
Membuka matanya, Arana merasakan sepasang lengan kokoh memeluk perutnya. Arana berkedip, menatap kedepan dengan sepasang mata yang sedikit sembab. Ketika mengingat apa yang terjadi semalam, wajah Arana memerah sempurna. Bak kepiting rebus, Arana berusaha menjaga rasa malunya untuk berada dititik normal.
"Sudah bangun, sayang?"
Suara serak nan seksi Alva terdengar dipendengarannya yang membuat tubuh Arana sedikit membeku. Dia baru saja hendak menoleh ketika dia merasakan rasa sakit yang tajam disatu tempat ditubuhnya. Keringat tipis tercipta didahinya ketika Alva dengan sigap mengambil posisi setengah duduk dan membawa Arana kepelukannya.
"Maaf sayang, apa masih sakit?"
Arana tidak akan mengelak dari apa yang terjadi. Arana sedikit menyandarkan tubuhnya kedada Alva dan menganggukkan kepalanya. "Sedikit sakit."
Alva mengusap lembut kepala Arana dan beberapa kali mencium pucuk kepalanya. "Tidak apa, nanti akan segera membaik. Terimakasih ya, sayang."
Wajah Arana kembali memerah mendengar ucapan terimakasih dari Alva. Gadis itu perlahan mengangguk dan kemudian tersenyum diam-diam. Namun setelah fokus sepenuhnya, Arana menyadari bahwa dia telah mengenakan piyama dan tubuhnya terasa bersih. Arana menatap Alva dan menemukan Alva juga menatapnya dan tersenyum.
"Semalam kamu langsung tertidur setelah kita selesai. Aku membaca di internet bahwa setelah melakukannya, tidak boleh langsung tidur dengan keadaan tubuh belum mandi, jadi aku membantumu mandi."
"Meski aku jadi harus bermain solo karena melihatmu."
Manik Arana melebar dan dia dengan cepat mengangkat tangan dan memukul lengan Alva. Suara Arana serak dan sedikit bergetar. "Alva!"
"Haha.." Alva tertawa, "Aku bercanda sayang~"
Meski sejujurnya, Alva tidak sepenuhnya bercanda. Ketika Arana tertidur lelap karena kelelahan, Alva membantu Arana membersihkan diri. Pada awalnya Alva memang baik-baik saja, namun dipertengahan, Alva mulai merasakan perasaan tergoda setelah melihat tubuh polos Arana dihadapannya. Alva berkali-kali menyadarkan dirinya bahwa dia bukan monster yang menyerang istrinya yang tengah terlelap dan tidak sadar, sehingga dia membersihkan tubuh Arana dengan penuh perjuangan sebelum menggendong Arana ke ranjang dan membantunya memakaikannya piyama.
Pada akhirnya, Alva benar-benar bermain solo setelahnya.
"Apa kamu lapar? Aku akan memesan makanan. Apa yang kamu inginkan untuk sarapan?" tanya Alva.
"Apa saja boleh. Sejujurnya aku merasa sangat lapar sehingga aku merasa aku bisa makan apa saja. Pasta, burger, chicken, bakso, omelete." Diakhir, Arana mentertawakan dirinya untuk sebentar. "Aku terlalu rakus jika kelaparan, sayang~"
Alva tersenyum. "Kalau begitu istriku bisa mendapatkan apapun yang ingin dia makan. Kalau kamu mau makan aku, kamu juga bisa mendapatkannya."
"Alva!"
Arana memekik dan hampir melempar Alva yang berjalan menuju meja dengan menggunakan bantal. Alva tertawa penuh jenaka dan kemudian berhenti ditelepon hotel itu untuk menghubungi pihak hotel untuk memesan makanan. Sembari menunggu Alva selesai memesan, Arana meraih ponselnya yang berada diatas nakas meja dan dengan tenang mengecek pesan yang ada di ponselnya.
"Kyaaaa!!"
Alva hampir menjatuhkan telepon ditangannya ketika mendengar teriakan Arana. Pria itu dengan panik menatap Arana yang menatap ponselnya. "Sayang? Ada apa?!"
__ADS_1
Arana mendongak menatap Alva dan wajahnya berseri oleh kegembiraan. "Camio datang!"
...***...
"Sayang, Camio itu siapa?"
Didalam mobil yang membawa Arana menuju sebuah alamat yang diberitahukan oleh Arana. Selama itu juga, Alva memperhatikan wajah Arana yang nampak begitu bahagia dan berseri, seakan ia akan menemui seseorang yang amat berarti dalam hidupnya. Alva mau tak mau merasakan sedikit perasaan cemburu dalam hatinya. Dari data yang dicari tahu oleh Calvian, tidak disebutkan nama Camio atau semacamnya yang membuat Alva semakin merasa penasaran dengan sosoknya.
Siapa dia dikehidupan Arana yang tidak dia ketahui.
Apakah dia adalah sahabat Arana sama seperti Amber dan Arselyne? Atau dia mungkin cinta pertama Arana atau bahkan mantan kekasih Arana?
Tangan Alva sedikit meremas stir mobil yang dikendarainya, menanti jawaban Arana tentang pertanyaan siapa Camio yang dimaksudkan oleh Arana. Alva tidak menyukai kenyataan ini. Rasa cemburu yang dirasakannya semakin menjadi, namun dia tidak bisa menunjukkannya begitu saja kepada Arana.
Arana mendongak dan menatap Alva dengan mata yang melebar karena rasa senang dan bibir yang melengkung sempurna.
"Camio itu ..." Arana sedikit menjeda ucapannya sebelum lanjut berkata, "Kamu akan melihatnya nanti. Sebentar lagi kita akan sampai, aku akan memperkenalkan dia kepadamu nanti."
Mendengar jawaban Arana, Alva menyunggingkan senyuman. Ketika Arana kembali memandang ponselnya, sepasang manik Alva mendingin. "Aku yakin aku akan menyukainya, juga. Camio, kan?"
Perjalanan dihabiskan Arana dan Alva dengan keheningan, sebab Arana benar-benar tengah berfokus pada ponselnya yang membuat Alva menggigit pipi dalamnya pelan karena gemas dan karena rasa penasarannya yang tinggi. Alva dengan lembut bertanya kepada Arana. "Kamu sedang melihat apa, sayang? Kamu kelihatannya sangat bersemangat dan sangat fokus memandang ponselmu."
"Kami sering berkirim pesan. Dia orang yang sangat baik dan sangat ceria. Dia juga ada disini, dan ..." Arana sedikit menjeda perkataannya sebelum melanjutkannya kembali, "Tapi dia agak sedikit berbeda untuk beberapa alasan. Dia hanya agak terlalu bersemangat dan ketika kamu melihatnya nanti, kamu juga akan merasa terkejut, tapi dia benar-benar istimewa."
Alva tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebelum kembali fokus menyetir meski sebenarnya hatinya dirundung oleh rasa penasaran dan kecemburuan.
Sepuluh menit kemudian, mobil mewah itu memasuki sebuah pekarangan rumah yang memiliki halaman begitu luas. Alva bahkan harus menjalankan mobilnya selama dua menit untuk melewati taman yang dipenuhi oleh bunga matahari. Sebuah bangunan bertingkat dua menjulang didepannya. Bangunan itu terbuat dari kaca disebagian tempat dan menunjukkan dengan jelas apa yang ada didalamnya. Terutama sebuah ruang baca, kamar tidur yang luas, kolam renang diatap dan ruang tengah dimana semua orang berkumpul. Ada sebuah balkon besar dengan pagar melingkar yang hanya setinggi pinggang orang dewasa dengan kaca yang menjaga bagian bawahnya.
Pepohonan yang ditanam menjaga bangunan itu untuk tetap teduh meski cahaya matahari tengah terik.
Alva mengerutkan kening ketika melihat sekelompok orang tengah berkumpul didalam rumah ketika dia perlahan turun dari mobil bersama dengan Arana.
"Cella! Mereka datang!"
Seseorang yang berdiri didekat pagar balkon, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Amber segera berteriak. Ia memegang segelas susu ditangannya dan menyesapnya sambil melambaikan tangan kearah Arana dan Alva yang berjalan menaiki tangga sebagai akses masuk.
"Nana!!"
Ada sebuah suara lengkingan berbarengan dengan terbukanya rumah kaca yang ada ditempat itu. Alva sedikit mengerutkan kening ketika seorang gadis muncul dan memeluk Arana dengan riangnya sembari sesekali menciumi wajah Arana. Alva bahkan melihat bagaimana lipstik merah mudanya menempel diwajah istrinya. Melihat itu, Alva segera menarik Arana kebelakang tubuhnya dan menjaga jarak diantara Arana dengannya--Cella.
__ADS_1
Memang wajar untuk saling mencium pipi ketika bertemu, namun apa yang dilakukan oleh Cella dimata Alva sedikit keterlaluan. Alva bahkan berpikir bahwa Cella adalah lesbian yang berusaha mengambil kesempatan dari Arana yang polos dan lugu. DIbelakangnya, Arana hendak mencoba berbicara ketika Alva menyelanya. "Alva. ini adalah Ce-"
"Berhenti mencium istriku. Bahkan jika kamu adalah sahabatnya, kau tidak bisa menciumnya seperti itu." Ucap Alva dengan wajah datar yang selalu dia gunakan pada orang asing yang pertama kali dia temui.
Cella menatap Alva dengan tatapan menilai. Tatapannya turun dari kepala Alva sampai kaki, sebelum naik lagi. "Oh, anak yang tampan!"
Alva mengerutkan keningnya. Berani sekali gadis itu menyebutnya dengan kata 'anak' disaat mungkin usianya jauh lebih muda?
"Siapa yang kau sebut seorang anak?"
"Tentu saja kau."
"Aku sudah berusia 24 tahun saat ini. Tidak sepantasnya kau berkata begitu padaku."
Cella mengerutkan kening dan dengan kesal menjewer Arana. "Seharusnya aku yang bilang begitu, anak nakal. Sudah berani merebut Nana, sekarang kau bahkan tidak menghargaiku. Aku akan merebut Nana darimu!"
Alva yang ditarik sampai membungkuk tercengang dan merasakan rasa sakit ditelinganya. Baru saja dia hendak mengaduh, suara Arselyne terdengar dibelakang Cella. "Mama, berhenti bertingkah seperti anak kecil dan biarkan mereka berdua masuk."
"Mama masih harus memberi anak nakal ini pelajaran, Ly!"
Alva hampir membuka mulutnya karena tercengang begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Arselyne. Mama? Mamanya Arselyne? Tunggu ... gadis didepannya?!
Cella melepaskan jewerannya pada Alva dan mendengus sebelum dengan tenang merangkul lengan Arana dan tersenyum dengan manis sembari menggesekkan pipinya pada Arana dengan manja. Arana tersenyum sebelum memandang Alva. "Sayang, ini tante Cella. Mamanya Arselyne, yang aku bilang di mobil tadi."
Alva masih setengah tidak percaya. Apa mungkin Arana dan yang lain menjahilinya seperti dahulu? Dimatanya, Cella nampak berusia sama seperti Arana, dengan wajah cantik tanpa keriput dan dia masih nampak begitu muda. Bagaimana bisa Alva mengetahui usianya dengan penampilan seperti itu?
"Ini mama tirinya, Arselyne?"
Pertanyaan Alva membuat manik Arana dan Cella melotot sementara Arselyne yang mendengarkan dibelakang segera menyemburkan susu yang diminumnya dan tertawa terbahak. Alva menoleh dan menatap Amber dengan bingung atas reaksinya. Apa yang salah dengan perkataannya? Tidak mungkin usia Cella sama seperti usia Lidia dan ibunya sendiri bukan?
"Aku mama kandungnya Arse!" Cella berkata dengan dramatis, "Mengapa aku harus terus mengalami ini? Mengapa?"
"Tantae mulai dramanya lagi~" Ucap Arana dengan tawa.
Jake datang dari arah dapur dan dengan tenang menyapa Alva. "Halo, selamat datang, Alva. Arselyne sudah bercerita tentangmu. Saya Jake, suami Cella dan ayah tiri Arselyne."
Alva hanya menganggukkan kepala dengan sopan dan membalas jabatan tangan Jake. Ia melirik Arana yang tengah berjalan beriringan bersama dengan Cella menuju ruangan tengah dan tidak bisa tidak merasa bersyukur bahwa disini, Arana benar-benar bisa melupakan masalahnya dan masih memiliki orang-orang yang menyayanginya apa adanya.
__ADS_1