
"Apakah kau juga tidak tahu caranya tersenyum Addrian? Wajahmu tampak sangat kaku. Aku bertanya-tanya, apakah wajah dingin ini kau warisi karena terjangan masalah yang menimpamu atau memang raut itu kau warisi sejak lahir?"
"Apakah jika aku tersenyum, kau merasa terhibur?"
Pertanyaan pria itu membuat Helli tercenung. Kemudian ia pun menganggukkan kepala.
Helli menangis sambil tertawa saat melihat lengkungan di wajah Addrian. Senyum terburuk yang pernah Helli lihat tapi mampu memberinya sedikit hiburan.
"Sudah merasa lebih baik?" Addrian mengulurkan tangannya yang disambut Helli dengan segera.
"Berkat senyuman maut darimu."
"Bersihkan wajahmu," Addrian memberikan sapu tangan mahal miliknya. Helli menerima sapu tangan tersebut dan segera membersihkan wajahnya.
"Syuting yang harusnya berlangsung selama enam bulan. Berhasil diselesaikan dalam kurun waktu empat bulan. Kau aktris yang hebat."
Ya, Helli melakukannya agar hubungan palsunya dengan Gavin juga cepat berakhir. Ia sudah merencanakan hal itu jauh sebelum Mona datang. Dan saat Mona mengatakan hal tersebut, rasanya ternyata sangat sakit. Luar biasa sakit. Tanpa diminta wanita itu, ia juga akan melakukannya.
__ADS_1
"Masih ada beberapa scene lagi biar bisa dikatakan benar-benar selesai. Aku akan mencucinya sebelum mengembalikannya kepadamu." Helli mengangkat sapu tangan milik Addrian.
"Hadiahmu," Addrian tiba-tiba memberikan sebuah tote bag. "Ambillah." Addrian memaksa Helli menerima hadiah tersebut saat gadis itu masih bingung.
Mau tidak mau, Helli menerimanya. "Ponsel?" Ia mengernyit setelah melihat hadiah yang diberikan Addrian.
"Aku tidak pernah melihatmu memegang ponsel. Aku curiga kau tidak memilikinya."
"Aku memilikinya,."
"Itu karena aku lupa mengisi dayanya dan aku lupa menaruhnya di mana."
"Satu bulan lagi, kita akan mengadakan promosi. Aku sudah memasukkan nomor ponselku di sana. Pastikan kau menjawab panggilanku sampai hari itu tiba. Kau aktris utamanya, memiliki tanggung jawab untuk melakukan promo juga. Pemutaran perdananya juga akan dilakukan secepatnya."
"Terima kasih. Aku akan mengambilnya. Ini hadiah kedua yang kuterima dari orang lain."
"Apakah Gavin yang pertama?" Tebak Addrian tepat sasaran.
__ADS_1
"Ya." sahut Helli singkat. "Ayo kita selesaikan syuting ini dan mari berlibur!!" Ia tidak ingin membahas Gavin dengan siapa pun. Topik tentang pria itu harus ia hindari demi kewarasannya.
Helli benar-benar menyelesaikannya dengan sempurna. Syuting pun akhirnya selesai. Berakhir happy ending. Para kru saling berpelukan dan memberi selamat. Semuanya sudah bekerja keras. Mereka tinggal menunggu hasilnya dan berdoa bersama dengan harapan film ini akan sukses.
"Baiklah, tubuh, waktunya istirahat."
Helli baru saja keluar dari dalam toilet saat jam menunjukkan angka 12 malam. Hampir tiga jam ia berendam di sana. Helli mengunci kamar, jendela, seperti pesan yang diberikan Gavin kepadanya.
Besok, ia akan mulai mencari rumah baru. Mungkin Gavin dan Mona akan tinggal di sini setelah keduanya menikah. Sebelum Mona mengetahui ia tinggal di sini yang berujung dengan pengusiran, sebaiknya ia minggat sebelum hal itu terjadi.
Baru saja Helli hendak merebahkan tubuhnya, terdengar bunyi password rumah ditekan. Gavin. Helli segera berlari keluar dari kamar. Menuruni tangga dengan tergesa-gesa demi untuk melihat pria itu.
"Addrian?!" Helli terkejut melihat kehadiran pria itu ikut serta di sana.
"Hai," sapa pria itu santai.
"Oh, mi amor," Gavin berjalan sempoyongan menghampiri Helli. Pria itu hampir terhuyung jika Addrian tidak sigap menangkapnya.
__ADS_1