My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Aku Tidak Bisa Tidur


__ADS_3

"Akhirnya dia bisa tidur," Grace berkata, memecah keheningan.


Dulce kembali tidur di sebelah Grace dan Damian membacakan dongeng La Belle Et La Bete (Ini ada novelnya, monggo mampir. Ceritanya oke, menurut penulisnya. Rizky Rahm). Empat kali, Damian mengulangi dongeng tersebut sebanyak empat kali hingga Dulce akhirnya terlelap.


"Dan kau sebaiknya juga tidur," Damian beranjak dari tempatnya menuju ke toilet. Pria itu melepaskan dasinya dan melemparnya begitu saja.


"Apakah semua laki-laki memang seperti itu?"


Damian menghentikan langkahnya, kembali berbalik menatap Grace. "Kau mengatakan sesuatu, Ms. Vasquez?"


"Kau melempar dasimu begitu saja. Tidak bisakah kau meletakkannya dengan rapi dan benar."


"Apakah dasiku mengganggumu?"


"Mengganggu penglihatanku."


"Kau hanya perlu mengalihkan tatapanmu dari dasiku, Ms. Vasquez." Damian melanjutkan langkahnya menuju ke toilet. Ia butuh mandi setelah kepenatan yang ia alami sepanjang hari. Damian juga tipe pria yang tidak bisa tidur sebelum mandi.


Setelah ia masuk ke dalam toilet, pintu ruangan diketuk. Grenda masuk membawa paper bag. Grace hanya menatapnya tanpa berniat untuk menyapa.


"Di mana kekasihku?" tanya wanita itu dengan memberi penekanan pada kata kekasih.


"Toilet," sahut Grace dengan ringkas.


"Oh." Grenda melintasi ruangan dan duduk di sofa. Meletakkan beberapa bingkisan yang ia bawa.


Grace mencium aroma makanan dan seketika perutnya merasa lapar dan sialnya cacing di perutnya juga bereaksi dengan cepat. Cacing-cacing nakal itu kompak mengeluarkan suara protes.


"Ouh, suara memalukan apa itu?" Jelas sekali jika Grenda sedang mengejeknya.


"Apanya yang memalukan? Cacing di perutku hanya bersikap jujur. Perutku lapar dan mereka menyuarakannya."


"Jawaban menggelikan apa itu?" Grenda mengangkat kaki, menyilangkan keduanya dengan sempurna.


"Kaki Helli masih lebih indah." Sempat-sempatnya ia membandingkan kaki wanita itu dengan kaki iparnya yang memang sangat indah dan jenjang. "Selama belum ada yang mengalahkan kaki Helli, aku belum layak untuk cemburu."


"Kenapa kau menggerutu? Apa kau sedang merutukku diam-diam?"


"Kenapa aku harus merutukmu dan kenapa aku harus melakukannya dengan diam-diam? Jika aku ingin merutukmu, aku akan melakukannya di depanmu agar kau bisa memperbaiki diri.


Grenda memutar bola matanya, malas menanggapi ucapan Grace yang menurutnya sok bijak. Wanita itu memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselnya.

__ADS_1


"Omong-omong apa yang kau bawa?"


"Makanan untuk Damian. Maaf, aku lupa jika kau ada di sini, jadi aku tidak membelinya." Grenda menyunggingkan senyum menyebalkan. Bagaimana Grenda tidak tahu Grace ada di sana sementara saat dilarikan ke rumah sakit, Grenda ikut serta mengantar. Dasar alasan! Wanita itu memang sengaja membuat agar Grace kesal.


"Kau tentunya tidak lupa jika Dulce ada di sini. Kau membeli untuknya?" Grace tidak bermaksud untuk menyerang Grenda. Grace berkata seperti itu agar ia bisa memakan jatah Dulce karena gadis itu juga sudah tidur.


"Dulce... hmm.."


"Kau tidak membelinya?" tebak Grace. "Jangan katakan kau lupa juga padanya? Astaga!"


"Dulce sudah tidur," Grenda beralasan.


"Dan kau tidak mengetahui hal itu sebelum kau melihatnya."


"Kenapa bicaramu banyak sekali!" ketus Grenda dengan mimik kesal.


"Itu karena aku memiliki mulut. Apa gunanya mulut jika tidak untuk berbicara."


Pintu kamar mandi dibuka, Damian keluar dengan hanya mengenakan celananya. Sebuah handuk menutupi bahunya dan tangannya sibuk mengeringkan rambutnya. Aroma sabun langsung memenuhi ruangan.


Grace harus menahan mulutnya untuk tidak mengeluarkan komentar berupa pujian tentang otot perut pria itu. Grace tidak munafik jika Damian adalah duda yang sangat mengagumkan. Dan ia berani bertaruh jika Damian Lawrence adalah duda terhot yang pernah ia lihat.


"Kau sudah datang?" Damian duduk di sebelah Grenda.


"Ya, selain membawa pakaian untukmu, aku membawa makanan." Grenda menatap penuh damba pada otot-otot pria itu tanpa merasa enggan. Ah! Bolehkah Grace merasa iri?


Oh Tuhan, kemesuman ayah dan saudaraku sepertinya menular kepadaku. Erangnya seraya meneguk salivanya saat tangan nakal Grenda mengusap otot lengan Damian dengan gerakan menggoda.


"Makanlah."


"Hmm," Damian bergumam. "Pulanglah."


Grace hampir saja tertawa saat melihat wajah merengut Grenda mendapat pengusiran dari pria yang ia sebut dengan kekasih.


"Aku akan menemanimu di sini menjaga Dulce."


"Tidak perlu. Tidak ada tempat untukmu tidur di sini. Datang lah besok hari."


"Tapi..."


"Aku sudah sangat lelah, Grenda. Aku tidak ingin berdebat."

__ADS_1


Mau tidak mau tahu Grenda beranjak dengan enggan. Grenda tahu jika Damian bukan pria yang mudah dibujuk dan Damian juga bukan pria yang suka dibantah. Jika ingin tetap bertahan di sisi Damian maka harus mendengar ucapan pria itu.


"Baiklah, aku pergi. Aku berharap Dulce cepat sembuh. Aku akan sudah berkonsultasi dengan dokter kecantikanku. Dia merekomendasikan kosmetik yang aman dipakai oleh gadis beranjak remaja seperti Dulce. Dulce sangat menyukai kosmetik, aku akan mengajaknya ke sana begitu dia sembuh."


"Kau pengertian sekali," Damian tersenyum tipis. Ia mengeluarkan sebuah t-shirt dari kantongan yang dibawa Grenda dan segera mengenakannya.


"Dulce adalah putrimu. Dia gadis yang sangat manis."


Astaga, Grace benar-benar ingin tertawa atas kepalsuan yang ditunjukkan Grenda dan di matanya Damian adalah pria bodoh yang mudah dikelabui. Ia semakin yakin jika kepergian ibu Dulce ada hubungannya dengan sikap Damian yang mudah dirayu oleh wanita.


"Hati-hati lah saat mengemudi." Damian berdiri dan menuntun Grenda keluar dari ruangan.


"Grenda juga membawa makanan," Grace menunjuk ke arah kantongan yang ada di atas meja.


Damian tidak menanggapi. Pria itu berjalan untuk mengambil paper bag tersebut dan membawanya ke ranjang.


"Aku tidak lapar," Damian meletakkan paper bag tersebut di atas pangkuan Grace.


"Aku sangat lapar dan aku akan sangat menikmatinya." Tanpa merasa sungkan dan malu, Grace membuka bungkusan tersebut. Ada ayam goreng, kentang, juga minuman. Grace melahapnya dengan cepat. Gadis itu bahkan mengeluarkan sendawa yang langsung mendapat tatapan aneh dari Damian.


"Maaf," Grace berseru malu.


"Mungkin alasan kau tidak bisa tidur karena kondisi perutmu yang kosong. Bersihkan mulutmu." Damian memberikan selembar tisu yang diterima Grace dengan segera.


"Mungkin kau benar. Perut kenyang hati pun senang," bisa-bisanya ia memberikan bekas tisunya kepada Damian. Pria itu menukik alisnya. Menatap tisu bekas tersebut dan akhirnya menerima sampah itu karena Grace tidak mengerti dengan sorot matanya yang melayangkan protes.


"Kalau hatimu sudah senang, kurasa matamu juga sudah bisa diajak kompromi. Tidurlah agar aku bisa tidur."


"Aku kegerahan."


"Ruang pendinginnya sudah menyala."


"Tetap saja aku kegerahan."


"Selamat malam, Ms. Vasquez. Pejamkan matamu dan bermimpilah."


Damian memutar tubuhnya, kembali ke sofa dan langsung berbaring di sana.


"Aku tidak bisa tidur!"


"Itu masalahmu. Jangan menggangguku."

__ADS_1


__ADS_2