My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 152: The Truths


__ADS_3

PLAK!! PLAK!! PLAK!!


Tiga tamparan keras yang bukan main diberikan Jasmine pada Lidia yang sama sekali tidak bisa berkutik. Dibawah tatapan terkejut semua orang, Jasmine tidak menahan segala emosi yang dimilikinya dan melampiaskan kemarahannya kepada Lidia.


"Bagaimana kau bisa melakukan itu kepada saudarimu sendiri, Lidia?! Apa hatimu sudah mati dan apa matamu buta!! Tidakkah kau tahu bahwa dia adalah saudari kembarmu sendiri! Yang berbagi rahim denganmu dan berbagi segalanya denganmu!! Bagaimana kau tega melakukan itu?!"


"APA KAU MOSNTER?!!"


Lidia terduduk dilantai dengan tak berdaya. Kedua pipinya memerah dan bengkak, bahkan ada goresan cincin diwajahnya. Darah tipis menetes dari sudut bibirnya yang robek. Penampilannya memprihatinkan dengan air mata diwajahnya, namun dia tidak mendapatkan sedikitpun simpati dari penonton yang ada disana. Justru, kebanyakan dari mereka justru menatapnya jijik dan bahkan mencemooh dan mencelanya.


"Mama ... bukan begitu ... maafkan aku, ma." Lidia terisak dan menangis.


"Jangan panggil aku mama!! Aku bukan ibumu! Aku tidak sudi menjadi ibu dari monster sepertimu!" Jasmine menendang Lidia yang merambat dikakinya selayaknya sampah dan terengah oleh kemarahan yang memuncak. Jasmine memegang dadanya dan Alva memberi tanda kepada Angga untuk segera membawa Jasmine dari sana dan memberinya penanganan karena tegangan darah yang tinggi.


Polisi datang tidak lama setelah Jasmine dibawa keluar. Dibawah tatapan semua orang, Lidia dan Michael segera diringkus polisi dan dibawa pergi menuju mobil dengan surat penangkapan yang mereka miliki. Hiro yang tengah duduk segera diborgol yang membuatnya melotot marah.


"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku! Atas dasar apa kalian menangkapku?"


Petugas kepolisian berkata dengan dingin, "Atas dasar kekerasan yang anda lakukan kepada pasangan anda. Nona Alicia sudah melapor dan memberikan kami bukti, sehingga kami memiliki hak untuk menangkap dan memenjarakan anda selama yang kami bisa karena kekerasan yang anda lakukan sudah merusak pribadi seseorang dan masa depannya."


Hiro melebarkan matanya dan menatap Alicia dengan amarah. Namun ia berusaha menenangkan suaranya. "Alicia, sayangku. Ini tidak benar, kan? Aku tidak melakukan apapun padamu, kan? Nenek akan kecewa melihatmu melakukan ini padaku."


Alicia menghindari tatapan Hiro dan gemetar ditempatnya. Ia berkeringat dan ragu sebelum sebuah lengan merangkulnya dengan akrab. Alicia menoleh dan menemukan Flora meliriknya dan berkedip, sebelum wanita itu menyeringai kearah Hiro dengan penuh cemoohan.


"Katakan omong kosongmu di dalam sel tahanan. Aku sebagai anggota perlindungan wanita dan anak didunia yang baru saja bergabung akan membuatmu mendekam dipenjara selama mungkin. Setidaknya, sampai perusahaanmu hancur dan kau akan menjadi pemulung dipinggir jalan."


Hiro menjerit dengan marah. "Jala*g sialan!! Ma*i kau!! Aku akan membalasmu! Aku akan membalasmu! ALICIA!!! "


Flora menepuk bahu Alicia yang gemetar ketakutan dan tertawa. "*Abaikan saja dia. Bergabunglah dengan perusahaanku dan aku akan mengajarimu menjadi wanita mandiri. Kemudian hari kau akan menemukan, bahwa bajing*n sampah sepertinya bukanlah ancaman sama sekali*."


Alicia menganggukkan kepalanya dengan penuh rasa syukur. "Terimakasih, jika, jika bukan karena anda meyakinkan saya untuk melapor, saya mungkin masih akan terjerat padanya selamanya. Terimakasih banyak, nona Flora."

__ADS_1


"Ayolah, santai saja. Kau bisa memanggilku kak."


"Baik, kak Flora."


Alva berkata, memecah kekacauan. "Kalian semua pasti berpikir bahwa pesta sudah berakhir disini." Alva tersenyum, "Tapi belum. Masih ada yang belum saya tunjukkan, dan ini adalah puncak pesta kali ini."


Alana merasakan firasat yang sangat tidak menyenangkan ketika Alva menatapnya. Ia bergetar dan mundur selangkah tanpa sadar ketika layar menampilkan dirinya yang tengah terekam menggunakan obat-obatan terlarang dan tengah mabuk di club malam bersama dengan cukup banyak orang. Alana ingat dimana itu, dan kapan itu terjadi, namun Alana tidak pernah tahu bahwa ada yang memotret dirinya seperti itu.


Alana berkeringat dan lidahnya kelu untuk bersilat lidah ketika dia mendengar gunjingan orang tentangnya.


"Apa ini? Satu keluarga tidak ada yang benar."


"Menjijikkan sekali. Mana ada keluarga begitu kotor seperti itu."


"Didikan yang salah jelas akan menjadikan anakknya salah juga."


"Ckckck, jika aku sampai menemukan putra atau putriku seperti itu, aku lebih baik memasukkan mereka kerumah sakit jiwa dan mengurung mereka selamanya."


Alva perlahan berjalan kearah pengasuh yang menggendong sang bayi. Alana dengan panik berlari dan merebut bayi itu dari tangan penasuh dan memeluknya, berusaha menjauhkannya dari Alva karena merasa Alva akan melakukan sesuatu yang jahat kepada bayinya, kepada putrinya.


"Apa dia benar-benar putriku, Alana?"


Manik Alana melebar. Ia gemetar dan dia menjawab dengan nada nyaring yang membuat bayi dipelukannya menangis. "Tentu dia anakmu!! Kau tidak mau mengakuinya?!"


Alva memiringkan kepalanya sedikit dan melirik slide yang segera berubah. Ada hasil tes DNA yang tertera dilayar. Alva sudah menahannya. Alva sudah mengumpulkan semua bukti yang bisa dia temukan dengan berusaha dan dengan bersabar selama bertahun-tahun. Hadiah dari Cella, yang kini menonton dan bahkan tertawa lepas yang membuat atensi teralihkan pada Cella sesaat adalah video yang berhasil menghancurkan Lidia. Dimana Lidia menjadi pemuas nafsu dan Lidia yang membunuh saudari kembarnya sendiri.


Alva berusaha menahan kebencian dan gejolak amarah yang selalu bisa meledak kapan saja karena Alva yakin bahwa dengan kesabarannya, dia akan bisa menghancurkan mereka semua dengan tangannya sendiri, hancur sampai mereka tidak akan pernah berani menginjakkan kakinya didepan publiks, dan menunjukkan wajah mereka.


"Ini adalah balasan yang setimpal atas apa yang kau perbuat pada adikku, Alana."


Arletta yang berdiri didekat Alva segera melebarkan matanya. Dia melangkah mendekati Alva dan kemudian meraih lengan Alva, memaksanya untuk menatap matanya. "Nan, apa maksudmu? Apa maksudnya dengan balasan yang setimpal untuk kematian Theo?"

__ADS_1


Kaki Alana bergetar ketika dia mendengar nama itu. "Theo?"


Selena berceletuk dibangkunya yang membuat mata orang-orang melebar. "Yang membuat Theo bunuh diri kan, Alana, kak."


"Apa?"


Arletta mencelos. Arletta menoleh dan mendapati serangkaian kejadian melintas dilayar. Isi percakapan Alana dan Theo ketika mereka berpacaran dan bagaimana Theo bisa sampai ke bar gay dan dicap sebagai pria menyimpang karena jebakan Alana hanya karena permainan, dan itu diakui langsung oleh teman Alana yang merekam pernyataan yang sedang ditayangkan. Air mata mengalir diwajah Arletta dan ia meluruh bilamana Johan tidak menahannya.


Alva memejamkan matanya, merasa tidak tega dengan keadaan sang mama, namun ekspresinya tetap tegas dan tidak berubah.


"Di penghujung pesta ini, saya Alvario Reynan Erlangga, menyatakan akan menceraikan Alana Clarissa Damarian tanpa ada pertimbangan apapun. Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih sudah datang kepesta ini. Dan maaf, jika suguhan pesta ini kurang menarik."


Selepas berkata demikian, Alva melempar mic dan kemudian berlari keluar selepas menyeret Erlan, meninggalkan balroom yang tengah dilanda kegemparan. Ada yang bercerita sembari tertawa, mencemooh keluarga Lidia dan Michael dan ada yang segera pergi karena merasa jijik dan tidak ingin terlibat dengan urusan mereka. Tapi siapapun dari mereka yakin, bahwa besok dunia akan gempar karena kejadian ini.


"Suami mengungkap kebenaran busuk tentang keluarga Istrinya. Mungkin, akan menjadi headline berita yang amat menarik, kan?" Calvian bergumam dengan nada penuh cemoohan kepada dirinya sendiri ketika dia memandang Arletta yang perlahan berdiri dan mendekati Alana yang melangkah mundur tanpa sadar, memeluk putrinya dipelukannya.


Alana merasa hidupnya sudah hancur. Dia sama sekali tidak bisa membantah apa yang dibuktikan, karena itu adalah kebenaran. Alana benar-benar tahu bahwa dia sudah berakhir, semua orang akan membencinya, semua orang akan meninggalkannya, dan pandangan tajam dan penghinaan orang-orang dimasa depan sudah menghantuinya saat ini.


"Alana."


Alana tersentak ketika Arletta memanggilnya. Ia gemetar ketakutan.


"Saya tidak akan memukul atau menyakiti anda." Arletta berkata, "Karena setidaknya, anda adalah orang yang pernah membuat putra saya, Theo, tersenyum lebih cerah, meskipun anda juga yang membuatnya terbaring dingin diatas tempat tidurnya."


"Alana."


Suara Arletta memelan. "Tanyakan pada dirimu sendiri. Apakah kamu masih manusia?'


Setelahnya, Alana limbung dan terduduk sembari mendekap sang putri. Ditinggalkan dan dicemooh, dibawah tatapan orang-orang dibalroom itu.


Hidup Alana hancur.

__ADS_1



__ADS_2