My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Grace, Wanita Terlambat Dewasa


__ADS_3

"Akhirnya kita bisa pulang!!" Grace dan Dulce berseru kegirangan. Keduanya melompat-lompat kegirangan. Damian yang sedang menyusun barang-barang mereka hanya menatap keduanya tanpa minat. Bagaimana bisa wanita dewasa terlihat seperti gadis belasan tahun. Bukan tipenya sama sekali.


Di balik sikap kekanakan Grace yang kurang ia sukai, Damian harus mengakui bahwa Grace gadis yang jujur dan tulus. Putrinya bukan tipikal anak yang bisa dekat dan akrab dengan sembarang orang. Selama ini, tidak satu pun dari teman wanitanya yang berhasil merebut perhatian putrinya. Damian bukan pria yang percaya akan cinta lagi tapi menyadari kebutuhannya, ia membutuhkan seorang wanita. Bukan hanya untuk melayani hasratnya sebagai pria normal, tetap juga mengisi kekosongan di hati putrinya. Ia sangat menyadari bahwa Dulce sangat membutuhkan sosok tersebut. Sebesar apa pun cinta dan kasih sayangnya kepada putrinya, tetap saja tidak akan mampu memenuhi atau pun melengkapi harapan dan ingin putrinya.


Dan sejauh ini, dia belum menemukan wanita yang pas untuk itu. Pas di ranjangnya belum tentu pas di hati putrinya. Dan memilih wanita yang akan melengkapi keluarga mereka, kriterianya bukan hanya hebat di atas ranjang karena ini bukan hanya tentang ranjang.


Berbicara soal wanita, Damian bukan pria yang akan menjalin hubungan dengan beberapa gadis dalam satu waktu. Tapi Damian orang yang sangat mudah memutuskan hubungan. Secuil saja kecacatan yang terlihat, ia tidak akan sungkan untuk mengakhiri hubungan meski saat itu keduanya tengah di atas ranjang. Ia tidak perlu repot-repot memikirkan timing, tidak ingin juga dipusingkan dengan perasaan lembut seorang wanita yang begitu mudah mengeluarkan tangisan. Disaat ia akan mengakhirinya, ia hanya perlu berkata 'selesai' maka semuanya benar-benar tamat.


Damian tidak menganggap perbuatannya itu kejam karena saat menjalin hubungan, ia tidak memberikan kerugian pada wanita itu dan ia membiarkan para wanita mengambil keuntungan darinya. Damian bukan tidak memiliki perasaan, menganggap rupanya yang aduhai dan hartanya kekayaannya melimpah sudah cukup membungkam mulut busuk para wanita. Karena faktanya, semua yang ada pada dirinya tidak lantas membuat istrinya bertahan di sisinya. Istrinya justru berkhianat, berselingkuh di belakangnya. Pengkhianatan yang dilakukan mantan istrinya juga bukan alasan kenapa ia begitu mudah mengakhiri hubungan yang terkesan sedang mempermainkan. Seperti yang sudah ia katakan, ini bukan hanya tentang dirinya dan ranjang.


Ia memiliki kriteria wanita tertentu. Tentunya kriteria itu menyangkut selera, gairah dan hasrat. Di samping kriteria yang ia tetapkan, ia juga memikirkan Dulce di dalamnya. Beberapa tambahan kriteria yang berhubungan dengan putrinya. Kedua kriteria itu harus seimbang. Dan sejauh ini, tidak satu pun dari teman wanitanya yang menarik minat anak gadisnya itu. Kriteria konyol yang diberikan putrinya kepada para wanita yang menurut Dulce layak berdiri di sisi ayahnya adalah wanita yang tidak lain merupakan model cantik yang posternya dipajang di balik pintu kamarnya. Helli Lepisto.


Awalnya, Damian tidak tahu siapa itu Helli Lepisto sehingga putrinya yang kreatif secara sukarela membeli poster Helli dan meminta pelayan menempelnya di pintu kamarnya. Alasannya agar Dulce tidak lelah menjelaskan setiap kali ayahnya bertanya siapa itu Helli Lepisto.


Damian pernah berniat ingin melepas poster tersebut dan berakhir dengan perdebatan kecil antara dirinya dan Dulce. Ancaman andalan Dulce adalah mogok makan. Terpaksa Damian kembali memasang poster model wanita itu kembali meski sangat aneh rasanya menemukan foto wanita tidak dikenal dengan ukuran besar di dalam kamarnya. Alhasil, ia selalu memadamkan lampu setiap ia hendak tidur. Meski ia mengakui jika Helli memang wanita yang sangat cantik tapi tetap saja merasa tidak nyaman dengan keberadaan foto tersebut di sana, hanya saja lebih tidak nyaman rasanya jika putri semata wayangnya mendiamkan dirinya dan mogok makan..


"Wajah kita juga sudah tidak gatal," Dulce berseru.


"Ya, ini kabar baik lainnya."


"Aku tidak ingin wajah kita terus seperti ini tapi aku juga tidak ingin ruamnya cepat menghilang."


Tawa di wajah Grace lenyap seketika. Kali ini ia tidak sejalan dengan gadis manis itu. Grace justru menginginkan ruam di wajahnya cepat sembuh agar ia bisa cepat bekerja dan bertemu dengan Oscar sang pujaan hati untuk melanjutkan misinya. Oscar harus menoleh kepadanya!


"Mengapa begitu?" Grace menyuarakan kebingungannya.


"Agar aku tidak perlu cepat-cepat pergi ke sekolah," aku gadis itu dengan jujur.


"Pie, Dad mendengar apa yang kau katakan," Damian berseru tanpa menghentikan kegiatannya menyusun barang-barang milik Grace. Ya, bukan hanya barang putrinya yang ia kemas. Tapi barang wanita dewasa yang lupa akan usianya.


"Sekolah tidak menyenangkan, Dad!"


"Lebih tidak menyenangkan jika kau tumbuh menjadi gadis yang bodoh."


Grace mengernyitkan keningnya, entah kenapa ia merasa jika pernyataan itu seolah ditujukan kepadanya. Dugaannya itu bukan tanpa alasan, karena saat Damian mengatakan hal tersebut, tatapan pria itu tertuju kepadanya bersamaan dengan pria itu memasukkan dompetnya ke dalam tas dengan sedikit kasar. Tas dan ponselnya kembali kepadanya, Damian meminta sopir untuk membawa barangnya.


"Aku juga tidak akan pintar jika dengan bersekolah di sana."


"Jangan membantah, Pie!"


Dulce mengembuskan napas panjang. Tidak ada gunanya berdebat dengan ayahnya karena ayahnya tidak tidak tahu apa yang dialaminya. Dulce tidak berniat untuk memberitahu ayahnya. Baginya itu perkara memalukan.


"Hei, Pie," Grace menyentil hidung gadis itu. "Apa yang dikatakan ayahmu memang benar, tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang gadis manis yang bodoh tapi kau akan berjalan penuh percaya diri jika memiliki pengetahuan." Grace menunduk, lalu mendekatkan mulut ke telinga gadis itu. "Masalah teman-temanmu, mereka tidak akan berani mengganggumu lagi, aku berani bertaruh. Bukan kita sudah mengelabui mereka. Aku akan bersamamu jika mereka berani mengusikmu lagi, aku janji."


Damian kembali memperhatikan interaksi keduanya. Bertanya-tanya apa yang sedang dibisikkan Grace hingga kepala putrinya itu mengangguk-angguk dengan manik berbinar. Damian bertekad dalam benaknya bahwa kali ini ia akan menegur Grace jika merasuki putrinya untuk melakukan sesuatu yang konyol. Cukup sudah Grace membuat masalah.

__ADS_1


"Janji tidak boleh diingkari," Dulce memberikan jari kelingking yang langsung disambut oleh Grace.


Pintu ruangan dibuka, seorang perawat datang membawa resep obat dan di belakang perawat itu ada Gavin dan Helli.


"Helli!!" Grace dan Dulce bersorak kompak dan berlari menghampiri Helli. Mengabaikan perawat yang memang langsung menemui Damian.


Saat sudah sampai di hadapan Helli, Grace menahan tangan Dulce dan menyorot gadis itu dengan tatapan penuh peringatan.


"Ingat perjanjiannya?"


Untuk sesaat, Dulce terlihat bingung, tapi kemudian ia mengangguk dengan wajah pasrah.


"Ah, aku tidak boleh berebut denganmu jika berhubungan dengan Helli. Kau harus kunomorsatukan dibanding Helli," ucap gadis manis itu dengan terpaksa.


"Good! Aku memang tidak salah menilaimu. Kau gadis manis yang sangat pintar." Grace mengacak rambut gadis itu dengan gemas.


Gavin yang mendengar hal itu mendengus. Bisa-bisanya adiknya itu memberi ultimatum pada gadis kecil yang lugu dan polos. Gavin mengerti perasaan Dulce. Sebelum Dulce mendapat tekanan tersebut, dirinya adalah korban pertama keserakahan adiknya tersebut. Memonopoli Helli untuk dirinya sendiri. Gavin hanya bisa mengelus daada dan mengucap syukur bahwa kembarannya terlahir sebagai wanita. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika kembarannya adalah seorang pria. Sangat tidak lucu jika mereka memperebutkan satu wanita.


"Oh, Helli, kau pasti sangat merindukanku, 'kan?" Grace langsung menjatuhkan diri ke dalam pelukan Helli. Dulce yang melihat hal itu hanya bisa menatap dengan iri dan menunggu giliran dengan sabar untuk mendapat pelukan dari wanita pujaan mereka. Sementara Gavin kembali mendengus melihat ulah dan pertanyaan menggelikan adiknya.


"Tidak ada yang lebih dirindukan istriku selain sentuhanku, Gre."


Celetukan Gavin diabaikan Grace begitu saja. Bukan karena ia tidak mendengarnya tapi ia memang sengaja mendadak tuli. Meladeni Gavin sama saja memberi peluang untuk mereka menjadi bahan tontonan bagi Damian yang selalu melayangkan tatapan aneh padanya seolah dia adalah wanita menggelikan. Ya, walau ia akui, ia memang sedikit menggelikan.


"Tidurmu pasti tidak nyaman karena tidak ada aku," Grace mengurai pelukan mereka. Keduanya saling melemparkan senyum masing-masing.


Grace menoleh cepat dengan wajah kesal dan mata mendelik tajam. Gavin terkikik dengan ekspresi tersebut. Inilah yang ia inginkan. Grace kalah dan merasa kesal.


"Kenapa kau harus membawa suami menyebalkanmu ini kemari, Helli?"


Gavin semakin tertawa geli. "Kau mungkin sangat mencintai istriku, tapi kau lupa istriku lebih mencintaiku lebih dari siapa pun dan kau tidak bisa mendikte istriku seperti yang kau lakukan pada gadis manis ini."


Hidung Grace kembang kempis dan siap meluapkan kemarahan. Tapi ucapan Helli berhasil menghentikannya. Helli bukan hanya menjadi pawang bagi suaminya tetapi juga pada adik iparnya.


"Aku sangat merindukanmu, rumah terasa berbeda saat kau tidak ada di sana," Helli mengusap lengan Grace dengan lembut. "Untuk itulah aku memaksa Gavin mengantarku kemari begitu aku bangun. Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu dan aku senang kau bisa cepat pulang. Aku membeli beberapa cat kuku. Kita akan menghabiskan akhir pekan dengan mewarnai kuku-kuku kita."


"Apakah aku boleh ikut bergabung?"


Grace dan Helli kompak menunduk dan menemukan wajah Dulce yang menatap mereka dengan penuh harap.


"Tentu saja kau boleh ikut jika ayahmu mengijinkan, Pie."


"Wah, ini pasti sangat menyenangkan. Dad, apakah aku boleh menghabiskan waktu akhir pekan bersama Grace?" Dulce dengan segera meminta izin kepada ayahnya.


"Kau boleh melakukan apa pun asal kau bersekolah dengan baik."

__ADS_1


"Aku akan bersekolah dengan baik dan tidak akan membolos lagi!"


"Oke," sahut Damian ringkas. Pria itu mendekati mereka dengan menenteng dua tas. Tas milik putrinya dan juga milik Grace.


"Obatmu," Damian memberikan obat yang diberikan perawat tadi. "Ada keterangannya di sana."


Grace menganggukkan kepala.


"Perawat mengatakan agar kau menelannya dengan benar dan menghabiskannya."


Grace kembali mengangguk. Ia masih ingat kejadian kemarin saat dia dan Dulce harus meminum obat beberapa butir pil.


Ia dan Dulce memiliki kesamaan yang buruk. Mereka berdua tidak bisa menelan obatnya dengan benar. Terpaksa Damian meminta perawat untuk membawa alat yang bisa menghaluskan butir-butir pil tersebut. Ia tidak meminta perawat melakukannya, tapi ia lah yang melakukannya. Grace memberi nilai plus pada Damian karena melakukan semua yang terbaik untuk putrinya. Jadi, setiap hendak meminum obat, Damian menghaluskan obat keduanya terlebih dahulu. Damian benar-benar seperti seorang ayah yang memiliki dua putri.


"Aku akan meminta seseorang menghaluskannya terlebih dahulu."


"Ya, kau tidak mungkin memintaku datang secara khusus untuk menghaluskan obat tersebut."


"Jika aku meminta, apa kau akan datang?" Grace langsung menyesali ucapannya tersebut.


"Tidak," sahut Damian telak.


Grace mencibik. Ia tahu Damian akan menolak. Grace akui bahwa Damian memang pria yang penuh perhatian terhadap putrinya, tetapi Damian juga bukan pria yang ramah.


"Tasmu," kali ini Damian memberikan tas gadis itu.


Alih-alih langsung menerima tas miliknya, Grace justru bertanya, "Dompetku?"


"Sudah di dalam."


"Ponselku?"


"Sudah."


"Hmm, apa lagi?"


"Tidak ada apa-apa selain dompet, ponsel dan tisu serta beberapa kertas struk belanja." Damian menjelaskan dan percayalah, pria itu sedang mengumpat dalam hati. Ia tidak mengharapkan bahwa Grace akan berterima kasih kepadanya tetapi ia lebih tidak mengharapkan Grace memperlakukannya seperti asisten. Tadinya ia akan menggunakan istilah pelayan, tapi ia khawatir tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata sengit pada gadis yang terlambat dewasa itu.


"Bagus. Kau melakukannya dengan benar. Terima kasih. Harusnya kau tidak usah melakukannya. Aku bisa melakukannya sendiri."


"Aku meragu," sinis pria itu.


Membuang selembar tisu saja ia masih membutuhkan bantuan seseorang, batin Damian yang masih menyimpan kejengkelan mengingat perkara tisu.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Katakan sampai jumpa pada teman barumu, Pie. Kita sudah harus pergi." Damian mengabaikan pertanyaan Grace yang meminta penjelasan.


__ADS_2