My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Mau Bercerita?


__ADS_3

Grace hanya diam saat Oscar menarik tangannya meski tidak tahu kemana tujuan mereka. Samar-samar, Grace mencium aroma alkohol menguar dari dalam tubuh Oscar. Melihat penampilan Oscar yang cukup berantakan, sepertinya pria itu belum mandi sejak kemarin. Kondisi Oscar yang kacau mungkin menjadi penyebab ayah pria itu murka kepadanya. Itulah dugaan Grace.


Mereka sudah berada di dalam lift. Oscar masih memilih diam dan Grace juga tidak ingin mengusik pria itu. Entah sadar atau tidak, Oscar masih menggenggam tangannya. Perhatian Grace terpusat ke sana.


Terlihat sangat pas, bisiknya dalam hati.


Pintu lift terbuka, Grace tersentak saat Oscar menariknya. Ternyata Oscar membawa mereka ke atap gedung. Barulah Oscar melepaskan genggaman tangan mereka. Ah! Grace merasa ada yang hilang.


Oscar menyugar rambutnya dengan kasar, wajahnya masih terlihat marah sementara matanya menyiratkan kekosongan dan juga kesedihan. Untuk hal-hal tertentu, Grace sangat lah peka.


Oscar berteriak, meluapkan kemarahannya. Bahunya naik turun dengan napas tidak teratur.


Yang Grace lakukan hanya diam berdiri di belakang pria itu, menunggu sampai Oscar merasa tenang. Entah sudah berapa menit berlalu, Oscar terlihat mulai tenang. Perlahan, Grace melangkah mendekat. Ia mengambil kopi yang mulai dingin dari kantongan yang ia jinjing sejak tadi. Berdiri di samping Oscar lalu menyodorkan kopi tersebut.


"Sudah tidak panas lagi," ucapnya saat Oscar menoleh kepadanya lalu ke gelas plastik yang ia sodorkan.


"Tugas keduaku. Menyediakan kopi juga sarapan." Grace mengangkat kantongannya.


Oscar akhirnya menerbitkan senyumnya, tipis dan samar.


"Kau mengerjakan tugasmu dengan baik. Kebetulan aku belum sarapan." Oscar menerima kopi tersebut dan menarik tangan Grace ke tempat yang terlindung dari matahari. Ia juga melepaskan jasnya dan menggelarnya di lantai.


"Duduklah, anggap kita sedang piknik," kelakar Oscar.


Grace segera duduk di atas jas tersebut. Pun ia mengeluarkan satu persatu kotak bekal dari dalam kantongan.


Oscar memperhatikan dan langsung mengetahui jika makanan tersebut dibawa dari rumah.


"Kau yang memasaknya?"


"Maaf harus mengecewakanmu. Ibuku yang membuatnya," sahutnya dengan jujur. "Aku hanya bisa masak air dan mie instan. Aku belum memperdalam ilmu memasak. Jika aku belajar, aku pasti bisa."

__ADS_1


Oscar mengullum senyumnya. Sejauh dalam ingatannya, Grace tidak berubah sama sekali. Selalu apa adanya. Dari dulu, Grace memang tidak suka mengarang cerita untuk terlihat feminin, baik dan segala macam.


"Wanginya sangat enak," Oscar bergumam. Matanya masih memandangi bekal-bekal yang disusun sedemikian rupa dan indah. Siapa pun yang melihat hal itu, pasti tahu bahwa di sana ada cinta dan kasih sayang. Kapan terakhir kali Oscar dibuatkan bekal oleh ibunya? Oscar menarik napas panjang. Mengingat ibunya selalu membuat hatinya berdenyut nyeri.


"Pasti sangat enak," ia kembali bergumam.


"Mom memang sangat pintar memasak. Cobalah," Grace mengambil satu potong telur gulung dan refleks menyodorkannya ke arah mulut Oscar. "Eh!" spontan ia menarik tangannya kembali setelah menyadari tindakannya tersebut.


Oscar kembali tersenyum, ia menarik tangan Grace dan membuka mulut. "Makan dari tangan orang lain akan terasa sangat nikmat."


Grace terpaku, darahnya berdesir hebat. Oscar makan dari suapan yang ia berikan. Baginya ini suatu peningkatan luar biasa.


Ini pertanda baik! Grace bersorak dalam hati.


"Hmm, ini memang sangat enak sekali." Oscar tidak hanya sekedar memuji. Makanannya memang sangat enak. Pun pria itu mengambil alih sumpit dari tangan Grace dan mulai menikmati makanannya. Kapan ia terakhir kali menikmati masakan rumah? Satu tahun lalu, saat ibunya masih hidup dan saat ia masih bersama dengan Sierra. Sierra wanita yang cukup pintar memasak.


"Jika enak, habiskanlah. Besok aku akan membawanya kembali. Katakan saja kau ingin makan apa."


"Tidak, aku tidak akan melakukan apa pun. Aku tinggal mengatakannya kepada ibuku. Dia akan dengan sangat senang hati memasak untuk kami."


"Hm, aku akan memakan apa pun yang kau bawa."


Grace mengangguk senang. Jika Oscar suka masakan ibunya, maka ia akan menarik perhatian Oscar dengan masakan ibunya. Ia juga akan mulai belajar memasak mulai besok. Melihat Oscar yang lahap saat menikmati makanan yang ia bawa, ia yakin jika Oscar sangat menyukai masakan rumahan. Ia harus membuat Oscar menoleh dan terpikat padanya!


"Baiklah, serahkan urusan perutmu pada sekretarismu ini."


"Gavin tidak melarangmu bekerja denganku?" pertanyaan yang ingin ia lontarkan sejak ia melihat Grace di kantornya.


"Awalnya dia melarang," akunya seadanya.


Oscar sudah bisa menebak. Ia dan Oscar tidak bisa dikatakan teman, tapi tidak bisa dikatakan musuh juga. Keduanya adalah rival, bersaing secara sehat dalam urusan apa pun sejak mereka sekolah.

__ADS_1


Sejujurnya, Oscar sangat ingin berteman dengan Gavin. Ia sangat menyukai keluarga Vasquez. Kehangatannya, keharmonisannya dan sikap serta cara Glend Vasquez melindungi anak-anaknya.


Gavin pria yang sangat nakal pada masa pertumbuhannya. Tidak jarang berurusan dengan pihak yang berwajib. Tapi Glend Vasquez selalu dalam garda terdepan membela dan melindungi putranya. Memaklumi jika pemuda dalam masa pertumbuhan selalu membuat ulah. Itulah yang membuat Oscar kagum dan juga iri.


Kapan ayahnya, Jimmy Lawrence membelanya. Kapan pria tua itu peduli dengannya? Satu-satunya yang dipedulikan Jimmy saat Oscar berbuat ulah saat dimana menurutnya Oscar bisa merusak nama baiknya. Ck! Oscar tidak percaya apakah ayahnya masih mempunyai nama baik. Oscar sudah kehilangan rasa hormat pada ayahnya sejak ia melihat Jimmy bercinta dengan salah satu pelayan mereka di rumah. Yang dilakukan ibunya saat itu hanya diam. Lalu masuk ke dalam kamar. Oscar sangat yakin bahwa yang dilakukan ibunya hari itu adalah menangis sepanjang malam. Karena begitu keesokan paginya, ia menemukan mata ibunya sembab. Namun yang membuatnya semakin marah, ibunya masih bersikap layaknya istri yang baik. Menyediakan sarapan, melayani kebutuhan ayahnya.


Oscar masih belum mempunyai kekuatan saat itu untuk melindungi ibunya. Ia masih berusia 18 tahun kala itu. Yang ia perbuat saat itu hanya melakukan pemberontakan. Pada akhirnya, hingga ibunya meninggal, Oscar tidak bisa melakukan apa-apa. Inilah yang membuatnya marah. Marah kepada dirinya dan juga pada ayahnya.


"Lalu kau memaksa?" tebak Oscar. Para pria Vasquez sangat memanjakan wanita mereka. Pun Gavin sangat menyayangi adiknya.


"Ya, bisa dikatakan begitu." Grace mengulurkan air putih setelah Oscar menelan kunyahan terakhir di mulutnya.


"Kenapa perusahaanku?"


"Karena kau ada di sini." Astaga! Kepolosan macam apa ini.


Oscar sedikit terkejut atas jawaban spontanitas tersebut. Namun, detik selanjutnya ia tergelak. Tangannya terulur mengacak rambut sekretarisnya itu.


"Kau pasti terkejut melihat hal seperti tadi."


"Ya, sedikit."


"Kutebak, kau tidak pernah melihat hal seperti itu."


Grace terdiam, prihatin melihat wajah Oscar yang muram. Ayah dan saudaranya memang tidak pernah beradu mulut seperti yang terjadi diantara Oscar dan ayahnya.


"Sesekali ayahku dan Gavin berdebat."


"Pasti yang mereka debatkan hanya perkara saham. Berbeda dengan apa yang kau lihat tadi," Oscar menarik napas dengan panjang. Ia memandang ke depan dengan tatapan kosong. Grace semakin iba melihatnya.


"Mau bercerita? Aku akan hanya akan mendengarkan."

__ADS_1


__ADS_2