
"Kuperhatikan kau lebih sering pulang, sudah insyaf jadi playboy internasional?"
Gavin hanya bisa menarik napas panjang mendengar sindiran manis adiknya itu. Bukan hanya Addrian dan Rusell yang membuatnya emosi, bahkan adiknya yang manis memiliki keahlian lebih hebat mengobrak abrik suasana hatinya dibanding dua makhluk bernama Addrian dan Rusell. Haruskah ia mencekik Grace sebelum ia mencekik Helli?
Dengan langkah gontai, ia mendekati adiknya yang duduk di sofa yang sedang menikmati drama telenovela lengkap dengan beberapa cemilan yang berserakan di atas meja juga sofa yang gadis itu duduki.
Gavin bertanya-tanya, adakah kelak pria yang biasa menerima semua keunikan, kemanjaan, juga kejorokan adiknya ini kelak. Dia sebagai pria yang sudah memiliki jam terbang yang tidak diragukan dengan wanita. Jika dia bukan saudara kembar Grace, mungkin dia akan dengan kejam mengatakan bahwa Grace bukan tipe wanita yang mudah membuat kadar testosteron pria melonjak. Dulu, seingatnya, Grace gadis paling manis setelah ibunya. Ya, manusia bisa berubah seiring berjalannya waktu. Gavin melihat hal itu pada diri adiknya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Alih-alih mencekik leher adiknya, Gavin justru mengacaknya dengan lembut. Grace menepis tangannya dengan kesal.
"Apa kau buta?!"
"Oh Tuhan, mulutmu manis sekali." Gavin menyunggingkan senyum terbaiknya yang tidak memberi efek baik pada Grace. Satu-satunya wanita di dunia itu yang tidak akan luluh dengan senyumannya.
Lihatlah, Grace justru memicingkan mata, menatapnya penuh curiga. Ini lah yang dikataan ikatan batin antar saudara kembar. Gavin memang membutuhkan bantuannya.
Egonya yang tinggi melarang nalurinya untuk menghubungi Rusell meski ia yakin pria itu tahu dimana keberadaan Helli. Ia berharap adiknya sedikit bermurah hati agar mau menghubungi Helli dan menanyakan kabar gadis itu. Tentunya ia juga berdoa, Helli mau menjawab panggilan Grace.
"Senyummu mengandung siasat yang mencurigakan. Aku tidak mau!"
Tahan Gavin, gadis labil ini memang sedikit sulit dibujuk. Tetaplah bersikap manis. Gavin memberi peringatan kepada dirinya sendiri.
"Kau belum mendengar permohonanku, kau sudah menolak. Kudengar Oscar datang saat pertandinganmu. Kau mengundangnya?"
"Kau melihat bukan mendengar," Grace masih dengan sikapnya yang acuh tidak acuh. "Dan aku tidak mengundangnya."
"Apa kau tahu jika Oscar datang menemuiku untuk kerja sama?"
Gavin benci harus melakukan ini, tapi ia tidak memiliki cara paling ampuh untuk membujuk adiknya selain menyebut nama Oscar.
Oscar adalah teman mereka saat menimba ilmu di perguruan tinggi. Teman hanya sebatas kenal. Karena faktanya, Gavin dan Oscar tidak pernah akur. Keduanya sama-sama penakluk wanita yang memiliki pengagum masing-masing. Dan sialnya, Grace salah satu pengagum pria itu.
Berhasil, Grace menoleh ke arahnya, memperbaiki posisi duduk hingga bersila, berhadapan dengan Gavin.
"Oh ya? Kudengar, dia memang sedang mengembangkan perusahaannya. Terima saja. Dia pria yang kompeten."
Gavin menahan diri agar tidak menoyor kepala adiknya. Sebuah kerja sama tidak bisa diterima begiti saja hanya karena alasan saling mengenal. Gavin perlu mempelajari kerja sama yang ditawarkan. Jika prospeknya bagus, ia akan mempertimbangkan hal itu.
"Aku sedang mempelajari kontraknya. Dia bertanya tentangmu, mengatakan jika kau sangat hebat saat di pertandingan." Gavin memohon ampun kepada Tuhan karena sudah membuat adiknya merona dengan kebohongan yang ia ciptakan. Oscar tidak bertanya tentang Grace sama sekali. Dan Gavin bersyukur akan hal itu.
"Dia mengatakan seperti itu?" manik adiknya berbinar-binar. Gavin hampir saja mendengus.
"Ya. Kami berbincang banyak hal. Aku akan mencoba mengingatnya. Oh, dia juga memberikan selamat untukmu. Omong-omong, adikku sayang, dimana ponselmu?"
__ADS_1
"Astaga, kukira dia tidak menyadari kemenanganku. Apa lagi yang dia katakan? Oh, ponselku, kau menginginkan ponselku?" Grace mencari ponselnya yang entah tercecer di mana. Kelakuan yang hampir sama dengan Helli. Hanya saja Helli lebih parah. Gadis itu bisa seharian tidak menggunakan ponsel dan tidak memiliki sosial media apa pun.
"Oh, aku menemukannya," Grace memberikan ponselnya kepada Gavin. Pria itu menerimanya dengan semangat dan langsung mencari nama Helli.
"Oscar terlihat oke sekarang, apa kau setuju denganku, Gavin."
"Ya. Aku tidak menemukan nama Helli di kontakmu."
"Mi Amor."
Ah, Gavin melupakan itu. Mi Amor adalah julukan Grace pada gadis itu. Jemari Gavin menari-nari di atas layar. Pun ia menekan tombol hijau begitu ia menemukan kontak Helli.
"Apa lagi yang kalian bicarakan, Gavin."
"Oh, Tuhan, berdering... Jantungku mulai tidak aman."
"Apa yang kau lakukan di ponselku?"
"Menghubungi Helli.... Ya, ampun," Gavin menutup mulutnya begitu tersambung. Ia langsung menyalakan speaker dan menempelkan ponsel di telinga Grace. Memberi perintah tanpa suara kepada adiknya itu agar berbicara.
"Ya, Grace..."
Grace langsung menjauhkan telinganya. Kenapa pula Gavin menyalakan speaker dan menempelkan ponsel tersebut ke telinganya. Dasar bodoh.
Berhubung yang terdengar adalah suara Helli, Grace mengurungkan niat untuk mengutuk saudaranya, Gavin.
Setelah satu minggu sejak terakhir kali Grace menghubunginya, Helli akhirnya kembali menerima panggilan dari Grace. Bukan karena ia marah pada gadis itu. Tapi kondisinya yang memang sedang tidak bersemangat. Badannya lemas, seolah tulangnya remuk semua. Yang ia inginkan hanya berbaring di atas ranjang.
Terima kasih lagi kepada Rusell yang sangat pengertian. Kini Helli sudah tinggal di rumah pilihan Rusell. Helli menyukainya. Pria itu selalu menjenguknya jika sempat dan akan menghubunginya jika tidak bisa datang. Rusell juga menunda semua pekerjaan yang berhubungan dengan Helli, tidak berniat mengganti model lain untuk memasarkan produknya. Terbersit rasa bersalah di hati Helli sebab sengaja atau tidak, Helli merasa jika kandasnya hubungan Rusell dan Mona adalah karena dirinya.
Andai ia tidak mengadu pada Gavin tentang perselingkuhan Rusell dengan sekretarisnya, bisa saja Mona tidak mengakhiri pertunangan mereka.
Lalu, apa yang Helli dapatkan? Gavin masih miliknya, masih tunangannya meski pura-pura.
Pertanyaannya, apakah benar penyesalannya itu lantaran merasa bersalah pada Rusell, atau justru karena kejadian itu, hubungannya dengan Gavin semakin menjauh.
Helli merasa malu menyadari jika penyesalan yang ia rasakan lebih kepada tindakannya yang terlalu buru-buru.
Harusnya ia memanfaatkan momen kebersamaannya merebut hati Gavin, bukan mendorong pria itu mengejar cinta masa kecilnya.
"Helli... Kau mendengarku?"
"Ah, ya... Aku mendengarmu, Grace. Kau mengatakan apa tadi?"
__ADS_1
"Kau mengatakan bahwa kau mendengarku," Grace menggerutu.
Helli tergelak, "Maaf," ucapnya tidak benar-benar menyesal. Tingkah Grace selalu membuatnya terhibur.
"Suaramu masih lemas, lemah, lunglai tidak bertenaga. Apa kau masih sakit? Astaga, kau ini benar-benar..."
"Aku sudah membaik. Sungguh. Hanya saja, badanku sedikit mengalami masalah. Aku hanya butuh suplemen."
"Aku akan mengantarnya, kirimkan lokasimu."
Sementara Gavin komat kamit memberi perintah tanpa suara. Grace mengernyit, menatapnya dengan aneh.
"Terima kasih, Grace. Rusell sudah membelikan banyak vitamin juga suplemen. Jika obat pemberiannya sudah habis dan masih tidak membuat tubuhku lebih baik, aku akan menghubungimu."
Terdengar krasak krusuk dari seberang telepon. Pertengkaran yang berupa bisikan tidak jelas.
"Grace..."
"Gavin bodoh! Kenapa kau komat kamit, moncongmu macam ikan koki kelaparan, mangap-mangap tidak jelas. Berbicaralah yang jelas. Helli bisa mendengarmu. Astaga...Gavin... Lepaskan..."
"Sepertinya kau sangat menikmati waktumu bersama Rusell, Helli. Baguslah jika dia merawatmu dengan baik. Kekhawatiranku hanya sia-sia."
"Kau khawatir padaku?"
"Kau pikir?"
Hening. Yang terdengar hanya hembusan napas keduanya.
"Argh! Sial..." tiba-tiba Gavin meringis. Grace menggigit tangannya yang membungkam mulut adiknya itu.
"Kau baik-baik saja?"
"Grace mengigit tanganku dan aku merindukanmu, demi Tuhan, Helli."
"Oh, kau sedang berbicara dengan seseorang. Aku tunggu di ruang tamu. Cepatlah sebelum makanannya dingin."
Kepala otak Gavin kembali mendidih mendengar suara Rusell. Artinya pria itu bebas keluar masuk ke dalam rumah Helli di mana pun gadis itu berada.
"Sepertinya kau sangat sibuk. Kututup panggilannya." Tut! Gavin hampir saja melempar ponsel milik Grace jika gadis itu tidak dengan segera merebutnya.
"Tanyakan pada Helli di mana alamatnya!"
"Aku tidak mau!"
__ADS_1
"Haiss...!"
Gavin segera pergi meninggalkan adiknya. Ia butuh air dingin.