My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Simbiosis Mutualisme


__ADS_3

"Tidak seru jika tidak mengejutkan."


"Dan kau ingin kami mengetahui masalah yang terjadi denganmu melalui pers?" Hardik Bella tidak suka.


"Dan berbicara tentang kegilaan pers," Gianetta, asisten pribadi Gavin angkat bicara. "Mereka sudah menelepon sejak pagi tentang..." Gia berdehem, melirik ke arah Bella. Wanita itu tidak tahu bahwa kekacauan yang ditimbulkan putra sulungnya itu sesungguhnya sangat banyak. Kebetulan hanya berita yang berkaitan dengan Helli yang mencuat ke media. Karena biasanya, Gia bisa menanganinya dengan membungkam pers. Lagi pula, ini pertama kalinya Gavin tersandung kasus dengan seorang aktris. Tidak mudah menanganinya karena Helli Lepisto aktris yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan. "Apakah kau ingin aku mengatakan sesuatu pada mereka?"


"Ya," Gavin mengangguk mantap. "Katakan pada mereka untuk mengurus diri mereka sendiri." Ucapnya enteng sebelum mengalihkan tatapannya kembali kepada sang ibu. "Jangan membuat hal ini mengganggu pikiranmu karena aku tidak terganggu."


"Bagaimana tidak terganggu. Ini terlalu mendadak. Tiga hari yang lalu, aku bertemu dengan gadis itu. Dia menatap ayahmu dengan tatapan memuja dan sekarang, tiba-tiba kau menjadi tunangannya, bagaimana bisa?"

__ADS_1


"Apa kau sedang cemburu, Mom?" Gavin tersenyum simpul.


"No! Gadis itu mengingatkanku pada Stacy."


Glend tersenyum bangga, diusapnya rambut Bella dengan penuh sayang. Ia tahu arti dari pernyataan istrinya itu. Bella-nya yang selalu peka.


"Gaviiiinnnn." Grace berlari menuruni tangga. "Oh, Gavin, aku iri padamu. Kenapa kau yang terlahir sebagai pria kenapa bukan aku. Katakan padaku, bagaimana bisa Helli Lepisto bersedia bertunangan denganmu? Hais, seleranya rendah sekali. Ajak aku makan malam denganmu? Aku ingin memandanginya secara langsung. Satu foto, tidak masalah. Oh, Gavin, aku bahagia untukmu dan aku merasa miris untuknya."


Jika tanggapan keluarganya seperti ini, sungguh Gavin penasaran bagaimana Helli si aktris penuh skandal itu menangani berita ini. Astaga, Gavin masih tidak percaya jika si nona skandal itu menciptakan suatu kebohongan yang menyeret dirinya. Ck! Ini salah si lembayung ungu. Ia terlalu menganggap remeh wanita itu. Berniat memerasnya? Yang benar saja! Gavin adalah pria kaya yang sangat penuh perhitungan jika tidak ingin dikatakan pelit. Setiap sen yang keluar dari kantongnya, harus memiliki tujuan yang jelas. Itulah kenapa ia tidak ingin membuang-buang uang secara percuma untuk seorang jaalang selama ada banyak wanita yang datang secara cuma-cuma kepadanya. Hei, bukan Gavin yang memohon. Ia hanya mengambil sedikit keuntungan dengan cara bersenang-senang dengan para wanita yang putus asa karena terlalu tergila-gila pada paras dan keahliannya memperlakukan wanita. Ia tahu cara membuat wanita terbuai. Melambung tinggi dan ia juga ahli dalam hal meremukkan hati.

__ADS_1


"Tidak sekarang, adik manis. Akan banyak drama setelah ini."


"Pelit sekali kau ini! Katakan padaku, apa saja yang sudah kau dan dia lakukan? Oh Tuhan, kau menciumnya dengan penuh hasrat? Katakan padaku seperti apa rasa bibirnya?"


"Eewww... kau seperti wanita yang mengalami penyimpangan. Kemari lah, kuberitahu satu rahasia yang membuatmu penasaran," Gavin memeluk adiknya, "Bibirnya manis dan wangi," Gavin berbisik di telinga Grace.


"Ah, Helliku yang malang!" Grace mendorong wajah Gavin dengan kasar. Menatap saudaranya dengan jijik. "Harusnya dia berhak mendapatkan pria yang lebih menawan dibandingkan dengan dirimu yang selalu penuh dengan oli! Kau membuat kelasnya terlihat rendah!"


"Dia senang bertunangan denganku," Gavin terkikik geli. Ia menantikan Helli datang menemuinya untuk memohon agar drama ini berlanjut. Hm, ia harus memikirkan cara agar drama ini juga menguntungkan untuknya. Ayolah, ia tidak semurah hati itu hanya membiarkan Helli yang mendapat keuntungan dari berita ini. Kedua belah pihak harus sama-sama untung, bukan? Simbiosis mutualisme.

__ADS_1


__ADS_2