
"Sampanye?" alih-alih menanggapi pertanyaan Helli, Gavin justru menawarkan minuman.
Helli melirik sekilas ke atas nampan, pun ia menerbitkan seutas senyum di kedua sudut bibirnya. "Thank you, Mr. Pelayan." Helli mengambil jus. "Aku perlu menjaga kewarasanku malam ini," tukasnya dengan nada tenang yang dibuat-buat. Tidak ingin menunggu respon atau pun ocehan pria itu, Helli segera berbalik dengan anggun, memberi perintah dengan ekor matanya kepada Nicky agar mengikutinya.
"Hei, apa kau baru saja menyebutku pelayan?"
"Gav!"
Langkah Gavin yang hendak mengejar Helli terhenti mendengar suara cempreng yang sudah sudah akrab dengan gendang telinganya. Ia menoleh. Grace merentangkan kedua tangan dan melompat ke arahnya. Gavin refleks menjatuhkan nampan demi menangkap tubuh adiknya.
Prang!
Nampan beserta isinya berserakan di lantai. Helli dan Nicky yang belum jauh dari mereka sontak terkejut dan menoleh.
__ADS_1
"Ouch, sepertinya dia dalam masalah." Helli mengerang dengan wajah prihatin yang sengaja dibuat-buat. Ia senang jika Gavin tersandung masalah. "Apa dia baru saja menabrak si pengangguran kaya? Oh Tuhan, bagaimana ia akan mengganti pakaian super mahal yang dikenakan gadis itu."
"Pria yang malang," Nicky menimpali. "Jika pekerjaannya hanya sebagai pelayan, butuh waktu bertahun-tahun untuk menebus sebuah gaun yang dikenakan gadis itu." Keduanya memperhatikan sosok Gavin yang tiba-tiba berjongkok di hadapan Grace .
"Dia sedang bersimpuh untuk meminta maaf," Nicky mengerang dengan suara tertahan. Berbeda dengan Helli yang sengaja berpura-pura prihatin, Nicky sungguh kasihan pada Gavin. Pria itu mengeluarkan sapu tangan dan membersihkan kaki Grace yang terkena cipratan air minum.
"Semoga Grace tidak memaafkannya! Hais, aku malah melihat jika si pelayan itu sengaja melakukan hal itu agar bisa menyentuh kaki si nona muda. Dasar cabul! Ayo kita pergi." Helli kembali menarik Nicky agar menjauh dari sosok pria itu.
🥂
"Lupakan tentang kakiku yang basah dan lengket, berdirilah, Gav! Aku ingin memelukmu, aku merindukanmu. Kau tidak merindukanku?!"
Gavin terkekeh, sudah satu bulan ia memang tidak mengunjungi rumah orang tuanya. Ia sibuk mempersiapkan anggotanya untuk ikut balapan di sirkuit. Selain memantau anggotanya latihan, Gavin juga harus memastikan mobil yang mereka gunakan aman, nyaman dan bisa diandalkan.
__ADS_1
"Tentu saja aku merindukanmu." Gavin berdiri, memasukkan kembali sapu tangan ke balik jasnya. "Di mana Mom dan Dad?"
"Bersama Daddy Felix dan juga Stacy."
"Daddy Felix sudah datang?"
"Hmm," Grace mengangguk. "Aku bosan, temani aku jalan-jalan." Grace melingkarkan tangannya di lengan kekar saudaranya itu. "Aku mendengar Darren dan Vyn ada di sini. Aku ingin bertemu mereka."
"Jangan merayu teman-temanku, Grace."
Grace memukul lengan saudaranya sebagai bentuk protes. "Merayu? Siapa yang ingin kurayu? Darren? Si pria kaku yang sombong. Aku tidak tertarik. Ah, aku baru ingat, kau tahu aku bertemu dengan siapa di sini?!" Grace tiba-tiba memekik kegirangan mengingat tanda tangan yang ia dapatkan dari artis pujaannya. Helli Lepisto.
"Helli Lepisto, model yang penuh dengan skandal."
__ADS_1
"Bagaimana kau tahu? Kau juga bertemu dengan dia? Ah, aku iri dengan semua tonjolan yang ada di dalam dirinya. Semua pas pada porsinya masing-masing. Dia sangat seksii, bukan?"
"Hmm."