
Alva duduk dibangku kebesarannya ketika matanya terfokus pada dokumen yang harus dia periksa. Beberapa kepala divisi datang kepadanya dan beberapa dari mereka melakukan konsultasi dan memberikan laporan perkembangan divisi mereka yang membuat Alva cukup sibuk. Alva membalik halaman ketika Arana menghubunginya.
"Sayang? Apa yang terjadi? Apa kamu membutuhkan sesuatu?"
Alva selalu memprioritaskan Arana. Bahkan ketika dia sedang bekerja, Alva menghentikan kegiatan memeriksa berkas dokumen kerjanya dan mengangkat panggilan dari Arana.
[Sayang, ini tentang Aki.]
Alis Alva terangkat ketika mendengar perkataan Arana. Ia bertanya, "Ada apa dengan Aki, sayang?"
[Baru saja Aki mendatangiku dan menceritakan alasan mengapa dia kabur dari rumah Al.]
Alva terkejut dan menegakkan punggungnya. "Benarkah? Apa yang Aki katakan?"
Ada suara helaan napas sebelum Arana mulai menceritakan kembali apa yang Aki ceritakan kepadanya. [Sebenarnya, Aki memang mendapatkan tekanan di rumah. Dan itu dari kak Yoko. Aki mengatakan bahwa kak Yoko selalu memaksa Aki belajar seharian penuh dihari libur dan memaksanya belajar bahkan setelah pulang dari sekolah sampai malam. Kamu tahu, kan, Aki suka memotret? Sebenarnya Aki juga suka membaca novel. Dan dua hal itu adalah hal yang tidak disukai oleh kak Yoko.]
[Meski Aki sudah berusaha membujuk kak Yoko bahwa Aki tidak akan terpengaruh hanya karena memotret dan membaca, kak Yoko tidak mau mendengarkannya dan justru membakar semua buku novel yang Aki beli secara diam-diam dan kemudian keduanya bertengkar.]
[Aki bilang dia hanya kecewa pada kak Yoko. Jadi, dia kabur kesini.]
Mendengar apa yang dikatakan Arana, Alva tidak bisa merespon selama beberapa waktu sebelum dengan berat menghela napasnya. "Terimakasih sudah mau mendengarkan Aki dan terimakasih sudah memberitahuku, sayang. Aki, sejak dulu memang terlalu tertutup dan selalu pendiam. Dia hampir tidak mengungkapkan apa yang dia suka dan apa yang dia tidak suka. Sekarang kita sudah tahu akar permasalahannya, dan mungkin Aki dan kak Yoko bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik."
[Iya, Al. Sekarang Aki sedang tertidur. Anak pendiam sepertinya menangis dengan keras seperti tadi hampir membuat jantungku mau copot.]
Alva tercengang. "Aki bahkan menangis?"
Arana menganggukkan kepalanya diseberang sana. [Iya, dia menangis. Sulit dipercaya, kan?]
[Lagipula dia masih empat belas tahun, Al. Dia juga masih anak-anak.]
"Iya, kamu benar. Aku akan menghubungi kak Yosua dan memberitahunya masalah ini. Terimakasih sudah mau menjaga dan membuat Aki nyaman sehingga dia mau bercerita." Suara Alva selembut senyum yang sekarang dia sunggingkan.
[Jangan berterimakasih, Al. Aki juga sudah menjadi bagian dari keluargaku, dan aku tentu harus membantu jika keluargaku dalam masalah.]
Alva tertawa dengan lembut. Hatinya dipenuhi dengan kehangatan. Sepasang maniknya menatap fotonya dan Arana yang terbingkai oleh bingkai hitam elegan yang ada diatas mejanya dan dia menyunggingkan senyuman yang semakin hangat dan ramah. Arana memang benar-benar malaikat yang diturunkan untuk menghangatkan dan membuat hatinya senantiasa bahagia.
__ADS_1
"Ya, sayang."
Setelah mengobrol lagi selama beberapa waktu, Alva kemudian menghubungi Yosua sampai Yosua mengangkat panggilan teleponnya. "Paman."
[Oh, Alva. Bagimana, Al? Apa yang terjadi dengan Aki?]
Alva mulai menceritakan tentang apa yang dikatakan Arana hingga membuat keheningan terjadi selama beberapa waktu setelah Alva selesai bercerita. Alva menunggu respon Yosua dengan tenang dan tidak terburu-buru memaksanya untuk segera merespon. Yosua adalah pria yang berhati-hati dalam menentukan arah hidupnya, dia mungkin masih memproses dimana letak kesalahannya sehingga keluarganya bisa bermasalah dengan kaburnya sang putra.
[Aku mengerti.]
Akhirnya Yosua berbisik.
[Terimakasih sudah sangat membantuku, Al. Sampaikan salamku kepada Alana, bilang aku mengucapkan terimakasih. Setelah ini aku harus berbicara dengan Yoko dan mencari tahu apa yang sebenarnya dia lakukan sehingga membuat Aki kabur seperti ini.]
"Ya paman. Paman tidak perlu mengkhawatirkan Aki karena dia baik-baik saja disini. Ketika kami sudah bisa membujuknya, aku akan mengantar Aki pulang dan menyelesaikan masalah dengan bibi."
[Hm, terimakasih sekali lagi, Al.]
...***...
"Sayang, bisa kita mengobrol sebentar?"
Yoko melihat keseriusan dan ketegasan dimata Yosua dan menganggukkan kepalanya. Melihat Yoko mengangguk, Yosua melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, menunggu Yoko membujuk Naoki untuk ditinggalkan sebentar.
"Naoki, bunda memiliki sesuatu yang harus bunda bicarakan dengan ayah. Naoki duduk disini dan menonton film sendiri dulu, ya? Bunda hanya sebentar kok."
Naoki menganggukkan kepalanya dan masih asyik melahap es krimnya. "Iya bunda!"
Beberapa saat kemudian, Yoko menyusul Yosua yang tengah berada diruang kerjanya.
"Tutup pintunya." Ucap Yosua membuat Yoko tetap menutup pintu meski sedikit kebingungan. "Ada apa, sayang? Apa ada kabar tentang Aki? Apa dia akan segera pulang?"
"Dimana kamera yang aku berikan kepada Aki?"
Tanpa basa-basi, Yosua segera bertanya. Pertanyaan itu membuat Yoko terkejut dan menaikkan alisnya. "Ada apa? Apa ada sesuatu dengan kamera Aki?"
__ADS_1
Yosua menghela napas. "Sayang, tolong jujurlah padaku. Apa yang terjadi padamu dan Aki selama aku tidak dirumah."
Yoko menatap Yosua dan melebarkan matanya. "Kamu tidak mempercayaiku? Kamu menanyakan ini lagi kepadaku karena kamu memang tidak mempercayaiku, kan?"
"Memang tidak."
Yosua berucap dengan tegas. "Alva baru saja menghubungiku. Dia sudah tahu mengapa Aki kabur dan dia sudah memberitahuku. Tolong katakan sayang, aku tidak akan marah. Kita mungkin hanya kurang berkomunikasi disini. Kita bisa memperbaiki apa yang terjadi."
"Memangnya apa yang aku lakukan?!"
Pada akhirnya Yoko tidak mampu menahan emosi dan keterkejutannya. "Apakah menyuruh putramu sendiri yang bermalas-malasan untuk belajar adalah tindakan yang salah?! Aku menginginkan yang terbaik untuk Aki dan Naoki! Aku hanya ingin mereka bisa menjadi seorang yang bisa berguna dan dipandang baik oleh orang dimasa depan. Aku ingin Aki berkuliah di Nagoya University agar menjadi seorang dokter! Dimana aku salah ketika aku menginginkan kehidupan mereka yang baik dan nyaman?"
Yosua memandang Yoko dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu menginginkannya atau karena itu adalah impianmu yang tidak bisa kamu raih sejak dulu, Yoko?"
Mendengar pertanyaan Yosua, mata Yoko membelalak. Ada kemarahan, kesedihan dan kekecewaan dimatanya. Ia nampak berbeda dari wanita menawan dan lemah lembut yang biasanya dia lihat. Yoko dimatanya sekarang nampak seperti orang lain dan itu membuat hati Yosua menjadi sangat dan sangat tidak nyaman.
"Aku selalu mendapatkan nasihat dari orangtuaku bahwa setiap anak bebas memimpikan dan menyukai apa yang mereka inginkan. Orangtua hanya perlu mendukung dan menopang anak ketika mereka kesulitan dan mereka kelelahan agar mereka selalu mengingat apa yang mereka sukai dan memberitahu mereka bahwa meski mereka gagal, siapa mereka yang merupakan putra kita tidak akan pernah berubah." Suara Yosua tenang.
"Aki selalu menyukai pameran foto ketika dia masih kecil. Itulah mengapa aku membelikannya kamera dan dia berbakat dalam hal itu. Baru-baru ini, aku tahu bahwa Aki menjadi seorang penulis online karena temannya memberitahuku. Dia memiliki banyak sekali pembaca yang sangat mencintai karyanya."
"Sementara Naoki. Dia memang suka menggambar, namun bukankah kamu lebih tahu bahwa Naoki sangat menyukai matematika? Dia belajar karena keinginannya sendiri, bukan karena paksaan. Itulah yang membuat Aki dan Naoki berbeda. Naoki belajar karena keinginan dan rasa sukanya, sementara Aki belajar karena paksaan darimu." Yosua berkata.
Ia melanjutkan. "Setiap anak memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing Yoko. Mereka memiliki kehidupan mereka sendiri, yang mana kehidupan mereka berbeda dengan milik kita. Kita sebagai orangtua tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada anak-anak kita hanya untuk kepuasan pribadi."
"Aki suka memotret, dan Aki suka menulis. Itu apa yang menjadi kelebihannya dan apa yang dia sukai." Kata Yosua.
"Apa yang bisa Aki dapatkan dari hal seperti itu?! Menjadi seorang fotografer? Jangan bercanda! Menjadi penulis apakah berarti dia juga bisa menjadi kaya dan bisa hidup nyaman dimasa mendatang?!"
Yosua menatap Yoko dengan tatapan yang hampir lelah. "Tapi bukan berarti kita sebagai orangtua bisa menghentikan dan melarang hal yang mereka sukai. Aki memang butuh belajar, namun dia bisa belajar secukupnya. Nilainya juga baik dan dia adalah anak yang mandiri. Bukan nilai yang menentukan segalanya, tetapi keuletan dan kecakapan yang dia miliki sehingga dia bisa bertahan menghadapi dunia kerja. Aki juga pasti mengerti itu."
"Aku hanya ingin mereka menjadi seperti apa yang aku impikan. Hanya itu."
Dan Yoko, mulai menangis dalam perasaannya yang bercampur aduk.
__ADS_1