My Beloved Arana

My Beloved Arana
EKSTRA BAB 3


__ADS_3

EKSTRA BAB 3 - AMBER & AMBER


[Chapter 3]




"Kau benar-benar serius melamarku di rumah sakit?" Amber mendelik kearah Exel.


Bagaimanapun, Amber tidak bisa mengelak bahwa dia sudah nyaman dengan Exel. Meski Amber masih menganggap apa yang terjadi malam itu sebagai sesuatu yang menakutkan, namun Amber tidak bisa memungkiri bahwa sikap Exel selama ini kepadanya menjadi lebih hangat dan manis yang membuat hatinya meleleh yang ia sadari secara gamlang.


Pria itu memperhatikannya, peduli padanya bahkan untuk hal kecil sekalipun seperti mengikatkan sepatu untuknya dan bahkan memakaikannya syal ketika hendak keluar rumah. Tidak ada perubahan diwajahnya yang selalu datar dan terlihat dingin, namun Amber jelas bisa merasakan tatapannya yang sehangat mentari pagi dan semanis madu yang membuat hati Amber tergerak.


Amber mengakui, bahwa dia menyukai pria yang pada saat ini berdiri disampingnya itu.


"Aku bukan melamarmu, aku baru mengajakmu menikah."


Amber memincingkan matanya, "Bukankah itu sama saja dengan melamar?"


"Aku tidak baca bunga atau cincin, jadi nampaknya ini tidak termasuk dalam bentuk lamaran." Kata Exel membuat Amber menoleh dengan cepat. "Jadi kapan kamu akan melamarku dengan bunga dan cincin? Aku ingin reservasi di restoran didekat danau dan harus dimalam hari."


Mendengar apa yang dikatakan Amber membuat Exel menyunggingkan senyuman tipis. Dibawah tatapan Amber, ia mengangkat tangannya menghadap Amber dan tersenyum dengan lembut yang membuat jantung Amber berdetak lebih cepat dari normalnya. Namun dengan perlahan dan pasti, Amber meletakkan tangannya diatas telapak tangan Exel dan kedua tangan itu saling bertautan.


"Kita harus memeriksakan bayi kita."


Amber menganggukkan kepalanya dan keduanya dengan tenang dan manis melangkah menuju ruang konsultasi sembari bergandengan tangan.


Dalam beberapa hari kemudian, Exel benar-benar melamar Amber di restourant ditepi danau. Pria itu memboking seluruh restourant dan mengeluarkan bunga dan cincin sebelum berlutut didepan Amber dan menyunggingkan senyuman.


"Amber, maukah kamu menikah denganku?"

__ADS_1


Amber memandang cincin dikotak perhiasan ditangan Exel dan mengerutkan keningnya. "Masih tanya. Ya jelas mau, lah."


"Kau membuat suasananya menjadi tidak romantis lagi."


Amber tertawa dan mengulurkan tangannya. "Pakaikan."


Dengan senyuman, Exel mengambil cincin dikotak perhiasan itu dan mengambil tangan Amber sebelum memasangkan cincin emas itu kejari manis Amber. "Cantik."


...***...


Kemudian, dengan cepat hari pernikahan tiba. Duduk dibangku tunggu, Amber memandang pantulan dirinya didepan cermin. Ia menggerakkan tangannya dengan gugup, namun kemudian mengusap perutnya dengan lembut.


"Amber."


Amber yang dipanggil menoleh dan menyunggingkan senyuman lebar ketika melihat Arana datang mendekatinya. "Nana."


Arana duduk disebelah Amber dan tersenyum. "Kamu cantik sekali, Amber."


"Amber, ingin tahu sebuah rahasia?"


Pernyataan Arana membuat Amber sedikit menatap Arana dengan tatapan penasaran dan bertanya. "Rahasia? Rahasia apa, Na?"


Arana mendekat dan berbisik didekat Amber. "Sebenarnya kak Exel sudah menyukaimu sejak kita masih kecil, lho."


Manik Amber melebar. "Hah? Apa maksudnya?"


"Kamu jelas tidak akan menyadarinya, namun aku sudah menyadarinya sejak awal kita berteman, Amber. Sejak awal aku bertemu dengan kak Exel." Arana berkata kepada Amber, "Saat ulangtahunmu yang ke limabelas, kamu mendapatkan hadiah yang sangat kamu sukai, kan?"


"Gaun bunga yang kamu berikan padaku waktu itu, kan?"


Arana menerbitkan senyuman. "Iya, itu dari kak Exel"

__ADS_1


Amber terkejut sementara Arana berkata, "Memangnya kamu pikir kenapa aku memberimu dua hadiah waktu itu? Karena satu hadiah itu dititipkan oleh kak Exel kepadaku untuk diberikan padamu. Lagipula Amber, harga gaun itu bahkan setara dengan satu tahun penghasilanku. Mana mungkin aku mampu membelikanmu gaun itu dikeadaanku yang dulu."


Amber hampir tidak bisa berkata-kata mendengar apa yang disampaikan oleh Arana. Amber pikir itu hadiah dari Arana dan dia sangat menyukainya karena bentuknya yang sangat cantik. Meski Amber terkesan tomboy sejak kecil, namun Amber juga tidak tahan dengan hal-hal yang cantik sehingga dia juga sangat suka menggunakan gaun sebatas lutut itu dirumah. Bisa dibilang gaun itu menjadi gaun rumahan favoritnya.


"Kemudian kak Exel menghubungiku dan memuji betapa cantiknya kamu menggunakan gaun itu."


Amber menatap Arana dan sedikit memincingkan matanya curiga. "Jangan bilang kamu memang sudah sering berkomunikasi dengannya dibelakangku?"


Arana mengangguk. "Bulan kedua aku bermain dirumahmu, dia mendatangiku dan menanyaiku apakah aku tahu sesuatu tentangnya. Aku jelas tahu bahwa dia menyukaimu, jadi aku mengatakannya. Meski saat itu aku berpikir cukup aneh bahwa seorang kakak menyukai adiknya sendiri, aku tahu kebenarnnya ketika dia mulai menceritakan tentang dirinya sendiri."


"Mulai dari sana dia sering bertanya padaku apa yang kamu suka dan apa yang tidak kamu suka. Jadi aku memberitahunya. Tapi aku harap kamu percaya bahwa informasi yang kuberitahukan kepadanya hanya informasi sederhana yang sebenarnya siapapun juga bisa mengetahuinya jika mengenalmu lebih dekat." Arana berkata sebelum Amber salah paham padanya.


"Aku mengerti." Kata Amber.


"Tapi semuanya tampak aneh, Na. Jika dia benar menyukaiku, mengapa dia memperlakukanku dengan dingin? Mengapa dia tidak mau membantuku membantuku saat Ansel menyalahkanku dan membuatku buruk dimata semua pelayan bahkan ayah? Dan mengapa ... dia menyerangku malam itu?" Tanya Amber membuat Arana menghela napas.


"Amber, pertanyaan itu bukan pertanyaan yang bisa kujawab. Karena bukan aku yang melakukannya dan aku tidak bisa membaca pikiran seseorang. Pertanyaan itu, harus kamu tanyakan kepada orang yang tepat." Ujar Arana membuat Amber diam selama beberapa waktu sebelum menganggukkan kepalanya.


"Aku mengerti. Aku akan bertanya kepadanya, karena aku membutuhkan jawabannya." Kata Amber membuat Arana menganggukkan kepalanya. "Baiklah, pernikahannya akan dilakukan sebentar lagi. Amber, ayo tersenyum."


Kemudian, pernikahan berlangsung dengan suasana haru. Selesai acara pernikahan dan semua orang sudah beristirahat, Amber duduk ditepi tempat tidur selepas mandi dan menunggu Exel yang sah menjadi suaminya. Selepas menikah, Exel memutuskan untuk tetap menetap ditempat Melody. Bukan hanya karena tempatnya juga cukup nyaman, Exel ingin Amber tetap menemani Melody sesuai dengan keinginan gadis itu. Amber mengatakan bahwa Melody akan kesepian karena hanya tinggal seorang diri, jadi dengan kehadirannya dan sang buah hati yang akan lahir tidak lama lagi, Melody bisa hidup tanpa kesepian yang telah dirasakannya semenjak kematian sang suami empat tahun yang lalu.


Pintu kamar mandi terbuka. Amber melihat Exel sudah mengenakan piyama yang sama dengan miliknya. Pria muda itu melangkah menuju tempat tidur dan mengecup kening Amber selama beberapa detik. "Mengapa kamu belum tidur?"


Mendapati perlakuan manis Exel, Amber sedikit tersipu, namun dia menjawab dengan tegas. "Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu, dan aku harap kamu menjawabnya dengan jujur."


"Baiklah." Setelah hening selama beberapa waktu, Exel menjawab dan mendudukkan dirinya disamping Amber. "Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Apakah kamu mencintaiku?"


__ADS_1


__ADS_2