
Tok. Tok.
Sejak lima belas menit yang lalu Gavin mengetuk pintu kamar Helli. Tidak ada sahutan atau apa pun.
"Helli, kau belum bangun atau kau malu keluar karena kejadian tadi malam? Ayolah, tidak usah malu. Mungkin ke depannya akan banyak kejadian memalukan lainnya mengingat kita harus tinggal bersama dalam waktu yang tidak ditentukan."
Ampun, terkadang Gavin berbicara tanpa difilter sama sekali. Ucapannya memang benar, tapi penyampaiannya yang enteng bisa membuat siapa saja yang mendengarnya tersulut emosi.
"Helli, hello, Helli. Kau mendengarku?"
Tetap saja tidak ada sahutan dari dalam kamar. Gavin merasa ada yang tidak beres. Ia segera melarikan kakinya ke lantai bawah untuk mengambil kunci cadangan. Setelah ia berlari naik turun tangga, ia ingat jika hanya dia yang tahu password setiap pintu di rumah ini. Kenapa ia selalu hilang kendali jika berhubungan dengan Helli. Keningnya sudah penuh dengan keringat saat ia mulai menekan angka demi angka. Lalu tiba-tiba pintu di tarik dari dalam.
"Apa ada kebakaran, Gavin? Kau berisik sekali?" Helli bertanya dengan wajah lugu. Kedua tangannya mengucek matanya dengan cara yang begitu menggemaskan. Helli mengenakan piyama berwarna pink cerah bermotif kelinci. Gavin menurunkan tatapannya. Kaki itu tidak beralas.
Hais, kuku kakinya menggemaskan!
"Ada apa?" Suara Helli serak dan seksiih.
"Sial!" Gavin menunduk melihat sesuatu pada dirinya yang bereaksi di luar kendalinya.
"Hmm?" Igaunya yang terdengar seperti erangan.
Betul-betul setan betina licik!
Ingin rasanya Gavin menyiramkan air dingin ke wajah Helli yang membuatnya panik sesaat yang kemudian berubah menjadi gairah.
"Ya, gunung Etna meledak dan kita hanya punya waktu satu detik untuk melarikan diri." Gavin menggeram dan segera berbalik menuruni tangga menuju dapur.
Helli mengikutinya, duduk manis di dapur berusaha mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.
"Kau tidak bekerja hari ini?" Gavin bertanya tanpa menoleh. Ia sibuk mengocok telur untuk sarapan pagi mereka. Hanya itu yang bisa ia masak. Ia tidak pernah memasak sebelumnya dan ia memang tidak ingin direpotkan dengan hal itu. Lalu apa yang ia lakukan sekarang?
"Adrian mengatakan aku bisa istirahat selama akhir pekan."
"Adrian atasan yang baik dan pengertian." Ia menimpali tanpa menoleh. Fokusnya masih pada pekerjaannya.
"Hm, kupikir dia pria yang dingin. Apakah dia kaya?"
__ADS_1
"Lumayan."
"Dia mempunyai banyak kenalan?"
"Lumayan."
"Lumayan dalam versimu seperti apa? Hm, maaf, bukan bermaksud untuk menghinamu, kaya dalam versiku memiliki harta berlimpah yang tidak manusiawi. Kaya dalam versimu mungkin cukup hanya dengan seseorang memiliki pesawat pribadi."
Gavin berdecak, setiap Helli membicarakan harta, hasrat ingin mencekik gadis itu benar-benar sangat menggebu.
"Setahuku, Adrian pewaris tunggal. Ia memilki beberapa pulau pribadi,-"
"Wow! Lalu, apa lagi yang ia miliki?"
"Ck! kau menyela ucapanku, Helli."
"Apakah dia memiliki kekasih?"
"Sepertinya tidak. Seleranya sangat tinggi tentang wanita. Kurasa wanita sepertimu akan membuatnya sedikit luluh."
Wajah Helli bersemu merah. Bukankah secara tidak langsung Gavin sedang memujinya. Pria itu baru saja mengatakan jika Helli wanita berkelas.
"Kau selera para pria normal, Helli." Suara wajan berbunyi saat Gavin memasukkan telur ke dalamnya. Pria itu memasukkan sedikit garam dan gula.
"Aku seleramu?"
Gavin menoleh ke arahnya. Pria itu terkejut melihat ekspresi Helli yang menunggu jawabannya dengan mimik harap-harap cemas.
"Ah, asal wanita adalah seleramu, bukan?" Helli menundukkan kepala, menghindari tatapan Gavin yang seolah bisa membaca perasaannya.
"Itu artinya aku masih normal. Bisa kau bayangkan jika aku tidak selera pada wanita. Bisa-bisa kita bersaing menarik perhatian Adrian."
"Euuy, kau menjijikkan. Menurutmu jika aku merayu Adrian, dia akan menerimaku?"
Gavin menoleh, manik mereka beradu dan setan betina itu justru mengedip-ngedipkan matanya dengan cara yang begitu menggemaskan.
"Aku cukup menarik, bukan?"
__ADS_1
"Kau sangat menarik, Helli. Kau ingin merayu Adrian karena menyukainya atau karena ada alasan lain?"
"Karena dia kaya! Kurasa menjadi kekasihnya tidak terlalu buruk. Adrian cukup tampan. Dia juga sangat tinggi. Kurasa dia lebih tinggi darimu."
"Tinggi pria adalah hal yang sensitif, Helli." Gavin berdecak malas. Mendengar Helli memuji pria lain membuat telinganya berdenging tidak suka.
Helli tertawa renyah, bahagia karena sudah berhasil membuat Gavin tersinggung.
"Ini fakta, Buddy. Adrian memang setinggi itu. Tipikal pria yang sangat nyaman untuk dipeluk. Sepertinya aku harus menguji peruntunganku."
"Tidak ada pria lain selama kita bertunangan. Aku tidak ingin mendengar ada berita yang menyebutmu tidak puas dengan satu pria. Liar atau apa lah istilah lainnya."
Helli tersenyum, dalam hati, ia kembali dibuat terenyuh oleh perhatian Gavin yang memikirkan nama baiknya.
"Kau memasak apa?"
"Telur. Aku akan membentuknya seperti yang dilakukan adikku. Kau harus menghabiskannya. Ini sedikit berantakan, tapi kau harus menghabiskannya. Adrian tidak bisa memasak. Kau hanya akan kelaparan bersamanya."
Helli kembali tertawa, apakah Gavin sedang cemburu. Helli menggeleng, itu hal yang tidak mungkin. Mona. Mona. Mona. Nama itu menari-nari di pikiran Helli, cukup ampuh untuk membuatnya sadar dari pikiran konyolnya.
"Aku akan menghabiskannya sampai tidak bersisa. Apakah kau selalu bersikap manis seperti ini kepada setiap wanita?"
"Manis?"
"Ya, memasak untuk para wanita yang kau kencani?"
"Tidak pernah. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa prinsipku, kita berpisah saat fajar menjelang. Lagi pula mereka tidak pernah kubawa ke rumahku."
"Bagaimana dengan Mona?"
"Dia bahkan tidak mengetahui tentang rumah ini. Ah, untung saja kau mengingatkan, kita akan makan siang dengannya nanti."
"Bersama tunangannya?"
"Ya."
"Wah, hatimu pasti bergejolak. Kau yakin bisa bersikap tenang?" Helli sengaja menggoda Gavin, wajah pria itu berubah masam.
__ADS_1
"Untuk itulah kau ada di sana untuk mengingatkanku, Helli. Rusel, pria keparat itu berselingkuh di belakang Mona. Apa menurutmu aku bisa bersikap ramah?"
Helli mengembuskan napas. Jika tunangan Mona berselingkuh, bukankah kesempatan bagi Gavin lebih terbuka luas. Mendadak Helli merasa menjadi orang paling serakah karena tidak ingin Gavin dimiliki oleh siapa pun.