
Alva tengah melangkah keluar dari lift ketika dia mendengar kegaduhan yang ada di dekat meja resepsionist. Ada seseorang yang dikrnalnya disana, berdiri dengan penuh keangkuhan, menunjuk dengan rendah kepada pekerjanya.
"Apa kau tidak tahu siapa aku?!"
"Aku adalaha Selena Kim! Kekasih boss kalian! Berani-beraninya kalian menghalangiku!" Selena berkata dengan penuh percaya diri, namun sang resepsionist tidak kalah percaya diri dan tenang dalam menjawab perkataan tak masuk akal Selena.
Aria sebagai resepsionist di perusahaan Alva tahu bahwa Alva sudah beristri. Tidak, bukan hanya dirinya saja, namun semua orang sudah tahu bahwa orang yang diakui Alva sebagai kekasih adalah Arana sebagai Alana, yang sekaligus adalah istrinya. Jadi tidak mungkin bahwa gadis didepannya saat ini adalah kekasih bossnya.
Apalagi sudah berkali-kali Arana dibawa kesana dan mereka tahu bahwa kecantikan Arana melebihi kecantikan gadis didepannya, maka hampir tidak mungkin bossnya berselingkuh.
"Kau! Berani-beraninya!!"
Merasa tidak diindahkan, Selena meradang. Tangannya terangkat hendak meraih Aria ketika sepasang tangan menahannya dengan kekuatan yang tidak kecil. Bahkan Selena meringis kesakitan dibuatnya. "Hiss!"
"Bos?!"
Memandang Erlan yang menahan tangannya, Selena mengerutkan alisnya dengan tidak senang. Ia menarik tangannya dengan kasar dan beralih mendekati Alva dengan cepat. "Al~ Wanita itu menggertakku. Aku ingin kamu memecatnya!"
Alva menghindari tangan Selena yang mencoba meraihnya dan meliriknya dengan dingin. "Untuk apa kau kemari?"
Ia melanjutkan. "Jika kau kemari untuk membuat masalah, aku sarankan kau tidak melakukannya karena aku tidak sedang dalam mood yang bisa dengan tenang menghadapimu."
Mendengar perkataan Alva, Selena meneguk ludahnya samar. Ia sangat tahu bahwa ancaman Alva tidak pernah main-main. Namun dia kesini bukan tanpa alasan.
"Aku tahu sesuatu tentang gadis itu, istrimu."
Ia berbicara tepat ketika Alva hendak melangkah. Mendengar itu, kaki Alva tertahan begitu saja, dan sepasang manik itu memandang Selena dengan menyipit. "Apa maksudmu?"
Selena menyeringai. "Aku tahu bahwa istrimu itu memiliki rahasia yang disembunyikannya bahkan sebelum menikah denganmu."
Tangan Alva terkepal.
Apapun itu, itu bukan seperti yang dibayangkannya bukan?
Informasi mengenai identitas Arana sudah ia sembunyikan rapat-rapat agar tidak ada yang bisa menggubakan informasi itu sebagai alat kelemahan bagi Arana. Dengan bantuan orang kepercayaannya, seharusnya identitas Arana akan aman selama Arana tidak mengungkapkannya sendiri.
Jadi, rahasia apa yang diketahui Selena? Mungkinkah ada informasi yang terlewat atqu bocor?
__ADS_1
"Dia berselingkuh."
"Huh?" Erlan membeo ketika mendengar perkataan Selena.
Ternyata, hanya masalah ini?
Jika masalah selingkuh, bukankah Alva sudah tahu? Bahkan salah satu selingkuhan Alana adalah orang bayaran Alva yang mrmang disuruh untuk mengorek informasi dan membuat Alana makin terpuruk dan terpuruk dalam pergaulan yang seharusnya tidak dilakukan remaja sepertinya.
Bagaimana Alva harus bereaksi pada perkataan Selena ya?
Erlan melirik Alva yang memiliki aura tidak mengenakkan disekelilingnya. Di lobi yang pada saat ini tak ada orang lain selain mereka, Alva benar-benar tidak menyembunyikan dirinya yang sebenarnya. Bahkan seberapa sering Erlan melihatnya, dia masih selalu merasa setidaknya sedikit bahwa Alva itu memang kejam, diktaktor, posesif dan berbahaya.
"Dengar."
Selangkah mendekati Selena, Alva menatap tajam gadis yang berwajah pucat itu. "Tutup mulutmu jika kau ingin karirmu baik-baik saja. Istriku, tidak melakukan hal seperti yang kau katakan."
Selena menggelengkan kepalanya dengan keras kepala. "Aku memiliki buktinya Al. Dia tidur dengan banyak laki-laki, selayaknya pelacur!"
Alana memang pelacur.
Alva dengan dingin berkata. "Dimana buktinya?"
Selena dengan cepat mengeluarkan ponselnya tanpa curiga, hendak menunjukkan kepada Alva bukti yang dimilikinya. Tetapi sepasang tangan kokoh merebut ponsel dengan cassing pink yang imut itu dan membantingnya dengan kekuatan yang tidak main-main, sebelum menginjaknya dibawah jeritan Selena yang terkejut.
"All!! Apa yang kamu lakukan?!"
Dia tidak cemas karena ponselnya. Namun satu-satunya bukti perselingkuhan yang dilakukan Alana ada didalamnya. Ia juga terkejut mendapati ponselnya diremukkan seperti itu. Ia memandang Alva dengan terkejut dan bingung sekaligus tidak terima. "Apa-apaan, Al? Kenapa kamu merusak ponselku?"
"Lebih baik kau dengarkan nasihat dariku."
Selepas mengatakan hal demikian, Alva bahkan tidak repot-repot melirik Selena yang mengepalkan tangannya dengan kuat. Buku-buku jarinya memutih, dan jika dia tidak memikirkan pemotretan yang akan dia lakukan, dia mungkin hampir menusuk telapak tangannya dengan kuku-kukunya yang cukup tajam.
"Sialan! Mengapa responnya berbeda dari yang aku bayangkan?!" Selena mendesis dengan marah.
Ia mengepalkan tangannya dan berbisik tajam. "Alana! Lihat saja! Aku akan membuatmu hancur karena berani merebut milikku!"
...***...
__ADS_1
Membuka pintu setelah memasukkan sandi apartemen, Alva melihat Arana tengah memandangnya dengan senyuman. Duduk di sofa, gadis itu memiliki tampilan yang sederhana dan polos. Senyumnya benar-benar murni. Mengingat tampilan gadis serupa yang berlenggang-lenggok diatas tubuh pria dalam video yang ditunjukkan Selena, entah mengapa mrmbuat Alva makin membenci Alana.
Gadis yang sama yang membuat Arana hidup dalam kesepian di negara dan bahkan benua yang berbeda dengannya.
Alva sedikit membatin dan merasa bersyukur entah pada siapa karena Arana tidak tumbuh dalam didikan Lidia dan Michael. Atau hidupnya, akan benar-benar seperti Alana.
Mereka kembar. Tapi Alva masih berpikir bagaimana bisa sifat mereka sedrastis itu?
Jika Alana adalah cerminan iblis penggoda yang arogan, kejam dan licik, gadis didepannya adalah cerminan dari malaikat. Yang hangat, lembut, penyayang dan baik hati. Benar-benar berbanding terbalik.
"Al~ Selamat datang!"
Melihat kedatangan Alva, Arana menyambut dengan senyuman diwajahnya dan suara yang hangat. Sepasang manik madunya tak lepas memandang wajah Alva yang rupawan. "Apakah kamu lapar? Aku sudah menyiapkan makan malam. Mandilah sebelum makan."
Kening Alva berkerut. "Sayang?"
"Ya?"
Alva memasang senyuman diwajahnya yang tidak tersenyum. "Apa yang aku bilang untuk tidak menggunakan dapur sampai kakimu benar-benar sembuh?"
Arana merasa tidak berdaya. Arana sebenarnya sudah sembuh. Ia sudah bisa berdiri tanpa mrnggunakan kursi roda. Namun Dokter mengatakan untuk memberinya waktu sekitar seminggu lagi untuk memastikan dia tidak memerlukan kursi roda dan dinyatakan pulih.
Meski begitu, dibeberapa kesempatan Arana juga tidak melulu duduk dikursi roda, bahkan ketika dia mandi, dia sudah tidak membutuhkan bantuan Rosa untuk menyiapkan air dan membantunya melepas perban.
"Aku sudah sembuh Al."
Bergeser, Arana memberikan ruang untuk Alva duduk disebelahnya. "Beberapa hari lagi aku akan dinyatakan sembuh oleh Dokter, ingat?"
Ia meraih lengan Alva dan menggoyangkannya. "Jangan terlalu mengkhawatirkanku, oke?"
Alva hanya bisa menghela napasnya, mematuk bibir merah muda yang menjadi candunya itu dan mengangguk. Ia berkata dengan lembut. "Tqpi berjanjilah untuk tidak pernah terluka barang sedikipun."
Arana mengangguk dengan riang. "Baiklah!"
[Hai, sebagai tambahan, aku minta maaf kalau aku udah lama nggak update. Karena aku lagi kena musibah dengan hpku yang rusak dan masih belum bisa dibenerin sama konternya, aku belum bisa nulis. Sekarang aku udah bisa nulis lagi, jadi maaf dan makasih yang udah mau nungguin. @Bintang Kecil, makasii udah kangen sama AlvaRana ya kak >
__ADS_1