
Berbaring diatas tempat tidur, Arana memandang langit-langit kamarnya sebelum bergerak memiringkan tubuhnya memandang Alva yang hampir terlelap.
"Va." Panggilnya pelan. Namun Alva yang belum sepenuhnya tidur menoleh, memandangnya dan merespon dengan gumaman. "Hm?"
Arana ragu selama beberapa waktu, sebelum dengan tenang mulai berkata, "Jika bekerja tanpa kontrak kerja, apakah bisa?"
Alva yang sejak tadi memperhatikan Arana mulai berbicara. "Bisa saja asal disetujui kedua belah pihak. Meski tidak menggunakan kontrak tertulis, namun bisa disetujui bersama dengan kontrak lisan. Memangnya ada apa?"
Arana menjawab tanpa sadar dengan suara pelan. "Aku ingin tahu. Jika tiba-tiba menghilang—"
"Maksudku, jika tiba-tiba ada sesuatu alasan yang membuat tidak bisa bekerja lagi, apakah kontrak itu bisa dibatalkan tanpa penalti atau sejenisnya." Koreksinya.
Alva memiringkan tubuhnya menghadap Arana dan meletakkan tangannya dipinggang gadis itu. Sedikit mendekat dan memejamkan matanya. "Itu harus dikomunikasikan bersama. Sekarang sudah malam, tidurlah sayang."
"Mn, baiklah." Gumam Arana.
Dia telah memikirkannya selama beberapa hari. Arana tidak bisa menolak tawaran yang sudah menjadi impiannya sejak kecil. Sebesar apapun logikanya melawan untuk menolak demi kenyamanan rencananya, namun hatinya memaksanya untuk menerimanya. Orang bilang, ikuti kata hati. Dan Arana akui, ia telah kalah untuk mengikuti apa yang hatinya katakan.
Dia ingin merancang gaunnya sendiri.
Dia ingin menjahit pakaiannya sendiri.
Dia ingin bekerja bersama dengan mereka yang mencintai apa yang juga dia cintai sejak dulu.
Orang boleh mengatakan Arana egois. Namun untuk kali ini, Arana ingin melakukan apa yang dia inginkan. Bahkan meskipun identitasnya dirahasiakan ditempat kerjanya, dia ingin beradal disana. Wanita itu memiliki figur seperti neneknya. Seorang wanita yang bisa dipercaya, dan Arana ingin mempercayainya untuk membantunya memegang rahasianya jika bekerja disana nantinya. Selama tidak ada yang sadar bahwa dia bekerja disana, dia akan baik-baik saja, kan? Lagipula, dia tidak harus selalu ada dibutique untuk mengerjakan desain atau pola.
Menyunggingkan senyuman, Arana mulai memejamkan mata dan lambat laun, ditemani suara menenangkan dari kotak musik dinakas meja, ia mulai terlelap dan jatuh ke alam mimpi, ketika Alva tiba-tiba membuka matanya.
__ADS_1
...***...
"What? || Apa?" Arana terbeo.
Arana bertanya, "You're serious? || Kamu serius?"
Seseorang diseberang sana menjawab dengan nada jengah. [Astaga, aku serius, Rana! Aku akan berlibur ke Jakarta selama seminggu penuh. Menghabiskan hariku dengan mata kuliah dosen yang paling menyebalkan itu membuatku pusing! Aku butuh refreshing, jadi aku mau berlibur. Sebenarnya, asal ada kamu kemanapun, oke juga!]
Arana tersenyum senang. "Aku senang mendengar kamu akan berlibur kesini, tapi aku turut prihatin dengan alasan liburanmu. Ingin aku menjemputmu, Amber? "
"Ngomong-ngomong, dimana kamu akan tinggal selama disini? "
[Bisakah aku tinggal di apartemenmu saja? Aku takut sendirian dihotel, dan aku tidak punya sanak saudara di sana.]
Arana sedikit ragu. Ini bukan apartemennya, namun jika hanya untuk menginap selama beberapa hari saja, Alva tidak akan keberatan, kan? Lagipula, ada kamar kosong di apartemen ini. Bahkan 2 kamar kosong. "Aku akan meminta izin Alva terlebih dahulu. Seharusnya, tidak masalah untuk membiarkanmu tinggal selama beberapa hari."
Ucapan Amber membuat Arana bergidik ngeri. Dia pernah marah kepada Amber dan memutuskan untuk mengabaikannya selama beberapa hari. Namun gadis itu meneror nya dengan permintaan maaf yang mana justru membuatnya ketakutan. Pada akhirnya dia memaafkan Amber dan gadis itu kembali berperilaku normal tanpa menerornya lagi. Setidaknya Arana belajar dari pengalaman, untuk tidak pernah membuat Amber berpikir untuk menerornya, atau itu benar-benar lebih buruk daripada mendapatkan nilai merah di ulangan harian matematika..
"Pukul berapa kamu kira-kira akan sampai? Agar aku bisa menjemputmu." Tanya Arana.
Amber menjawab. [Sekitar jam setengah 8 pagi. Kamu bisa menungguku di depan taman bandara saja. Jadi kamu tidak bosan menunggu didalam. Aku juga bisa langsung menemukanmu.]
Arana memikirkannya dan setuju. "Baiklah. Hati-hati diperjalanan Amber. Aku akan menunggumu besok."
[Baiklah! Sampai jumpa, Rana!]
Arana mengangguk tanpa sadar meskipun Amber tidak bisa melihatnya. "Ya, sampai jumpa, Amber."
__ADS_1
Bangkit dari sofa, Arana berjalan cepat menghampiri Alva yang tengah duduk santai membaca sebuah buku ditemani segelas americano dibalkon. Pria itu menggunakan kaos lengan pendek dan celana panjang yang membuat penampilannya terlihat lebih muda dan santai. Hari ini, Alva sedang mengambil cuti. Jadi, dia tidak berangkat ke perusahaan. Sebagai CEO, bukan berarti Alva bebas mengambil waktu cuti. Hari libur Alva juga terjadwal selama sebulan dua kali untuk libur biasa. Jika ada kepentingan mendesak, baru Alva mengambil cuti mendesak.
Lagipula, semua orang butuh waktu istirahat dari pekerjaan mereka. Apalagi sebagai CEO, pekerjaan Alva tidak sedikit. Dia adalah orang yang sibuk.
Berdiri dibelakang Alva dan meraih bahunya, Arana dalam diam mulai memijat Alva. Alva yang tengah membalik halaman buku membuka suaranya. "Ada apa sayang?"
Oh, suami yang sangat peka!
Arana mulai menjelaskan apa yang dia inginkan. "Begini, sayang. Kamu ingat Amber?"
"Tentu, dia sahabatmu bukan? Ada apa dengannya?" Tanya Alva sembari menoleh, menatap Arana yang kini menyatukan kedua tangannya dan ragu-ragu untuk berucap.
"Besok temanku akan datang ke Jakarta. Itu, bisakah dia menginap disini?" Tanya Arana. "Dia seorang perempuan, bahasa Indonesianya belum begitu baik, dan dia tidak memiliki sanak saudara disini. Aku cemas jika dia tinggal di hotel sendirian. Bisakah? Hanya beberapa hari."
Arana melihat Alva menutup bukunya dan nampak memasang ekspresi berpikir. Jantung Arana berdentum gugup, dan kedua tangannya saling bertautan, mencengkram untuk menyalurkan kkegugupannya
Alva melirik Arana, dan pada akhirnya menyunggingkan senyuman. "Tentu saja boleh. Dia adalah sahabatmu, maka dia juga ttemanku, tentu saja dia boleh menginap."
"Lagipula," Alva meraih tangan Arana. "Ini adalah rumah kkita Walaupun aku akan selalu mengizinkanmu melakukan sesuatu dengan apartemen ini bahkan tanpa seizinku, namun aku senang kamu meminta izin kepadaku, sayang."
Arana mengerutkan keningnya. "Kamu kan, suamiku? Bukankah memang sudah sewajarnya seorang istri selalu meminta izin kepada suaminya?"
Alva berkedip selama beberapa kali sebelum menerbitkan senyuman dan tawa. "Haha! Iya, maafkan aku. Istriku ini benar-benar baik dan manis. Aku semakin menyukaimu saja."
"Hanya kamu."
__ADS_1