
Mengenakan kemeja berlengan panjang putih, Arana memadukkannya dengan celana bermuda yang menampilkan paha jenjangnya. Rambutnya disisir rapi dan dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun. Menggendong tas dipunak kanannya, Arana berjalan berdampingan dengan Civanya yang tampil apik dengan baju polosan berwarna putih dengan cardigan ungu dan celana jeans berwarna putih.
"Kita benar-benar berkumpul disini?" tanya Civanya kepada Arana.
Sekarang, Civanya lebih berani untuk berbicara kepada Arana. Sebab Civanya tahu bahwa jawaban Arana meskipun masih pedas namun tidak lagi menyakitinya. Ia bahkan tidak mendorongnya menjauh dan tidak lagi mengganggunya dengan ejekan dan kata-kata kasarnya. Bahkan mereka sudah makan bersama di kampus.
Arana memandang ponselnya, mengernyit dan bergumam ketika mendapati bahwa memang tempat didepannyalah yang menjadi tempat berkumpul mereka.
"Sebenarnya tidak mengapa jika kau ingin kembali. Aku juga akan bertemu dengan teman-temanku." Kata Arana.
Sebenarnya Arana sedikit khawatir begitu dia mengetahui bahwa tempat yang dia datangi adalah sebuah club yang besar. Meski dia tidak pernah pergi ke tempat seperti itu, bukan berarti bahwa Arana tidak tahu tempat apa itu. Ia khawatir bahwa Civanya tidak akan nyaman berada ditempat seperti itu dengan kepribadiannya dan menyuruhnya kembali terlebih dahulu.
Namun CIvanya menolak. "Tidak, aku akan menemanimu. Lagipula, aku juga diundang."
Mendengar itu, Arana memandang Civanya selama beberapa waktu sebelum menghela napas tanpa daya dan menatap kedepan. "Kalau begitu ayo masuk."
Kemudian, keduanya melangkah masuk. Bagian dalam club itu begitu ramai, dan ada suara debuman keras yang menyapa keduanya ketika mereka melangkah masuk. Setelah mendaftar dibagian resepsionist, keduanya mendapatkan kartu akses masuk dan memandang sekelilingnya dengan bingung dan tidak nyaman, mencoba menemukan sosok yang mereka kenal diantara kerumunan lautan manusia yang tengah menggila dibawah pengaruh alkohol.
"Na, disana."
Civanya menujuk kearah tengah, dan menunjukkan bahwa Liora, Maudy dan Leva tengah duduk melingkar disebuah meja bersama dengan beberapa pemuda. Arana mengerutkan keningnya dan memandang Civanya yang juga memandangnya dengan tidak nyaman.
"Kau kenal mereka?" tanya Arana membuat Civanya menggeleng.
"Kupikir, kita tidak mengenal mereka. Mungkinkah mereka pelanggan disini dan mampir?" ragu Civanya.
Mendengar bahwa Civanya tidak mengenalnya, Arana berpikir bahwa mungkin dia juga tidak mengenal mereka--Alana maksudnya, jadi dia dengan tenang melangkah menghampiri mereka diikuti oleh Civanya dan langsung mengambil tempat duduk yang tersisa.
Bangku yang tersisa ada dua. Satu diantara Leva dan seorang pemuda, dan duanya bersebelahan diantara Maudy dan seorang pemuda asing. Arana secara alami menjangkau bangku yang bersebelahan agar Civanya dapat duduk disebelahnya dan agar keduanya tidak terlalu canggung berdampingan dengan orang asing.
"Kupikir hanya kita sendiri." Ungkap Arana sembari meletakkan ponsel dan tasnya diatas meja sebelum meyilangkan kedua tadepan dadanya, bersandar dipunggung sofa empuk dengan tatapan datar yang tidak ramah.
Maudy yang melihatnya menjangkau tangannya dan tersenyum. "Hei, ayolah~ Para pemuda tampan ini tidak kebagian tempat, dan karena kita memiliki cukup ruang, mengapa tidak berbagi, kan?"
__ADS_1
Arana menyunggingkan senyuman miring dan bergumam. "Kau tahu kata berbagi."
Leva mencoba menenangkan Arana yang nampak seperti Alana yang kurang puas dimatanya dan segera berkata, "Bagaimana dengan minuman kesukaanmu, La?"
Arana memandangnya selama dua detik sebelum menggeleng. "Aku sedang tidak ingin minum dulu malam ini."
"Ayolah, ada apa denganmu malam ini? Sudah, sudah. Beritahu pada bartender untuk membawakan Alana minuman kesukaannya, seperti biasa."
"Kak Chio, seperti biasa untuk kami." Lantang Lora kepada sang bartender yang tengah meracik minuman.
"Bagaimana dengan si cantik ini?" celetuk pemuda disamping Civanya.
Ia berkata sembari mengulurkan tangannya untuk menjangkau paha Civanya, dengan senyuman tengil yang dia miliki diwajahnya. "Bagaimana dengan ide untuk bersulang denganku?"
Civanya lebih cantik dari Liora, Maudy dan Leva. Bahkan tanpa make-up, wajahnya cantik dan manis. Maka dari itu, berada ditempat dimana para laki-laki adalah orang mesum yang hanya menyukai wajah dan tubuh membuat Civanya menjadi pusat perhatian, terbukti dari banyak mata yang memandangnya ketika dia pertama kali melangkah memasuki ruangan ini bersama dengan Arana. Arana?
Tentu lebih dari itu!
Seluruh lingkaran itu terdiam dan memandang Arana dan Civanya dengan kebingungan. Membunuh? Tunangan Civanya?
Tidak hanya mereka yang tercengang, bahkan Civanya juga sama tercengangnya dengan mereka yang bisa mendengar suara Arana ditengah debuman musik di ruang diskotik itu. Arana memiringkan kepalanya dan menyeringai dengan aneh. "Aku suka cara kerja tunanganmu. Sebenarnya aku juga akan bahagia jika Alva berani membunuh seseorang yang berani tidak sopan padaku."
"Kalau kalian, senang tidak punya pacar, tunangan atau suami yang bisa membunuh?" tanya Arana ringan membuat Leva, Maudy dan Lora semakin tercengang.
"Hah? Ah, bagaimana ya," gumam Lora gugup.
"Em, aku ... lebih baik yang perhatian padaku. Kalau dia membunuh, aku khawatir aku akan menceraikannya, hehe." Ungkap Maudy dengan senyuman aneh yang dibalas anggukan kepala oleh Leva.
"Eh, berarti hanya tunangan Civanya yang hebat menurutku. Apalagi dia adalah dokter bedah, pasti rapi sekali kan, Civa?" Gumamnya sembari melirik dingin pemuda yang diam-diam menarik tangannya dan menyembunyikannya.
Menyadari apa yang sedang terjadi, CIvanya mati-matian menahan untuk tidak terbahak dan hanya mengungkapkan senyuman tipis. "Yah, kamu bisa mengatakannya begitu. Sebenarnya, tunanganku memang sedikit posesif."
Arana tertawa dan menggelengkan kepalanya sebelum meraih ponselnya bersamaan dengan datangnya minuman yang mereka pesan. Arana melirik cairan biru bening didalamnya yang seakan memancarkan cahaya dan nampak sangat indah. Bagian bawahnya terdapat gelembung-gelembung bening dan aroma manis tercium darinya, namun Arana tidak yakin apakah rasanya akan manis seperti baunya.
__ADS_1
Arana bahkan tidak pernah minum alkohol kecuali soda!
Arana diam-diam memindahkan tatapannya dari minuman itu dan memainkan ponselnya, seakan sedang sibuk.
"Mari bermain ToD!"
Ditengah percakapan mereka, Maudy mengusulkan sebuah permainan. Arana memandang Maudy dan sedikit tidak puas. Arana memikirkan perkataan Alana, bahwa dia sangat menyukai permainan ini karena dia sangat menyukai tantangan. Jika Arana menolak bermain, tentu saja akan mengundang keanehan teman-teman Alana.
Arana diam-diam menghela napas tanpa daya ketika semua orang setuju.
Sebotol alkohol dengan cepat muncul ditengah-tengah meja bundar. Mereka duduk mengelilingi meja, dan permainan akan menjadi lebih mudah.
"Baik, akan aku putar, oh, khusus putaran pertama, siapapun yang mendapatkan ujung botol akan menerima dare."
Kemudian, Leva memutar botol. Botol berputar dengan cepat dan pada akhirnya melambat, dan berhenti didepan Civanya yang terkejut dan memiliki wajah sedikit pucat. Padahal sejak awal permainan, dia berdoa agar dia tidak pernah tertunjuk. Dan ia justru mendapatkan tempat pertama. "A-Apa?"
Maudy mengangkat tangannya dan berkata, "Aku yang akan memberimu dare. Cium orang disebelahmu!"
Mendengar itu, Lora dan Leva menyeringai. Mereka memang sengaja ingin menjahili Civanya. Dia tidak akan berani mencium Alana karena Alana sangat tidak menyukainya dan dia akan tertekan untuk mencium pemuda disebelahnya. Dua pilihan itu sama-sama merupakan tindakan bunuh diri. Tunangan Civanya?
Heh, toh Civanya duluan yang mencium, kan?
Namun yang tidak mereka duga adalah bahwa dengan menghela napas lega, Civanya menolehkan kepalanya dan menjatuhkan ciuman ringan, seringan kapas kepipi kanan Arana yang masih nampak menyilangkan tangannya didepan dada dan memandang botol yang terdiam.
Hah? Apakah CIvanya mencari kematian?
Namun yang lebih mereka tidak duga lagi adalah, bahwa setelah satu menit berlalu dalam keheningan, Arana tidak merubah ekspresinya dan kemudian mengangkat matanya memandang mereka. "Tidak lanjutkan?"
Hah?! Apa yang terjadi?!
Mereka kira akan ada perang besar!
__ADS_1