
Dalam beberapa periode, Alva dengan efektif menggunakan waktunya untuk memasukkan banyak jenis pembalut kedalam kantung plastik berukuran besar dan mengulurkan uang sebesar limaratus ribu rupiah kepada sang kasir.
"Tuan, kembaliannya!" sang Kasir berseru, namun Alva melambaikan tangannya yang menandakan bahwa sang kasir dapat mengambil kembaliannya dan berlalu dengan cepat keluar dari minimarket itu dan bergegas kembali ke apartemennya.
"Kenapa dengan pria tadi?"
"Yah, dia membuat sedikit kehebohan."
Sang kasir mendengarkan perdebatan ibu-ibu yang sedang beberlanja dan turut menyahuti. "Sepertinya istrinya sedang datang bulan dan kehabisan stok. Jadi dia berlari ke sini dan langsung memborong setiap jenis karena mungkin tidak tahu yang mana yang dipakai oleh istrinya."
"Oh, anak muda zaman sekarang benar-benar penyayang!"
"Jika itu suamiku, dia bahkan tidak akan pernah mau menginjakkan kakinya untuk berbelanja diminimarket. Mana mau suamiku itu membelikanku pembalut?"
"Sudah tampan, pengertian lagi. Dia pasti juga kaya dilihat dari penampilannya yang begitu terawat. Idaman sekali!"
Mereka memandang punggung Alva yang menghilang dibalik kendaraan yang berlalu lalang dijalanan yang ramai. Alva melangkahkan kakinya dengan cepat menaiki lift dan sampai didepan apartemennya. Bungkusan besar ditangan kanannya tidak menghalangi langkahnya untuk masuk. Dan ketika dia melangkah masuk, dia menemukan seseorang melintas didepannya.
"Oh, kak Mellisa?" beonya.
Mellisa menoleh dan hendak menyapa Alva ketika dia terkejut mendapati sosok Alva membawa bawaan yang begitu banyak ditangannya. Ada bungkus pembalut berwarna biru yang menyembul dibagian atas kantong.
"Alva? Apa yang kamu beli?"
"Ini ... untuk istriku." Jawaban Alva membuat Mellisa tercengang ketika dia melihat seberapa banyak pembalut yang dibeli oleh Alva. Tapi yang lebih mengejutkannya adalah, bahwa Alva dengan tidak memiliki perasaan malu seperti kebanyakan laki-laki bersedia membelikan Arana pembalut.
"Dimana istriku? Kak Mellisa disini, apakah terjadi sesuatu?"
Mellisa memandang Alva selama dua detik sebelum menghela napas. "Aku awalnya ingin mengantarkan makanan kepada Ala, tapi kemudian dia keluar dengan penampilan pucat. Perempuan memang seperti itu jika sedang datang bulan. Jangan terlalu khawatir. Ala memang mengatakan bahwa dia jarang mengalami perut sakit saat mengalami haid, jadi, dia tidak begitu terbiasa dengan rasa sakit yang dialaminya."
"Dia sedang ada dikamar mandi sekarang. Dia seharusnya akan keluar tidak lama kemudian."
Mendengar perkataan Mellisa membuat Alva menganggukkan kepalanya. Ia meletakkan bungkusan ditangannya diatas meja dan menunggu Arana keluar dari kamar mandi bersama Mellisa yang memiliki segelas minuman berwarna kuning sedikit bening, yang mengundang rasa penasaran Alva. "Itu minuman apa?"
Mellisa mengangkat gelas itu sedikit. "Oh, ini minuman yang biasa aku minum ketika sedang kedatangan tamu. Efeknya meringankan rasa kram perut."
__ADS_1
Alva tidak lagi bersuara, dan menunggu Arana keluar.
Kurang dari sepuluh menit kemudian, Arana melangkah keluar. Wajahnya masih pucat, dan dia berpegangan pada dinding. Ia perlahan mengangkat wajahnya ketika merasa seseorang membantunya. Aroma familiar itu masuk ke indra pembau Arana, seketika, gadis itu merasa tenang. Ia mendengar suara Alva yang dengan lembut menanyakan keadaannya. "Apa kamu baik-baik saja, sayang? Aku akan memanggil Angga jika kamu masih sangat kesakitan."
Arana menggeleng. "Tidak perlu, Al. Perutku sudah lebih baik dari sebelumnya, kok."
Mendengarnya, meski Alva masih memiliki keraguan, ia dengan tenang mengangguk dan membantu memapah Arana menuju sofa menghampiri Mellisa. Arana duduk untuk kemudian menerima gelas minuman dari Mellisa.
Mencium aromanya, Arana mengenalinya dan tanpa banyak pertanyaan menerimanya. Ia tersenyum, "Terimakasih kak."
Menenggak cairan berwarna kuning bening itu, Arana menampilkan mimik wajah aneh setelahnya, namun kemudian dia dengan cepat mengatur ekspresinya. Meletakkan gelas kosong diatas meja, Arana bersandar pada Alva yang senantiasa menjaganya dipelukannya yang hangat dan nyaman.
"Maaf aku jadi merepotkan kak Mellisa." Kata Arana pelan.
Mellisa menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu meminta maaf. Sebagai sesama perempuan aku juga tahu bagaimana rasa sakitnya. Senang bisa membantu walaupun hanya sedikit. Beristirahatlah sebentar, perutmu akan segera membaik."
Arana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Memandang jam ditangannya, Mellisa kemudian bangkit berdiri. "Oh, sudah waktunya untuk menjemput suamiku di bandara. Aku harus berangkat sekarang."
Arana terkejut, "Suami kak Mellisa kembali? Bukankah kakak bilang masih cukup lama?"
Mellisa tersenyum, "Perubahan rencana. Ini akan menjadi kejutan untuk Serine, jadi jangan membocorkannya, ya?"
"Berhati-hatilah dijalan kak." Lanjutnya.
Alva memandang Mellisa. "Terima kasih sudah membantu Nana. Aku turut senang dengan kepulangan suamimu, sehingga kak Mellisa juga bisa pamer keromantisan kepada kami berdua."
Mendengar itu, Arana melotot pada Alva sementara Mellisa tertawa terbahak-bahak. Setelah puas tertawa, Mellisa sekali lagi berpamitan dan pergi keluar. Alva berniat mengantarnya, namun Mellisa menolak dan menyuruh Alva untuk tetap bersama dengan Arana. Pria itu tidak membantah dan setia duduk memeluk Arana.
"Oh iya, sayang." Panggil Alva.
"Mn?"
"Aku tidak tahu yang mana pembalut yang biasa kamu pakai, jadi aku membeli semua jenis yang ada di minimarket."
Mendengar pernyataan Alva, manik Arana melebar. Membeli masing-masing dari setiap jenis pembalut di minimarket? Apakah Alva bercanda?!
__ADS_1
Ia mendongak, menatap sekelilingnya dan memandang meja disudut ruangan. Ada kantong plastik berukuran besar, atau bisa disebut sangat besar yang penuh dengan berbagai jenis pembalut. Bahkan saking banyaknya, sampai melebihi batas kantong. Arana memandangnya dengan tidak percaya dan memandang Alva dengan terkejut.
"Apakah kamu tidak bisa bertanya kepadaku? Apa gunanya ponselmu?!" pekik Arana.
Alva menjawab dengan malu. "Ponselku tertinggal dirumah, sayang."
"Karena aku bingung harus memilih yang mana, dan sudah ada di minimarket, daripada bolak balik, aku membeli semua jenis. Salah satunya harus menjadi yang biasanya kamu gunakan."
Arana menggeleng. "Bukan itu intinya, Al. Aku memang bisa menggunakan semua jenis, namun masalahnya membeli sebanyak itu ... aduh, aku tidak bisa berkata-kata lagi."
Alva juga tahu bahwa dia bersalah, namun sebenarnya dia juga merasa dia tidak bersalah. Jadi dengan perasaan santai, Alva merengkuh Arana, meletakkan dagunya dipuncak kepala Arana dan dengan lembut bersenandung. "Maafkan aku, sayang. Lain kali aku akan lebih memperhatikan kebutuhanmu, sehingga aku tidak akan salah membelikanmu barang-barang yang kamu butuhkan."
Alva melirik Arana dengan jejak kejahilan disepasang maniknya, ketika dia membuka bibirnya untuk bertanya. "Ngomong-ngomong, apa ukuranmu?"
"Ukuran apa?"
"Tidak, aku akan memeriksanya sendiri lain kali. Aku akan membelikanmu yang pas."
Arana mengerutkan keningnya. Apakah maksudnya ukuran sepatunya?
"Lalu ..." Alva menarik sudut bibirnya keatas. "Apakah kamu suka yang berbusa atau tidak?"
Ketika Arana menyadarinya, wajahnya semerah tomat. Sial!
"Alva!"
...***...
Malam larut, dan dingin menyapa kulit. Sentuhan dan suara angin yang berdengung membuat bulu kuduk siapapun meremang, namun tidak dengan pemuda itu. Dibawah bayangan bulan yang bundar, wajahnya tertutup bayangan hoodie yang dikenakannya. Setengah wajahnya tertutup, namun seringaian lebarnya yang seperti iblis menakuti pria didepan sana setengah mati.
Tubuhnya gemetar, napasnya memendek dan keringat mengalir diwajahnya yang pucat pasi.
"Oh, malang sekali. Sebelum kau ditemukan, kau harus menghilang. Bersembunyi sebaik mungkin tidak akan menjamin, jadi ..." Kata-katanya disusul seringaian yang makin lebar, dengan pisau berkilat tajam yang terangkat tinggi.
"Dengan senang hati aku akan membantu menyembunyikanmu, haha!!"
__ADS_1
"Arghhhhhh!!!!!'