My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 96: Weakness


__ADS_3

Tubuh Alicia bergetar ketakutan ketika pria itu melangkah mendekatinya. Wajahnya memucat ketika tangan dingin pria itu menuyentuh pipinya, dan bergerak turun sebelum meremas rahangnya, memaksanya untuk menatap tepat kesepasang manik hitam sekelam malam yang membawa afeksi dingin dan berbahaya itu.


"Siapa pria tadi?" dinginnya bertanya.


Alicia tahu, dia bahkan tidak menanyakan alasannya meninggalkannya dan justru langsung bertanya tentang siapa yang bersamanya. Alicia memaksa menghindari sepasang manik itu dan memandang tangannya yang dingin dan gemetar ketika pria itu dengan suara dingin mengulangi apa yang dia tanyakan.


"Sayang, siapa pria tadi?"


Alicia menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan suara parau. "Aku tidak tahu."


"Alicia!" sentaknya. "Sayang ... jawab aku, siapa dia."


"Aku tidak tahu." Bulir air mata mengalir disepanjang pipinya ketika dia berkedip. Sentakan itu membuat hati kecilnya bergetar ketakutan, namun dia masih tidak ingin mengungkap siapa yang telah menolongnya. Karena Alicia hafal dengan tabiat pria didepannya. Jika Alicia memberitahunya, dia akan mengejar orang itu untuk membuat perhitungan.


Alicia tidak akan mau mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali.


"Kamu menolak untuk menjawab?" tanya pria itu sembari mengusap air mata dikedua pipi Alicia. "Baiklah, tidak masalah. Kita abaikan masalah ini, dan ayo pulang."


Pulang yang dimaksudnya adalah kembali ke apartemen mereka. Tubuh Alicia semakin bergetar dan dia mendorong pria didepannya. "Aku tidak mau! Aku tidak mau Hiro, aku tidak mau kembali ketempatmu. Aku ingin tinggal bersama dengan Alina dan yang lain!"


Wajah Hiro mendingin mendengar perkataan kekasihnya, namun ia masih menyunggingkan senyuman tenang dibibirnya. "Itu rumah kita, sayang. Kita adalah sepasang tunangan, dan apartemen itu sebentar lagi juga akan menjadi rumahmu, jadi kamu akan pulang denganku."


Alicia menggeleng, namun tindakannya membuat Hiro hilang kesabaran. "Pulang atau akan memberitahu nenek bahwa hari ini kau tidak menjagi gadis yang baik."


Tubuh Alicia menegang, dan sepasang maniknya mendadak kosong. Ia tanpa sadar masih meneteskan air mata, namun tidak ada ekspresi diwajahnya. Melihat reaksi kekasihnya seperti yang diharapkannya, Hiro tersenyum puas dan menarik tangannya.


"Ayo pulang, sayang."


...***...


Langit masih cerah ketika Arana tengah menyiapkan makan siang untuk Alva. Suara samar kendaraan dan lalu lintas terdengar tidak begitu jelas ditelinganya ketika pintu balkon terbuka. Arana memandang pemandangan dapur didepannya, menggunakan kedua tangannya untuk berkutata dengan bahan masakan yang sengaja ia persiapan sejak beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


Ada daging merah yang akan dia tumis dengan bawang bombai dan kentang. Kemudian ada udang asam manis dengan campuran asparagusa dan tomat dan daun parsley. Disampingnya, ada sawi putih yang dia masak dengan sedikit kuah dan ditemani tahu sutra yang lembut didalamnya. Arana menatanya dalam sebuah wadah kotak kayu dan menunggungnya agar tidak terlalu beruap sebelum menutupnya dan memasukkannya kedalam sebuah tas wadah makan setelah menumpuknya menjadi satu.


Menaruh mangkuk terakhir, Arana melangkahkan kakinya menuju balkon, membuka tirai balkon lebih lebar, dan menghirup udara segar diluar. Angin dengan lembut menyapanya, dan keringat yang ia hasilkan setelah memasak lambat laun mengering.


Arana memandang kebawah, dan tiba-tiba menyadari bahwa lantai apartemen itu berada dibagian tertinggi dan membuatnya sedikit pusing melihat kebawah.


Arana tidak takut ketinggian, namun melihat benda kecil yang berjalan dan berlalu dibawah sana membuat Arana sedikit pusing dan membuatnya melangkah kembali kebelakang dengan tenang.


"Lebih baik aku segera mengirim makanan ini. Sudah hampir waktunya makan siang." Gumamnya sembari mengangkat ponselnya.


Arana nampak mengotak-atik ponselnya sebelum dengan tenang menunggu seseorang. Sepuluh menit kemudian, bel apartemen berbunyi dan membuat Arana melangkah keluar membawa tas makan itu ditangan kanannya.


"Permisi, jasa antar Luia." Ketika Arana membuka pintu, itu adalah kata pertama yang diucapkan pria itu yang membuat Arana mengangguk dan mengangkat kotak makan ditangannya.


"Tolong antarkan makan siang ini ke Erlangga Corp. Serahkan kepada resepsionist dan katakan untuk memberikannya kepada Alva atas perintah Alana." Jelas Arana membuat sang kurir menganggukkan kepalanya dan mengulangi perkataan Arana agar tidak menyebabkan miss komunikasi.


"Baik, Erlangga Corp, bekal makan siang ditujukkan kepada tuan Alva dan dikirim oleh nona Alana." Ulangnya membuat Arana mengangguk dengan senyuman.


Ada pesan dari sahabat Alana, Liora.


[Ala, kami akan berkumpul malam ini. Kamu akan datang, kan?]


Saat ini Arana tengah menjadi Alana. Alana adalah sahabat mereka, dan Arana tidak bisa mengatakan tidak kepada mereka karena bisa mempengaruhi kepercayaan mereka pada identitas Arana, setidaknya itu adalah alasan yang paling baik dan masuk akal.


Arana memandangnya dan tidak bisa menahan untuk tidak menghela napas dan membalas. [Aku akan datang. Kirimkan alamatnya.]


Pada akhirnya Arana harus berangkat.


...***...


Pukul sepuluh malam, Alva kembali. Pria itu memandang Arana yang tengah melamun sembari memandang ponselnya. Astaga, apalagi yang membuat istrinya melamun seperti itu. Arana berkedip selama beberapa waktu, berbalik dan mendapati Alva sedikit membungkuk dibelakangnya dan memandangnya dengan senyuman teduh diwajahnya. Arana hampir menjerit karena terkejut.

__ADS_1


"Astaga, Al! Kamu membuatku terkejut." Ucapnya pada Alva yang tertawa pelan.


Pria itu mengulurkan tangannya untuk menarik hidung bengir Arana sembari berkata, "Kamu yang sejak tadi melamun sayabg, sehingga tidak tahu aku datang."


Arana mengangkat alisnya dan tersenyum malu. "Benarkah? Eh, maafkan aku kalau begitu. Liora dan yang lain mengajakku bertemu malam ini. Sudah cukup lama kami tidak bertemu, mungkin mereka memiliki berita terkini yang ingin disampaikan kepadaku. Kamu tahu juga kan, mereka adalah teman sempurna untuk bergosip."


Alva mengendus pipi Arana dengan hidungnya. "Oh, tapi aku tidak yakin istriku yang manis ini suka bergosip."


Daripada bergosip, Arana lebih senang mengatakannya sebagai berbicara tentang fenomena yang terjadi dilingkungan sekitar yang wajib diidentifikasi tentang kebenarannya dengan pengumpulan informasi dari sumber-sumber yang terpercaya.


"Aku memang tidak bergosip sayangku, aku mengumpulkan dan membagikan informasi menarik yang ada disekitarku kepada teman-temanku." Ungkap Arana mengundang tawa alva.


"Malah tertawa. Sudah, mandilah dan makan. Aku sudah menyiapkan air makan malam."


Alva mengangguk. "Oh iya, makan siang hari ini sangat lezat. Aku membaginya dengan Erlan, jadi terimakasih ya, sudah merepotkanmu."


Arana menggeleng. "Tidak merepotkan sama sekali, sayang. Aku justru senang bisa membuatkanmu makan siang. Kemudian, besok aku juga akan menyiapkan makan siang untukmu."


Alva tersenyum dan mencium pipinya. "Terima kasih, sayang."


...***...


"Anda ingin saya melakukan apa?"


Diruangan itu, seorang bartender berdiri dibalik meja sembari mengelap gelas kaca yang menjadi gelas biasanya ia membuat racikan minuman untuk pelanggannya. Maniknya berkerut ketika mendengar perkataan dari wanita didepannya. Menggunakan topi pantai lebar yang menutup wajahnya, masker, serta kacamata dan pakaian yang tertutup.


Dalam sekali pandangpun, ia nampak aneh.


"Lakukan apa yang aku suruh, dan 500 juta itu menjadi milikmu."


__ADS_1


__ADS_2