan manik memohon.
Ditatap dengan tatapan sedemikian rupa, Alva pada akhirnya hanya bisa menghela napas, mengulas senyuman lembut dan mengangguk setelah mengusap surai Arana dengan kasih sayang. "Tentu saja, sayang. Apapun untukmu."
"Civa harus ikut."
"Ikutlah dengan kami! Ayolah, Civa ikut, ya?" bujuk Arana sembari meraih lengan Civanya dan menggoyangkannya beberapa kali.
Gadis itu melirik Alva yang dengan tenang berkata, "Ikutlah dengan kami."
Civanya mengangguk dengan ragu. "Maaf merepotkan kalian hari ini."
Setelah senyuman bahagia Arana tercipta, mereka melangkah masuk bersama-sama kedalam mobil Alva dan dalam hitungan menit sudah sampai disebuah restoran hot pot yang terkenal disana. Sebenarnya, itu adalah restourant yang sering didatangi Alva ketika dia sedang dalam suasana hati yang buruk dan ingin melepaskan emosinya.
Sejujurnya, hot pot disana sangat pedas bagi Alva.
Melangkah masuk beriringan, pelayan dengan ramah menyambut Alva yang dikenal mereka sebagai tamu VIP. "Selamat datang, tuan Erlangga dan nona-nona."
Arana berjalan sembari memandang Alva. "Oh, mengapa mereka bisa mengenalmu, Al? Apa kamu sering makan kesini?"
Alva tersenyum. "Sebenarnya tidak terlalu sering. Aku hanya beberapa kali makan disini, namun aku membeli kartu member VIP untuk alasan kenyamanan ketika ingin makan disini."
__ADS_1
Arana mendengus. "Wow, jika punya uang begitu banyak, memang mudah untuk melakukan sesuatu."
Civanya tersenyum disampingnya dan berkata, "Kamu juga pernah menyewa seluruh kantin untuk dirimu sendiri ketika kamu sedang tidak ingin diganggu saat makan beberapa kali disekolah, lho~ Kalian berdua sama saja."
Mendengar itu, senyuman Arana mendadak kaku. Alana melakukannya? SIal, seberapa banyak uang saku sekolah Alana sampai bisa menyewa seluruh kantin hanya untuk dirinya sendiri?
Arana mengerutkan bibirnya dan memandang Civanya. "Itu kan sudah lama. Sekarang aku sedang senang, jadi tidak akan menggunakan kapitalisme untuk mengganggu pelanggan lain yang ingin makan bersama juga."
"Baik, baik."
Tidak lama, mereka duduk disebuah meja dengan sekat disekelilingnya. Meja itu berhadapan dengan pemadangan kota yang menawan dari lantai dua. Kaca jendela adalah satu arah, jadi pejalan kaki tidak akan bisa melihat apa yang ada dibalik kaca ketika pengunjung restourant itu bisa melihat mereka.
"Selamat datang, pesanan apa yang ingin dibuat?" tanya waitress itu.
Arana memandang papan menu dan berunding dengan Civanya dan Alva. Setelahnya, Alva berkata kepada sang pelayan. "Hot pot nomor 2 dan dengan tambahan telur steril."
Pelayan mencatat pesanan mereka dengan sebuah note book kecil dan segera menganggukkan kepalanya setelah mendapatkan pesanan mereka sebelum dengan tenang menarik dirinya keluar dari bilik itu dan melaporkan pesanan kepada sang koki dapur. Karena Civanya ternyata tidak begitu suka pedas sama seperti Alva yang tidak suka dengan rasa pedas, mereka membeli dua jenis kuah hot pot yang berbeda dengan daging sapi impor. Arana juga memesan beberapa jenis jamur, cumi-cumi dan beberapa dimsum dan pangsit.
Restourant itu memiliki pelayanan yang baik dan cepat. Hanya dalam duapuluh menit, pesanan mereka segera dibawa ke meja mereka oleh pelayan.
Uap mengepul dari dua kuah didalam panci yang mendidih. Satu berwarna merah terang, dan yang satu berwarna putih seperti susu.
"Terlihat sangat enak!" seru Arana.
Alva dan Civanya sama-sama tersenyum melihat tingkah Arana dan dengan tenang mulai memasukkan daging dan semua bahan lain kedalam panci mendidih, dan menunggu untuk matang. Setengah jam kemudian, makanan sudah habis, dan masing-masing perut mereka membuncit karena kekenyangan.
Arana puas!
Ding!
Ada pesan masuk yang membuat Arana meraih ponselnya. Ada sebuah nomor asing yang mengiriminya pesan, namun melihat pesan itu, Arana jelas tahu siapa yang mengiriminya pesan.
[Bagaimana rasanya hidup menjadi Alana? Aku ingatakan padamu, jangan menggunakan identitas adikku untuk berbuat sesukamu.]
Itu juga kakaknya--seharusnya, Hiro.
__ADS_1