My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 120: Mother Makes Me Dizzy


__ADS_3

Bagi Arana, tidak ada hal lain yang lebih baik daripada menemukan wajah tidur Alva tepat didepannya. Pria itu nampak tertidur dengan pulas setelah Arana menjadikan dirinya sendiri sebagai kasurnya, dan wajahnya sama sekali tidak menunjukkan gangguan. Arana memandangnya selama beberapa waktu sebelum dengan hati-hati menyingkir dari Alva yang masih terlelap.


Mengambil ponselnya dan menghidupkan layarnya, Arana menemukan bahwa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, yang artinya mereka semua tidur sampai kesiangan. Untungnya, Arana memang memiliki hari libur hari ini.


"Aku tidak tega membangunkan Alva, dia tampak kelelahan." Gumam Arana.


Ia sedikit menjauh dan mencari kontak Erlan sebelum menghubunginya. "Halo, Lan?"


[Halo, Na? Bisakah aku tahu dimana Alva, aku menghubunginya beberala kali, namun dia tidak membalas pesanku.]


"Itu, apakah ada yang penting? Sebenarnya semalam kami hampir tidak tidur dan Alva masih tidur karena kelelahan berkendara selama berjam-jam. Maksudku, jika tidak mendesak, bisakah Alva beristirahat dulu?" Tanya Arana sedikit ragu dengan nada memohon.


Arana benar-benar ingin Alva beristirahat selama beberapa waktu. Semalam Alva tidur begitu malam, dan berkendara pagi buta sampai hanya bisa tidur beberapa jam setelah sampai. Alva pasti benar-benar kelelahan dan perlu beristirahat.


[Oh, baiklah, aku mengerti. Tidak apa, biarkan dia istirahat. Toh ini tidak begitu mendesak.]


"Terima kasih, Lan. Maaf merepotkanmu." Arana berterima kasih dan meminta maaf dengan tulus.


[Tidak perlu meminta maaf, aku akan mengurusnya. Kamu pastikan saja bahwa Alva cukup beristirahat sehingga tidak akan jatuh sakit. Kamu tahu sendiri, kan? Kalau Alva sakit, dia benar-benar bersikap merepotkan karena tidak ingin dibawa kerumah sakit atau bertemu dokter padahal dia sendiri hampir tidak bisa bergerak.]


Arana tersenyum dan bergumam, "Ya. Pokoknya terimakasih, Lan. Aku akan membiarkan Alva istirahat secukupnya."


[Baiklah, aku akan kembali bekerja. Jika sesuatu terjadi atau jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa menghubungiku.]


"Ya."


Setelahnya, panggilan telepon itu terputus. Arana menoleh untuk memandang Alva yang masih terlelap dan dengan ringan melangkah menuju dapur untuk menyiapkan sarapan sederhana untuknya. Karena Arana tidak ingin membuat mereka terbangun karena berisik, Arana hanya menyiapkan roti panggang dan merebus beberapa sosis. Hanya hidangan sederhana dan tidak perlu repot untuk membuatnya, karena hanya perlu memasukkannya ke mesin pemanggang roti dan ke panci perebus.


Tidak sampai sepuluh menit, Arana sudah menyiapkan sarapan diatas piring dan mengambil miliknya sendiri sebelum menyimpan yang lain kedalam wadah penyimpanan agar tetap hangat sampai Alva dan Aki bangun.


Mendudukkan dirinya dibangku di balkon, Arana memandang pemandangan disekitar apartemennya dengan tenang sembari menikmati roti panggangnya.


"Reuni teman SMA lusa? Bukankah kita baru lulus? Secepat itu mengadakan reuni?"


Arana bertanya kepada Civanya yang menghubunginya. [Ya mau bagaimana lagi? Bukan aku kan, yang membuat acaranya.]

__ADS_1


[Apa kamu akan datang?]


Arana memandang lurus kedepan, dan menjawab tanpa berpikir. "Tidak, aku tidak akan datang."


[Aku juga tidak akan datang jika kamu tidak datang. Tapi kamu tahu, katanya reuni kali ini bukan hanya digunakan sebagai acara reuni. Tapi, penyambutannya setelah kembali dari luar negeri!]


"Penyambutan ... siapa?"


[Kamu tidak ingat? Dia ...]


Perkataan Civanya berbarengan dengan sebuah pesan masuk dari nomor pribadi di ponsel lain miliknya yang terhubung dengan Alana. Ada sebuah nama disana, dengan nama kontak yang membuat Arana merasa bahwa masalahnya semakin dan semakin runyam, hingga dia hampir tidak diberi ruang untuk bernapas sebentar saja.


[Hai, sayang, merindukanku? Aku sudah kembali ke Indonesia, aku menantimu di malam reuni kita!]


Pesan dari kekasih--selingkuhan Alana lainnya,


[... ****Ernad Sebastian**, pangeran SMA kita dulu**!]


Ernad Sebastian.


...***...


Tidak lama setelah Arana selesai membersihkan diri dan bersantai sejenak, Alva terbangun dari tidurnya dan mencari keberadaannya.


Ketika Alva melihat Arana tengah duduk santai di balkon sembari membaca sebuah buku, Alva mendekatinya, berdiri dibelakangnya dan menjatuhkan ciuman didahinya setelah ia membungkukkan badannya.


"Selamat pagi, sayang." Bisiknya dengan suara rendah.


Arana terkejut selama beberapa detik, namun dia dengan cepat tenang dan menyunggingkan senyuman ketika ia menyadari bahwa itu adalah Alva. Arana dengan tenang membalas sapaannya, "Selamat pagi juga, sayang. Bagaimana tidurmu?"


Alva mengangguk. "Nyenyak, walaupun tidak senyenyak saat memelukmu."


Wajah Arana sedikit memerah, ia memilih mendengus ketika mendengar perkataan Alva dan melanjutkan membacanya sembari berkata, "Aku sudah menyiapkan sarapan didalam wadah penghangat. Hanya roti panggang dan sosis rebus. Aku tidak ingin mengganggu tidur kalian, jadi aku tidak bisa membuat banyak keributan didapur. Tidak apa, kan?"


Alva memeluknya dari belakang dan mengecup puncak kepalanya. "Tentu saja. Aku bisa makan apapun yang diberikan istriku ini!"

__ADS_1


Arana terkekeh. "Kamu bilang begitu. Bayangkan coba, jika aku menyiapkan ranting dan batu untuk sarapan? Tidak mungkin kamu akan makan, kan? Huh~"


Alva tertawa tanpa suara dan dengan lembut mengusap surai Arana sebelum bangkit berdiri. "Aku akan makan dulu. Aku akan membangunkan Aki juga, meski dia lelah, dia masih harus mengisi perutnya agar tidak sakit perut."


Mendengar penuturan Alva, Arana mengangguk. "Aku saja yang membangunkannya. Kamu bisa makan terlebih dahulu."


"Baiklah."


Setelahnya, Alva meninggalkan Arana yang menutup bukunya, meletakkannya diatas meja dan bangkit berdiri untuk menuju kamar yang digunakan Aki. Mengetuk pintu tiga kali, Arana menunggu beberapa waktu. Ketika dua menit berlalu dan pintu tidak kunjung dibuka, Arana mencoba mengetuk lagi dan berakhir sama. Pada akhirnya Arana memutuskan untuk membuka pintu yang memang tidak dikunci dan melangkah masuk untuk melihat remaja laki-laki itu masih terbaring nyaman ditempat tidurnya. Namun dia tidak tidur, hanya mengenakan headphone, bermain game dan membelakangi pintu sehingga tidak melihat kedatangannya.


Mengetuk pelan bahu Aki, Arana akhirnya mendapatkan atensinya.


"Ada apa, kak?"


Arana tersenyum. "Sudah menjelang siang. Ayo sarapan, kamu hanya makan sedikit semalam. Perutmu bisa sakit."


"Aku membuat roti panggang dan sosis reburs. Kamu tidak keberatan, kan?"


Aki menggelengkan kepalanya, melepaskan headphone dari telinganya dan menggantungkannya dilehernya ketika dia menyimpan ponselnya dan melangkah mengikuti Arana menuju ruang makan untuk menyapa Alva yang sudah memulai sarapannya.


"Pagi, paman." Sapanya yang dibalas deheman oleh Alva yang sedang mengunyah. "Hn."


"Erlan baru menghubungiku, terimakasih sudah menjelaskan situasinya pada Erlan ya, sayang? Jika kamu tidak menghubunginya, aku yakin dia akan memblokir nomorku dan akan dalam mode bisu padaku selama dua hari dua malam."


Mendengar perkataan Alva, Arana mau tak mau tertawa. "Haha, Erlan bisa melakukan itu juga ternyata?"


"Tidak perlu berterimakasih."


Keduanya tidak menyebutkan secara spesifik apa yang terjadi karena tidak ingin membuat Aki merasa bahwa dia yang bersalah karena secara tiba-tiba meminta Arana dan Alva menjemputnya dipagi buta bahkan setelah Alva baru tidur tidak lama sebelum itu. Maka dari itu baik Alva maupun Arana tidak ada yang membahas topik kelelahan dan tidak bisa bekerja atau berkuliah, dan hanya mengatakan bahasan lain.


"Paman," panggil Aki.


Alva dan Arana secara refleks menoleh pada Aki yang tengah mengangkat selembar roti panggang. "Bisakah paman meminta bunda untuk tidak menghubungiku sementara waktu? Atau aku akan memblokir nomornya."


"Bunda membuat Aki pusing."

__ADS_1



__ADS_2