
Dua hari kemudian...
Arana berdiri didepan gedung boutique yang menjadi kepunyaan Karina. Beberapa waktu lalu, dia menggunakan taksi untuk bisa sampai di tempat ini. Gadis itu mengenakan blues berwarna merah maroon dengan celana setengah paha berbahan jeans warna hitam. Sebuah tas selempang hitam tertaut di bahunya, dan helaian rambut hazelnya dibiarkan tergerai bebas tanpa banyak aksesoris kecuali anting yang bertengger di kedua telinganya.
Setelah waktu yang lama, Arana sudah membuat keputusan.
"Permisi, apakah anda ingin bertemu dengan nona Karina?" Seorang pekerja datang mendekati Arana dan bertanya kepadanya.
Arana mengangguk. "Dia ada?"
Pekerja itu mengulas senyuman ramah dan menganggukkan kepalanya. "Silakan ikuti saya, nona."
Melangkah mengikuti wanita tadi, manik Arana tak lepas memandang pemandangan di sekitar boutique. Udara yang hangat drngan cahaya yang lembut membuat perasaan Arana nyaman. Seandainya dia benar-benar bisa bekerja di tempat ini, betapa menyenangkannya.
"Nona Karina, nona Alana ada disini."
Merasa bahwa dia sudah sampai, Arana menoleh dan menemukan Karina duduk disebuah bangku yang menghadap balkon setelah dia menaiki tangga melingkar menuju lantai dua tiga. Wanita itu mengenakan kemeja berlengan panjang berwarna biru gelap dengan rok ubur-ubur berwarna putih yang membuat penampilannya terlihat anggun.
Karina berdiri dan menyapa ketika melihat Arana. "Ah, selamat datang, Alana. Senang bertemu denganmu. Silakan duduk."
Melangkah melewati wanita yang mengantarkannya, Arana mendudukkan dirinya didepan Karina yang memberikan kode kepada pekerjanya untuk bisa kembali turun melanjutkan aktivitasnya.
"Silakan minum tehnya, Alana." Ucap Karina sembari menuangkan teh dari teko ke cangkir.
Melirik wanita tadi yang sudah kembali, Arana langung menyampaikan maksudnya. "Saya tidak bisa bekerja disini."
"Ah?" Wajah Karina menampilkan sedikit kekecewaan. Namun ketika mendengar ucapan selanjutnya dari Arana, senyuman terbit begitu saja tanpa bisa di tahan. "Maksudku, aku tidak bisa bekerja secara langsung di boutique ini. Aku memiliki kesibukan sendiri, jadi aku hanya akan menerima pekerjaanku melalui email, dan akan kukirimkan hasil pekerjaanku kepada Anda melalui email."
"Bolehkah aku tahu apa alasannya?" Tanya Karina penasaran.
__ADS_1
Arana memandangnya selama beberapa waktu sebelum mengatyr jawabannya. Bagaimanapun juga, Karina lebih tua darinya dan sebentar lagi, dia mungkin adalah atasannya. Meskipun sifat Alana buruk, dia tidak mungkin menjawab dengan jawanan tidak sopan seperti: Bukan urusanmu!
"Orangtuaku tidak suka aku menggambar. Aku menggambar hanya sebagai hobi, termasuk mendesain pakaian. Jika mereka tahu, aku mungkin tidak akan boleh menyentuh alat gambar lagi. Lagipula bulan depan aku sudah mulai berkuliah,jadi tidak bisa selalu datang ke boutique." Tutur Arana membuat alasan yang sekiranya masuk akal untuk diterima.
"Jadi saya hanya bisa bekerja dengan cara seperti itu." Kata Arana.
Karina memandangnya sebelum mengangguk. "Aku paham masalah yang terjadi padamu. Bagaimanapun juga, selamat datang di Karina's Boutique, Alana."
"Aku akan mengirimkan kontrak online-nya kepadamu nanti. Dan kemudian kamu bisa menghubungiku untuk tanda tangan kontrak setelah membacanya. Jika ada masalah dengan kontraknya, kamu biss meberitahuku."
Arana mengangguk. Cukup lega bahwa Karina menerima alasannya. "Kalai begitu aku akan pergi sekarang. Terimakasih untuk tehnya. Rasanya lumayan enak."
Karina terkekeh pelan. "Itu teh Camomile."
...***...
"Hah!!! Untungnya berhasil!"
Bahkan jika dia tidak bisa berkerja secara langsung di gedung ini, menjadi bagian dari Karina's Boutique dan bisa bekerja bersama dengan Karina adalah pencapaian terbesarnya.
Bekerja dengan desainer terkemuka yang namanya sudah sampai ke kancah internasional.
Arana bergumam dengan suara pelan. "Tidak apa, Rana. Kamu hanya melakukannya sekali. Sekali yang kamu inginkan tanpa mempedulikan orang lain."
Membulatkan tekadnya, Arana menyunggingkan senyuman dan berjalan disepanjang trotoar. Arana tidak menghentikan taksi karena memang ingin berjalan-jalan sebentar sembari menikmati pemandangan kota yang hidup. Kendaraan berlalu lalang, dan pohon-pohon besar ditanam disepanjanh jalan guna mengimbangi polusi yang dihasilkan dari gas emisi kendaraan baik yang beroda dua maupun yang beroda enam seperti truk.
Ada pedagang keliling yang menjajakan jajanan, meskipun sebenarnya mereka dilarang untuk berjualan dipinggir jalan, namun Arana tahu bahwa apa yang mereka lakukan didasari rasa keterpaksaan agar mereka mendapatkan uang lebih banyak di lingkungan yang ramai.
Arana memandang mereka sesaat, sebelum melanjutkan kembali langkahnya. Bibirnya mengulas senyuman.
__ADS_1
Lampu penyeberangan jalan sudah berwarna hijau ketika Arana menapakkan kakinya di zebracross, berniat menyeberang. Beberapa kendaraan yang melihat lampu lalu lintas berwarna merah berhenti di garis putih. Menunggu lampu berubah warna.
Semuanya berjalan normal, sampai sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi menuju Arana yang tengah tenang menyebrang. Ketika Arana menyadari bahwa ada bahaya yang mendekatinya, hanya ada jeritan nyaring dari pengguna jalan lain ketika suara debuman terdengar.
BRAK!
...***...
Memandang berkas ditangannya, Alva sesekali membalikkan kertas. Menyelami setiap kata yang dapat ditemukannya diatas kertas putih. Ia beberapa kali menaikkan kacamata baca yang digunakannya kala ia merasa kacamata berframe emas tipis itu sedikit meluruh dari pangkal hidungnya. Tatapannya beralih memandang para pekerjanya yang duduk di masing-masing bangku diruang rapat.
Tatapannya mengintimidasi, membuat suasana ruang rapat tegang. "Jadi, apa yang bisa kalian banggakan dari proyek kalian?"
"Saya sudah membaca laporan yang ditulis, namun saya menemukan bahwa proyek ini benar-benar biasa. Tidak ada yang istimewa dari produk kali ini, dan bahkan ada sedikit kesamaan dengan perusahaan Lmaria. Apa ini yang kalian diskusikan selama ini?"
"Hasil kerja keras kalian selama sebulan?"
BRAK!
"Jangan bercanda!" Lantangnya diikuti gebrakan meja itu membuat semua yang ada didalam ruangan itu berjengit kaget. Siapa yang tidak tahu bahwa Alva bisa sangat menakutkan saat marah. Itu sebabnya semua orang diperusahaan segan kepadanya.
Ia menarik napas. "Saya tidak mau. Kerjakan lagi proyek ini, bust produk yang berbeda dan lakukan semaksimal mungkin!"
"Ba—Baik, Pak!"
Ia mendongak ketika mendengar derap langkah kaki cepat menuju kearah ruang rapat. Tanpa mengetuk pintu, seseorang itu masuk. Erlan memandang Alva dan melangkah mendekat, sebelum berbisik ditelingannya.
Sepasang manik hitam itu melebar. Jantungnya seakan dihantam sesuatu. Berdetak dengan sangat cepat. Alva tidak mengindahkan tatapan penasaran dan bingung dari bawahannya, ketika dia berlari keluar begitu saja setelah mengambil alih kunci mobil ditangan Erlan. Dia tidak peduli ketika para karyawan terkejut dan berbisik melihatnya berlari bak kesetanan menuju lift. Menekan tombol lift dengan panik. Yang ada dipikirannya hanya satu.
Ucapan Erlan yang terngiang dikepalanya.
__ADS_1
"Rumah sakit menelponku karena ponselmu tidak aktif. Arana mengalami kecelakaan dan saat ini sedang ada dirumah sakit."