
Membuka maniknya, Alva berkedip linglung selama beberapa waktu. Menoleh, ia mendapati sisi ranjang disampingnya kosong, dan sedikit dingin.
"Sayang?" Alva memanggil, namun tidak ada sahutan. Menguap samar, Alva meregangkan tubuhnya. Kemeja piyama yang dikenakannya terangkat ketika dia merentangkan tangannya keatas. Otot perut terlihat dengan jelas, dengan garis-garis otot yang halus. Sejak masih berusia remaja belasan tahun, Alva memang sudah memiliki tubuh yang terawat. Dia jangkung, cukup ramping, namun dia penuh dengan otot halus. Itu bukan jenis otot yang begitu kentara, namun dengan jenis otot yang menawan.
Mengulurkan kaki kebawah untuk menyapa sepasang sandal rumah berbulu yang nyaman, Alva melangkah keluar dan menuruni tangga.
Aroma sedap tercium begitu dia memasuki lantai pertama apartemennya. Nampaknya, Arana sedang memasak. Dan benar saja, Alva menemukan istri kecilnya tengah berkutat dengan peralatan dapur dengan sangat lincah. Seakan semua rasa sakit yang kemarin dirasakannya tidak pernah terjadi kepadanya. Alva melangkah dengan hati-hati dan mengulurkan tangan untuk merengkuh pinggang Arana yang tipis.
"Astaga Al! Kamu mengejutkanku!"
Arana hampir saja akan menjatuhkan panci supnya dan membanting seseorang yang memeluknya ketika dia menyadari bahwa satu-satunya diapartemen itu yang bisa memeluknya hanyalah Alva. Dia memandang tidak puas pada Alva yang terkekeh dan menyapanya dengan ciuman dipipinya.
"Selamat pagi sayangku~"
Arana mendengus, namun dia tetap membalas. "Selamat pagi."
"Apakah kamu sudah baik-baik saja?" tanya Alva membuat Arana menganggukkan kepalanya tanpa daya. "Ya, aku benar-benar baik saja. Itu seperti siklus alami, dan hanya akan sakit beberapa waktu, kemudian normal kembali. Tidak perlu perhatian khusus, aku bahkan sudah bisa memasak kembali, bukan?"
Alva mengangguk dengan patuh dan membiarkan dirinya bermanja-manja pada Arana sebelum gadis itu mengusirnya dari dapur karena mengganggu kegiatan memasaknya. Menunggu dimeja makan, akhirnya keduanya menikmati sarapan pagi bersama dengan sesekali diselingi candaan ketika Arana membawa makanan keatas meja makan. Kemudian, Alva mandi dan bersiap untuk berangkat bekerja.
"Sayang, nanti masakkan aku cincin cumi merica, ya? Aku sedang ingin makan itu."
Arana dengan ringan menganggukkan kepalanya. "Akan aku buatkan."
"Kamu harus kembali lebih awal pokoknya hari ini, mengerti?" lanjutnya
__ADS_1
Alva menganggukkan kepalanya, dan dia dengan tenang melangkah meninggalkan Arana setelah memberinya kecupan didahinya, seperti yang biasa dia lakukan. Memandang punggung Alva yang menghilang dibelokan, Arana menyunggingkan senyuman tipis dan melangkah masuk sebelum menutup pintu apartemennya.
Mendudukkan dirinya disofa, Arana membuka ponselnya dan menemukan beberapa pesan dari kenalannya. Beberapa dari Amber dan beberapa dari mereka yang sebenarnya tidak ingin dikenal lagi oleh Arana. Pesan-pesan itu berisi ucapan permintaan maaf yang menggunung, dan Arana tahu bahwa permintaan maaf mereka sebenarnya tidak berarti apa-apa. Kendati demikian, sebenarnya bukan salah mereka untuk bertanggung jawab atas kecelakaan yang dia alami. Namun Arana selalu merasa mereka tidak sesederhana itu, dan untuk beberapa alasan, Arana tidak ingin berurusan dengan mereka lagi.
Arana membuka pesan Amber, dan melihat rentetan keluhan didalamnya.
[Na, apa kamu tahu? Jika aku tidak bisa menemuimu selama bertahun-tahun kedepan, dan kemudian kamu menemukanku didalam rumah sakit jiwa sembari menulis pertanyaan, aku akan sangat bersyukur jika kamu bisa membantuku melaporkan dosenku yang bernama Devion. Aku akan mengirimkan surelnya, dan kamu bisa membantuku menerornya dimasa mendatang.]
Arana mengerutkan keningnya dan pada akhirnya menekan tombol panggil ketika dia tidak bisa mengerti seluk beluk masalah. "Amber?"
Panggilan terhubung dengan cepat, dan Amber diseberang sana segera mengeluh. [Nana!]
"Aku melihat pesanmu dan ... sebenarnya itu sulit dimengerti."
[Memang kenyataannya pun sulit dimengerti. Aku benar-benar tidak paham mengapa dosen ini sepertinya menargetkanku selama ini! Dia mengatakan bahwa aku terlalu ceroboh dalam mengerjakan laporan yang dia minta, dan setiap hasilnya selalu buruk dimatanya. Dia bahkan berkata bahwa jika dia mungkin akan memberikan evaluasi nilai D untukku diakhir semester! Aku mengakui bahwa aku memang bodoh, Na! Tapi aku bukannya tidak teliti, aku sungguh-sungguh mengerjakan laporan yang dia suruh lakukan!]
Suara Amber nampak sangat sedih. [Na, kamu selalu membantuku seperti ini, aku benar-benar khawatir aku akan memanggilmu mama dimasa mendatang!]
Arana terkekeh, "Bukankah kamu memang putriku? Putri mama yang paling manja, cepat kirimkan dan mama akan memeriksa pekerjaan tanganmu."
Amber tertawa riang diseberang sana. [Haha, aku akan mengirimkannya kalau begitu! Aku yakin dengan bantuanmu, aku akan menyelesaikannya secepat aku berkelit lidah melawan mama, haha!]
Senyum Arana sedikit memudar ketika dia mendengar pernyataan Amber. Maniknya sedikit linglung, dan dia dengan ragu membuka bibirnya. "Apa bibi ..."
[Ayolah, kita tinggalkan masalah ini. Oh, aku harus menutup panggilannya, kita lanjutkan nanti ya, Na! Love you!]
__ADS_1
Memandang panggilan telepon yang terputus, Arana menghela napasnya dan dengan tenang menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa. "Aku harap Amber baik-baik saja."
...***...
Disisi lain, Amber menurunkan ponselnya ketika dia secara sepihak memutus panggilan telepon dari Arana. Maniknya yang sewarna daun memandang sosok didepannya dengan dingin, hampir tidak ada ekspresi dan keceriaan yang biasanya dia miliki setiap harinya.
"Ada apa sampai mama mau masuk ke kamarku?" tanyanya dengan nada tanpa emosi.
Wanita didepannya memandang Amber dengan tajam. Hampir tidak perlu repot-repot untuk berbasa basi ketika dia dengan tegas melemparkan sebuah pakaian kepada Amber yang mengelak dengan jijik. "Pakai gaun itu dan turunlah!"
Amber melirik gaun peach disampingnya dan mencibir. "Kenapa aku harus mau?"
Plak!
Sebuah tamparan mendarat dikepalanya. Wanita didepannya dengan tajam dan ganas memandang Amber sebelum dengan jijik mengibaskan tangannya, seolah dia baru saja menyentuh sesuatu yang tidak pantas disentuh. Amber membenarkan letak rambutnya dan dengan tatapan anguhnya memandang wanita didepannya dengan tatapan permusuhan yang kental.
"Menjijikkan? Sayangnya aku lebih jijik hanya dengan menyadari bahwa ada dirimu disini." Ungkap Amber dengan ringan.
Wanita itu hanya meliriknya sebelum melangkah keluar. "Lihat saja jika kau tidak keluar dengan gaun itu. Lihat bagaimana ayahmu akan mengurusmu."
Setelahnya, dia membanting pintu didepan tatapan Amber yang perlahan berubah. Jejak dingin dan keberaniannya seakan tersapu. Amber memandang linglung gaun disebelahnya, dan perasaan tidak nyaman melingkupi hatinya. Ia mengepalkan tangannya, dan pada akhirnya dia bangkit berdiri, mengambil vas diatas meja dan membantingnya ke dinding dengan keras. Napasnya memburu, namun tidak bisa menyembunyikan gemetar yang dimilikinya.
Disaat seperti ini, Amber hanya ingin menemukan lubang dan bersembunyi didalamnya.
"Sial! Sialan!"
__ADS_1