
"Dasar tunangan kurang mampu yang minus dalam segala hal! Keluar kau dari kamarku, Mesum!"
"Sayangnya ini kamarku."
Jawaban Gavin terang saja membuat Helli membeliak. Gadis itu spontan memendarkan pandangannya. Benar saja, ini kamar yang berbeda dari yang ia tempati sebelumnya.
"Aku berjalan lagi saat tertidur rupanya," ia bergumam lirih. Hal ini memang sering terjadi jika ia sedang dalam tekanan.
Gavin turun dari ranjang, berjalan ke arah kapstok untuk mengambil jubahnya. Lalu ia mendekati Helli, "Apakah sering terjadi?" Gavin membantu Helli berdiri sembari memasangkan jubah miliknya di tubuh Helli.
"Hanya jika aku sedikit tertekan." Jawabnya jujur.
"Pekerjaanmu membuatmu tertekan?" Gavin membantunya duduk di atas ranjang.
Helli mengangguk, "Kurasa begitu. Kau pasti terkejut?" Helli mendongak, menatap Gavin yang berdiri menjulang tinggi di hadapannya dengan tatapan penuh rasa bersalah. Seingatnya, ia selalu merepotkan pria itu dan Gavin selalu menolongnya dengan cara yang begitu baik, lembut dan penuh perhatian.
"Tentu saja aku terkejut." Gavin tidak menyangkal sama sekali. "Ada wanita cantik yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarku dengan penampilan yang sangat memukau. Kukira kau ingin mengajakku."
"Mengajak apa?" Helli memukul perut Gavin yang polos. Ya, Gavin hanya mengenakan celana sutra panjang, tidak mengenakan atasan sama sekali. Helli tersentak seakan tersengat aliran listrik tatkala tangannya menyentuh kulit Gavin.
__ADS_1
Gavin menahan tangan Helli, kemudian menggenggamnya. Pria itu bersimpuh di hadapan Helli. Tatapan keduanya saling bertaut, sejurus kemudian Gavin tersenyum lembut. Senyum menawan yang begitu membahayakan. Tidak baik untuk kesehatan jantung Helli yang sudah menyadari perasaannya terhadap pria di hadapannya itu.
"Jika kau ingin berbagi cerita, aku ada di sini untuk mendengarkanmu. Mungkin aku tidak bisa memberikan solusi, tapi aku bisa menjadi pendengar yang baik. Luapkan semuanya apa yang kau rasakan. Jangan menahannya sendiri."
Gavin membawa tangan Helli ke bibirnya, memberikan kecupan di sana. Lembut dan manis.
"Jangan pernah terjebak dalam lingkaran masa lalu yang menyakitkan. Masa depan gemilang, masih menantimu, Helli Lepisto."
Bolehkah Helli mengatakan jika ia terharu atas apa yang diucapkan Gavin. Sial, lidahnya mungkin tidak bisa berkata-kata tapi matanya sudah berlinang oleh air mata. Dalam satu kedipan, kristal bening itu runtuh membasahi wajahnya. Gavin hanya orang asing yang baru ia kenal. Tapi kenapa pria itu selalu tahu dan seakan bisa merasakan gundahnya?
"Gavin, aku mohon jangan terlalu peduli."
"Ini palsu. Pura-pura." Helli menekankan, menegaskan hubungan mereka, bukan agar Gavin menyadarinya tapi agar Helli bisa membentengi dirinya sendiri. Pesona Gavin terlalu berbahaya. Gadis rapuh sepertinya yang haus akan kasih sayang juga perhatian akan mudah goyah.
Jika kau katakan ini sungguhan, aku tidak akan menolak Gavin.
Deringan ponsel Gavin seolah menyadarkan Helli dari keinginannya yang mulai melenceng dari tujuan awalnya.
"Ponselmu." Lirih Helli sembari menarik tangan dari genggaman tangan Gavin dengan berat hati.
__ADS_1
Gavin berdiri untuk mengambil ponselnya. Dahinya mengernyit melihat nama yang tertera di sana. Pun ia menggulir tombol hijau dengan segera. "Ada apa? Kau baik-baik saja, Mona?"
Helli menoleh cepat, ia tersenyum getir di dalam hati.
Inilah kenyataannya, Helli. Ada wanita yang sudah lama bersemayam di hatinya. Wanita baik-baik dan terhormat. Gavin menginginkan wanita seperti itu. Helli menyerukan hal tersebut di dalam hatinya.
"Kenapa kau menangis? Hei, Mona, dengarkan, aku... Tidak, tidak, aku akan datang. Tetap di tempatmu. Iya, aku akan segera datang. Oke, aku tidak akan memutuskan sambungan teleponnya."
Gavin melintasi ruangan, melangkah lebar menuju ruangan lain yang menyatu dengan kamar. Tidak berapa lama, Gavin keluar dari ruangan tersebut sudah mengenakan pakaian rapi dan lengkap. Tanpa menoleh ke arah Helli, ia keluar dari kamar. Helli mengikuti pria itu. Helli memperhatikan dari lantai atas, Gavin berlari dengan tergesa-gesa. Terlihat sekali jika pria itu sedang khawatir kepada Mona. Ya, terang saja, Mona adalah wanita yang ia cintai.
Helli berbalik, melangkah gontai masuk ke dalam kamarnya. Ia memeluk tubuhnya, menatap jubah pria itu yang membalut tubuhnya. Hangat. Nyaman.
"Rasa ini salah," lirihnya.
"Baiklah, Helli, sekarang waktunya tidur kembali! Pastikan kamar terkunci dengan benar untuk melindungimu dari gangguan tidur."
Setelah memastikan pintunya terkunci dengan benar, Helli mengambil sesuatu di kopernya. Sebutir obat tidur. Pilihan terakhirnya untuk melupakan sejenak kegundahan di hatinya.
"Selamat pagi, dunia. Kuharap begitu aku bangun, semesta lebih bersahabat denganku," perlahan matanya tertutup rapat.
__ADS_1