
Tubuh Arana kaku setelah mendengar pertanyaan Civanya.
Apakah dia melakukan sesuatu yang membocorkan identitasnya? Arana yakin bahwa dia tidak melakukan tindakan berlebihan yang jelas melenceng dari sikap Alana, bahkan ketika dia membantu Civanya, dia masih menggunakan kata-kata sadis dan arogan kepada orang-orang itu, jadi bagaimana bisa Civanya berkata demikian?
"Apa maksudmu? Kau sangat aneh." Cemooh Arana.
Civanya mengabaikan ekspresinya sejak awal, dan tidak bisa menahan keanehan didalam hatinya. Dia memiliki pemikiran yang sederhana, namun Civanya juga adalah gadis yang cerdas. Sebagai seorang yang cukup pendiam dilingkungan luar, Civanya lebih senang mengobservasi daripada berbincang-bincang atau berbasa-basi dengan orang lain. Jadi jika masalah mengobservasi, Civanya adalah yang paling baik diantara lingkaran pertemanannya.
Pada awalnya, Civanya tidak terlalu memperdulikan perubahan gadis didepannya yang dia ketahui sebagai Alana ini. Namun akhir-akhir ini, dia benar-benar merasa bahwa Alana berubah. Jika biasanya dia bahkan tidak mau berdekatan dengannya, beberapa waktu ini ia bahkan berjalan bersisian dengannya. Ia bahkan makan siang bersamanya dan menunggu jemputan bersama-sama. Dalam beberapa kesempatan, ia juga mengirim pesan kepadanya.
Civanya kebingungan, dan pikirannya menuju pada satu spekulasi bahwa mungkin Alana mengubah pandangannya setelah ia mungkin menemukan inspirasi kehidupan.
Namun setelah dia bertemu dengan David, ia memiliki spekulasi yang lebih aneh.
Dia mengenal David sebagai seorang playboy. Dia kenal, karena mereka bertiga bersekolah di SMA yang sama, dan Civanya juga tahu, bahwa pada saat itu, Alana dan David dirumorkan menjadi benefit friends, dalam artian mereka benar-benar berbagi keuntungan dalam hal yang tidak sepatutnya dilakukan remaja dibawah umur. Tapi siang tadi, Arana yang dia ketahui sebagai Alana tidak mengenali David, dan bahkan bersikap aneh setelah menonton video.
Daripada terkejut karena David bisa memiliki video itu atau takut karena mungkin David akan menyebarkan video itu, yang Civanya lihat adalah bahwa dia lebih menunjukkan tanda-tanda ketidakpercayaan dan rasa sedikit jijik dan kemarahan didalamnya. Bahkan, dalam emosi yang kompleks itu, Civanya juga merasa bahwa dia sedikit sedih.
Namun, Civanya menahan spekulasi keduanya didalam hatinya, dan mencoba mengawasinya.
Civanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman tipis dan berkata, "Soalnya kamu tiba-tiba menjadi sangat baik denganku. Mengakulah, kamu pasti bukan Alana, kan? Kamu pasti jelmaan ibu peri."
__ADS_1
Mendengar candaan Civanya, Arana merasa lega bahwa Civanya mungkin berkata seperti itu hanya sebagai bentuk candaan karena kebingungannya. Arana memandangnya selama dua detik sebelum mendengus dengan geli. "Konyol sekali. Kamu satu-satunya yang menganggap aku ibu peri."
"Akan kuberitahu kejujuran. Satu-satunya yang bisa membully-mu adalah aku, jadi jangan berpikiran terlalu jauh." Kilah Arana menggunakan alasan yang sering dia temukan dinovel-novel remaja yang tsundere.
Tidak masalah, selama Arana tidak ketahuan.
Civanya mendengarkan dengan baik, namun Arana bahkan tidak menyadari bahwa tangannya masih memegang lengan Civanya dengan santai. Jika bersama dengan Amber, sudah menjadi kebiasaan bagi Arana untuk memegang lengannya, dan itu terjadi juga pada siapapun yang dia anggap dekat, seperti Arselyne, Alva, dan beberapa orang lainnya.
Civanya tidak membalas apapun, dan diam-diam menyembunyikan senyumnya. Yah, anggap saja begitu.
Ketika Arana kembali satu jam kemudian, seperti biasa Alva masih belum kembali dari kantor. Arana meletakkan tasnya diatas meja dan mengikat rambutnya setelah melepaskan cardigannya. Arana melangkah menuju kamar mandi, mencuci wajahnya dan mengeringkannya. Wajahnya lebih ringan dan lebih segar setelah dia mencuci wajah, jadi, Arana selalu melakukannya setelah dia kembali dari beraktivitas diluar. Beberapa waktu kemudian, Arana mendudukkan dirinya disofa, menyalakan televisi dan menonton acara kesukaannya selama beberapa waktu sebelum dia dengan tenang mengangkat ponselnya setelah meletakkan toples kue kering.
Arana hendak membuka media sosial ketika sebuah notifikasi muncul didepannya.
Arana memandang ponselnya selama beberapa waktu, sebelum merenung dalam diam. Ia menghubungi Amber dan beberapa saat menunggu, panggilan telepon itu tersambung. "Amber! Aku butuh bantuanmu!"
...***...
Sudah pukul sepuluh malam ketika Alva kembali ke apartemen. Rasa lelah menghampirinya, dan dia membutuhkan pelukan Arana untuk mengembalikan energinya yang terkuras setelah seharian berkutat dengan dokumen-dokumen penting yang menumpuk hingga menggunung. Alva ingin segera mandi dan tidur sembari memeluk Arana.
"Sayang?" panggilnya ketika ia mendapati ruang utama kosong.
__ADS_1
Arana biasanya menunggunya disofa, dan ketika dia datang, Arana akan segera menyambutnya. Tapi kali ini tidak. Perasaan Alva memburuk, dan dia khawatir bahwa kejadian Arana diculik terulang kembali. Namun, tidak ada informasi dari bawahannya mengenai kondisi Arana. Jadi setelah berkeliling apartemen memastikan bahwa apartemen itu kosong tanpa keberadaan istri tercintanya, Alva membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada Arana.
[Sayang, kamu tidak dirumah? Apa kamu sedang pergi kesuatu tempat?]
Tidak lama berselang, ada rekaman suara yang dikirimkan oleh Arana. [Maaf Al, lupa mengabarimu. Aku sedang mengerjakan tugas dirumah Civanya. Aku meminta bantuannya, jadi aku tidak akan kembali malam ini. Aku akan kembali besok.]
Nampaknya untuk meyakinkan Alva, Arana juga mengirimkan foto dirinya dan Civanya tengah duduk dibawah sembari menghadap tumpukan kertas. Melihat bahwa Arana benar-benar tidak kenapa-kenapa dan aman di apartemen temannya, Alva menghela napas lega dan mengirimkan pesan kepada Arana.
[Tidak apa, sayang. Kamu lanjutkan tugasmu, dan aku akan menyuruh Agus untuk menjemputmu besok.]
[Baik, Al. Aku akan mengabarimu, besok. Love you!]
Alva tersenyum. [Baiklah, love you more.]
Melepaskan jasnya, Alva menghela napas tanpa daya. Dia harus tidur sendirian malam ini.
...***...
Disisi lain, Civanya memandang Arana dengan gugup. Manik sewarna daunnya nampak ragu, namun Arana didepannya memasang wajah serius dan senyuman lebar yang hampir tidak pernah dia tunjukkan didepan Civanya.
Arana mengangkat ponselnya dan nampak mencari nomor seseorang ketika dia menjawab dengan santai. "Tidak masalah selama Alva tidak tahu."
__ADS_1