My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 133: Make Me Yours, Al


__ADS_3

Note: [Akan ada adegan dewasa dalam bab ini. Meski tidak terlalu rinci, namun anak dibawah umur dimohon untuk lebih bijak dalam membaca bab ini. Okee?]


.


.


Setelah kembali dari pengadilan, Amber pergi bersama dengan Melody menuju rumah sakit untuk mengecek dan memeriksa keadaan Amber lebih jauh. Arselyne memutuskan untuk beristirahat di hotel sebelum kembali ke Belanda keesokan harinya. Didalam kamar hotel, Alva tiba-tiba berkata kepada Arana.


"Bagaimana jika kita sekalian berlibur disini, sayang?"


Ujaran Alva membuat Arana yang tengah menata selimut dan bantal menoleh dan menatapnya dengan bingung. "Berlibur? Apakah kamu akan baik-baik saja jika tidak keperusahaan? Maksudku kamu memang butuh liburan, namun ini agak mendadak karena memang diluar rencana, kan? Aku akan merasa bersalah pada Erlan jika kamu membuatnya bekerja keras karena kamu tidak ada diperusahaan, Al."


Alva tersenyum dan mengusap lembut surai Arana, "Jangan khawatir, sayang. Aku sudah mengatur semuanya."


"Sekarang yang kita butuhkan hanyalah waktu bersantai bersama. Mari melepaskan semua beban yang kita miliki untuk beberapa waktu dan bersenang-senang bersama. Ya?"


Arana diam selama dua detik sebelum dengan tenang menganggukkan kepalanya. "Iya, aku mau!"


"Kalau begitu, mari berkencan."


...***...


Arana melebarkan matanya dengan kagum ketika melihat pemandangan yang ada didepannya setelah selesai makan malam bersama Alva. Kota dimana dia dibesarkan, nampak begitu cantik dan menawan dimalam hari. Cahaya dari lampu-lampu yang berwarna-warni dan lalu lalang kendaraan yang nampak seperti ribuan kunang-kunang yang membentuk arus dapat Arana lihat dari balkon ruangan pribadi yang disewa Alva disebuah gedung tertinggi di Melbourne.


Arana termenung didekat kaca jendela dan mau tak mau berpikir, mengapa dia tidak pernah memperhatikan betapa megah dan menawannya kota dimana dia dibesarkan?


"Bagaimana sayang? Kamu suka?"

__ADS_1


Alva memeluk Arana dibelakangnya. Berbisik dengan suara lembut dan dalam yang membuat hati Arana tanpa sadar menghangat dan berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Pelukan erat dipinggangnya membuat Arana merasakan perasaan nyaman yang tidak pernah dia rasakan dari orang lain.


"Aku suka sekali, sayang," gumam Arana. "Terimakasih, Al."


"Kamu mungkin tidak menyadarinya, namun ... kamu telah begitu banyak melakukan banyak hal untukku. Terlalu banyak hal, Al." Suara Arana lembut, rendah namun penuh dengan ketulusan.


Alva memang sudah banyak melakukan kebaikan kepadanya. Memberinya banyak cinta, meski Alva menganggp Arana sebagai Alana, namun Arana masih bisa merasakan cinta yang begitu besar dari Alva. Dia merasa dicintai, dia merasa diinginkan, dan dia merasa dia hidup, dengan sebuah alasan yang penting. Alva yang melindunginya dan menjaganya.


Alva mendengarkan setiap kata Arana dengan senyuman lembut diwajahnya. Dia perlahan mengeratkan pelukannya pada Arana ketika dia menunduk dan mengendus aroma menenangkan dari tubuh sang istri. Istri tercintanya, Arana Canyelier.


"Aku mencintaimu, Na." Bisik Alva ditelinga Arana.


"Aku juga mencintaimu, Al." Arana hampir menahan tangisnya. Dia benar-benar mencintai Alva, mengapa dia harus bertemu dengan pria ini dengan cara yang begitu buruk? Mengapa bukan dia? Mengapa bukan dia yang dicintai Alva?


Alva dengan perlahan membalikkan tubuh Arana, menangkup pipi kanannya dengan tangan kirinya yang hangat. Kedua pasang mata itu saling bersitatap selama beberapa detik sebelum Alva bersuara dengan lembut, "Sayang ... bolehkah?"


Arana membeku dan masih belum bisa bereaksi ketika dia melihat Alva memejamkan matanya. Tidak merasakan penolakan dari Arana membuat Alva mulai menggerakkan bibirnya dengan gerakan yang lembut, hampir selembut sutra dan sehangat penghangat ruangan yang mampu melelehkan hati Arana. Tarikan lembut dipinggangnya mendekatkan Arana pada Alva. Tubuh keduanya menempel satu sama lain. Arana perlahan memejamkan matanya, dan membiarkan dirinya larut dalam arus yang telah terjadi.


Ia dengan hati-hati mulai membalas ciuman Alva meski dia masih kikuk. Arana tidak pernah berpengalaman dengan ciuman, dan ciuman dari Alva benar-benar membuat kepalanya pusing dan seolah ribuan kupu-kupu berterbangan diperutnya.


Ciuman itu berlalu sampai dua menit sebelum Alva menarik wajahnya dan membiarkan Arana terengah menarik napas.


Alva dengan penuh kasih sayang menyatukan dahi keduanya dan dengan lembut mengusap pipi Arana. "Kamu adalah hartaku yang paling berharga didunia ini, Na."


Keduanya saling menatap kembali. Entah ini karena efek wine yang diminumnya beberapa waktu lalu sebelum melihat jendela atau karena kekagumannya pada Alva, Arana merasa jantungnya berdetak lebih cepat dan kepalanya terasa sedikit lebih pusing. Arana dengan berani melangkah mendekati Alva dan kembali menciumnya. Alva terkejut selama sepersekian detik sebelum perlahan memejamkan mata dan kembali memnyambut pangutannya dengan Arana.


Kedua tangan kokohnya melingkari pinggang ramping Arana yang pada saat itu mengenakan kemeja putih dan rok selutut berwarna navy blue. Arana sendiri hampir merasa dia kehilangan kontrol akan dirinya sendiri ketika dia mengalungkan tangannya dileher Alva dan tenggelam kedalam ciuman yang memabukkan.

__ADS_1


Suasana semakin memanas, dan keduanya tahu itu. Namun baik Alva dan Arana, keduanya sama-sama tidak bisa menahan perasaan untuk saling memiliki dan saling ingin terhubung satu sama lain dalam hubungan yang lebih dalam.


"Mhh..."


Arana tidak bisa menahan suaranya dan sedikit terkejut ketika merasakan tangan hangat Alva perlahan merambat kepinggang dan perlahan turun hingga kepaha jenjangnya. Tangan Alva perlahan bergerak naik kedalam rok Arana, perlahan mengusap paha gadis kesayangannya ketika pangutan keduanya masih belum terlepas. Tangannya dengan perlahan menelusuri setiap lekuk tubuh Arana yang selalu menggoda dan menarik dimatanya.


Alva melepaskan cumbuan mereka dan perlahan mencium setiap sisi wajah Arana dan perlahan merambah turun keleher jenjang gadis itu. Arana perlahan menggigit bibirnya untuk menahan sensasi yang dia rasakan.


"Alva..." lirihnya.


Alva menarik Arana lebih dekat ketubuhnya sendiri dan Alva perlahan berbisik. "Sayang ... apakah boleh?"


Ingatan Arana melintas kembali kewaktu lampau. Alva pernah mengatakan bahwa pria itu hanya akan menyentuhnya jika Arana telah memberikan izin kepada Alva. Hati Arana dipenuhi oleh kehangatan, namun juga rasa sakit. Arana selalu memikirkan ini sejak lama, dan hari ini, keputusannya sudah bulat. Ia berjinjit dan menyatukan kembali bibirnya pada Alva yang menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Arana tidak ingin peduli pada siapapun dan apapun untuk saat ini. Dia hanya ingin Alva dan dia akan menjadi egois untuk pertama kalinya dalam hidupnya.


"Tolong miliki aku, Alva."


"Tolong miliki aku meski hanya untuk sesaat. Tolong miliki aku, dan biarkan aku bermimpi bahwa yang kamu cintai adalah aku, satu-satunya wanita yang ada dihadapanmu saat ini..." Batinnya.


Mendapatkan lampu hijau dari Arana, Alva dengan lembut menggendong Arana dilengannya dan membawanya ketempat tidur. Membaringkan Arana dengan lembut dan mengukungnya dibawahnya, Alva dengan lembut mengusap pipi Arana. "Kamu yakin, sayang? Jika kamu masih belum siap, aku tidak akan memaksa. Kita bisa menunggu sampai kamu siap."


Arana dengan lembut meraih tangan Alva dan menggeleng. Ia menarik tangan Alva dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang. "Mari buat little Alva, sayang."


Alva tidak bisa menahan kegembiraan diwajahnya ketika mendengar pernyataan Arana, Alva dengan lembut menurunkan wajahnya dan kembali mencumbu Arana, namun kali ini, Alva membiarkan gairah menguasai ciumannya. Suasana memanas, satu-satunya cahaya didalam ruangan itu dimatikan, dan penerangan hanya berasal dari cahaya bulan dan cahaya perkotaan yang memendar dari jendela yang terbuka.


Bunyi gerekan kain, suara kecipak basah dan erangan lembut perlahan terdengar memenuhi ruangan itu. Setiap sentuhan dari Alva membuat pikiran dan akal sehat Arana terasa terkikis dan semakin terkikis. Afeksi dan perhatian lembut Alva membuat tubuh Arana menghangat, begitupun dengan tubuhnya yang memanas. Setiap bisikan dan kata cinta yang disampaikan Alva disaat pria itu menggagahinya dengan begitu lembut membuat Arana melayang dalam lautan kebahagiaan yang tidak bisa terlukiskan oleh kata-kata.


"Bapa, izinkan Arana untuk merasakan cinta bahkan jika cinta ini adalah kesalahan.."

__ADS_1



__ADS_2