
Arana memandang Erlan yang duduk didepannya dan sedikit mengerutkan keningnya. Ia nampak berkata dengan pelan. "Lan, apa ini akan baik-baik saja?"
Erlan didepannya mengangguk dengan mantap, menikmati segelas es buah ditangannya dengan tenang. Tidak ada emosi khusus diwajahnya, dan dia berkata dengan samar. "Tidak masalah. Tidak perlu takut."
Arana masih memiliki keraguan diwajahnya. "Tapi, aku tetap takut. Aku takut Alva akan ..."
"Aku akan apa?"
Alva dengan langkah dingin mendekati keduanya yang duduk di bangku taman. Tidak ada ekspresi diwajahnya, dan dia dengan dingin menatap Arana dan Erlan yang langsung berdiri ketika melihat kedatangannya. Arana dengan gugup memandang Alva yang memandang lurus kearahnya, tanpa sedikitpun mengalihkan tatapan darinya.
Jantung Arana berdentum, dan ia menunduk, mengalihkan tatapan dari Alva.
Melihat tingkah Arana, Alva merasakan rasa sakit dihatinya. Ia memandang Arana dengan pias selama beberapa waktu lagi, sebelum beralih memandang tajam Erlan yang tidak mengubah ekspresi didepannya. Alva melangkah selangkah mendekati Erlan, dan memandangnya dengan amat dingin. Jika pandangan bisa membekukan, Erlan yakin bahwa ia akan membeku dibawah tatapannya.
"Jadi, ini yang akhirnya kau lakukan?" tanya Alva dengan dingin.
Erlan memiringkan kepalanya, dan menyunggingkan senyuman seakan tidak terjadi apa-apa. "Memangnya apa yang aku lakukan?"
Tidak ada jawaban dari Alva selama beberapa detik, sebelum tangannya dengan cepat meraih kerahnya dan menyeretnya dengan kasar. Alva lebih tinggi beberapa centimeter dari Erlan, dan secara alami Erlan sedikit mengangkat kepalanya untuk memandang Alva yang tidak bisa menyembunyikan kemarahannya yang kental.
Alva tidak peduli dengan kesialan yang dialaminya hari ini. Namun, Alva membenci apa yang dilihatnya kali ini.
"Al, hentikan!" sela Arana sembari mencoba menarik Alva. Sayangnya, Alva bahkan tidak bergerak seinci pun ketika dia sudah benar-benar marah.
Ia mengabaikan Arana dan berkata dengan tajam kepada Erlan. "Bagaimana kau bisa melakukan ini pada sahabatmu sendiri? Apa yang membuatmu begitu berani untuk diam-diam berhubungan dengan istriku dibelakangku? Sejak kapan, huh?!"
Alva tidak mampu melampiaskan amarahnya pada Arana, ia begitu mencintai gadis itu. Jadi, ia mengalihkan semua kemarahannya kepada Erlan yang menjadi salah satu pelaku yang membuat hatinya sakit. Bagaimana dia bisa menikungnya seperti ini? Dia adalah orang yang dia percaya, bagaimana dia bisa begitu kejam melakukan hal ini kepadanya ketika dia adalah salah satu orang yang tahu bahwa dia benar-benar bisa bahagia bersama dengan Arana?!
Mengapa?!
"Belum lama. Kamu saja yang tidak menyadarinya." Ungkap Erlan ringan.
Apa yang tidak disadari Alva adalah, bahwa tangan Erlan dibelakang tubuhnya mengacungkan ibu jarinya. Bersamaan dengan itu, disisi lain, Calvian tengah bersembunyi dibalik sebuah semak-semak, membawa sebuah senter yang berukuran besar.
"Erlan sudah memberi tandanya. Nyalakan, cepat nyalakan!" perintah Flora membuat Calvian berdecak dan menekan saklar senternya.
Dua detik kemudian, senter tidak menyala. Calvian dan Flora kebingungan, dan mencoba melakukan banyak cara untuk menyalakannya. Menepuknya berulang kali dan mengguncangnya.
Disana, Flora melihat kebingungan melintas diwajah Arana dan Erlan. Arana sudah tahu bahwa Erlan sudah memberikan tanda, namun mengapa nyala senter tidak berpendar. Erlan menelan ludah, dan keringat dingin mengalir ketika tatapan Alva sudah benar-benar berkabut dengan amarah. Ia hendak berbicara ketika Alva tiba-tiba mengangkat tangannya dan mengayunkan sebuah pukulan kesisi wajah Erlan.
"Erlan!" Arana tercengang, sementara Erlan yang linglung diatas rumput berkedip dengan samar.
Pukulan itu bersamaan dengan Calvian yang selesai membongkar senter. Ketika dia mendengar pekikan Flora, ia menyalakan kembali senter, dan cahaya yang begitu terang langsung terarahkan ke langit. Dan mengundang perhatian Alva.
__ADS_1
Begitu dia mendongak, dia tercengang.
[SELAMAT ULANG TAHUN, ALVA]
"Huh?"
Ketika cahaya itu menyala dan dibawah kebingungan Alva, suara nyanyian datang mendekat dari arah belakang. Arletta muncul dengan sebuah kue ulang tahun yang cukup besar ditangannya. Dibelakangnya, ada papanya, sepupunya, teman-teman dan juga orang-orang kepercayaannya. Ada Flora, Juan, dan bahkan pria yang menabrak mobilnya tadi pagi!
"Happy birthday to you~ Happy birthday to you~ Happy birthday, happy birthday, happy birthday Alva~"
"Apa .. apa yang terjadi?" beonya.
"Selamat ulang tahun, nak!" ucap Arletta disusul ucapan lainnya.
"Happy birthday, kak Alva."
"Happy birthday, son."
"Selamat ulang tahun. Berkat menguasaimu!"
"Selamat ulang tahun!"
Alva hampir tidak mendengarkan apapun. Dia dengan cepat berbalik dan menemukan Arana berdiri didepannya, dengan senyuman lembut memberikan sebuah bunga kepadanya. Buket bunga primrose itu indah dan menawan, dipegang oleh Arana yang sama menawannya membuat jantung Alva berdentum dengan keras.
Dibelakangnya, Erlan yang tengah berdiri didekat Angga mengusap pipinya dengan perlahan, berkata dengan perlahan untuk menjaga luka disudut bibirnya karena tinjuan dari Alva. "Boss, kamu memukulku terlalu keras. Sial, bibirku sakit sekali."
"Tentu saja sakit, bibirmu sobek." Ungkap Angga membuat Erlan melotot. "Sialan, rasanya sakit sekali!"
"Hehe, aku melihat Alva memukulmu dengan keras." Ucap Calvian membuat Erlan meraung dengan emosi.
"Sial, apa kau tidak melihat tanda yang kuberikan?! Kalian berdua melakukan kerjaan kecil seperti itu saja tidak becus!" Hardik Erlan karena kesal, hanya dirinya yang menjadi korban kemarahan Alva yang kejamnya tidak main-main itu.
Flora yang merasa bahwa dia juga disalahkan segera angkat bicara. "Senternya macet asal kamu tahu. Kami sudah berusaha agar senternya menyala."
"Benar," sahut Calvian.
"Banyak alasan sekali kalian! Kalian pasti senang melihat aku dipukul begitu oleh Alva!" sungut Erlan.
Alva memperhatikan perdebatan mereka, dan menoleh memandang Arana dan Arletta yang berdiri bersebelahan. Arletta menyunggingkan senyuman melihat kebingungan dimata putranya. "Kamu pasti kebingungan hari ini."
"Apakah ... ini rencana kalian?" tanya Alva.
Arana menggaruk pipinya. "Sebenarnya ..."
__ADS_1
...***...
Flashback
"Amber, I need your help! || Amber, aku butuh bantuanmu!"
[Hey Na! What do you need my help for? || Hei, Na! Butuh bantuanku untuk apa?] Amber bertanya diseberang sana, dan Arana segera melanjutkan. "Tomorrow is Alva's birthday, and I haven't even prepared any gifts yet. Amber, how is it? || Besok adalah hari ulang tahun Alva, dan aku bahkan belum menyiapkan hadiah apapun. Amber, bagaimana ini?"
Ada keheningan selama beberapa waktu, nampaknya Amber sedang berpikir. Namun kemudian, ia mendengar suara Arselyne diseberang sana. [You better make a surprise, Na || Lebih baik kamu membuat kejutan saja, Na.]
"Ly? Oh, you're with Amber? Wait, forget it. What do you mean by surprise? || Ly? Oh, kamu sedang bersama dengan Amber? Tunggu, lupakan. Apa maksudnya dengan membuat kejutan?"
[Remember the time it was your birthday and we ignored you? || Ingat saat hari ulangtahunmu dan kami mengabaikanmu?]
Arana mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Pada waktu ulang tahunnya yang keenam belas, selama seharian penuh, Amber dan Arselyne mengabaikannya, berpura-pura sibuk dan bahkan tidak mau dekat dengannya. Pada waktu itu, Arana awalnya merasakan sakit hati dan hampir menangis, namun tepat ditengah malam, keduanya segera mendatanginya dengan kue ulang tahun dan menyanyikannya lagu selamat ulang tahun yang membuat Arana tidak bisa menahan air mata terharu.
[Just do such a surprise. Try calling his friends and getting them to work on your plan. I guarantee that your husband will cry tears of joy at the end of your plan || Lakukan saja kejutan seperti itu. Coba hubungi teman-temannya dan ajak mereka bekerja sama dengan rencanamu. Aku menjamin bahwa suamimu akan menangis bahagia diakhir rencanamu.]
Mendengar usulan Arselyne, sepasang manik Arana berbinar. Ia dengan segera mengucapkan terimakasih kepada Arselyne dan Amber sebelum dengan cepat menghubungi Erlan dan memberitahu rencananya. Awalnya dia pikir Erlan tidak akan setuju, atau setidaknya ragu. Namun siapa sangka bahwa Erlan rupanya adalah yang paling bersemangat dengan usulan Arana dan segera menghubungi yang lainnya agar membantu.
[Aku akan menghubungi yang lain! Aku akan mengabarimu untuk rencana selanjutnya!]
Kata Erlan saat itu sebelum memutus panggilan teleponnya.
Beberapa jam kemudian, Aeana uduk berhadap-hadapan dengan Erlan. Memandang ragu mangkuk didepannya dan Flora yang ada disampingnya. "Kak Flo, benar-benar tidak apa melakukan ini?"
Flora dengan senyuman menganggukkan kepalanya. Ia menyeringai. "Tidak masalah, Na. Aku jamin rencana ini akan sangat menyenangkan. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah berpura-pura menyuapi Erlan dan pasang wajah paling bahagia kalian sementara aku akan memotret kalian."
Arana ragu, namun pada akhirnya dibawah desakan Flora, ia tetap melakukan apa yang diperintahkan gadis itu.
Angga yang duduk disebelah Calvian segera tertawa keras, "Haha! Lihat bagaimana dia berlari ketika dia melihat para waria itu!! Hahahaha!! Wajahnya benar-benar membuat perutku sakit!"
"Oh, lihat saja jika boss sampai tahu bahwa itu adalah idemu."
"Hahaha!!"
Flashback end
...***...
Disisi lain, Amber memandang Arselyne dengan kening berkerut. "Is it really okay to use that method on Alva? || Memangnya tidak masalah ya, menggunakan cara itu kepada Alva?"
Arselyne menyeringai. "No problem, no problem || Tidak masalah, tidak masalah."
__ADS_1
"Uh, I feel sorry for him || Eh, aku jadi kasihan dengannya." Gumam Amber.