My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Kelinci Pengacau


__ADS_3

"Ya, ya, aku menginginkannya. Aku akan mengambil bukuku, tunggu sebentar," dengan antusias gadis itu beranjak untuk mengambil tas sekolahnya. Baru dua langkah, ucapan Grace mengharuskan gadis itu berhenti.


"Eitss, kau tidak bisa mendapatkan tanda tangan jika ayahmu belum memaafkanku, adik kecil."


Wajah antusias yang tadi terpatri di wajah polos gadis itu berubah menjadi sebuah kernyitan bingung mendekati kecewa.


"Sepertinya dia benar-benar menyukaimu, Helli. Tapi itu memang sesuatu yang wajar. Kau memang dewi!"


Berlebihan, Helli menganggap jika ucapan Grace mengandung hiperbola yang begitu sangat manis. Helli tersipu mendengar pujian tersebut. Hanya saja yang menjadi beban pikirannya, bagaimana bisa anak sekecil yang ada di hadapan mereka menyukai Helli. Apa yang dilihat gadis kecil itu padanya? Apa gadis itu tidak tahu dengan skandal yang dialaminya.


"Tolong jangan memberinya cuma-cuma."


"Hah?" Helli tidak menangkap maksud dari ucapan teman barunya itu. Ya, firasatnya mengatakan mereka akan berteman setelah ini dan Helli tidak keberatan untuk itu. Selama ini, hanya Nicky sahabat yang ia miliki.


"Maksudku jangan memberi tanda tanganmu cuma-cuma. Kau harus menyelamatkanku, please... Aku mempunyai firasat jika pria itu bukan pria yang mudah ditangani."


"Jadi apa yang harus kulakukan? Aku tidak tega menolak seorang anak kecil."

__ADS_1


"Kau tidak akan menolaknya. Aku hanya akan melakukan negosiasi."


"Baiklah."


"Kau dengar adik kecil, sahabatku ini tidak akan memberikan tanda tangannya secara cuma-cuma sebelum ayahmu memaafkanku dan berjanji tidak akan melayangkan tuntutan. Benar begitu, Helli?"


Helli menganggukkan kepala, "Ya, benar," ucapnya meski tak tega melihat seraut kebingungan di wajah polos gadis itu.


"Ciih! Negosiasi?" Sindiran sinis itu berasal dari pria bersuara berat yang mengalami benjol di kepala. "Usia memang tidak menentukan kedewasaan," sarkas pria itu.


Helli dan Grace menoleh dengan manik melotot dan keduanya kompak meringis begitu menemukan manik biru yang begitu tajam, menatap tanpa ampun.


"Aku rasa ini yang disebut dengan faktor usia. Orang semakin tua akan semakin mudah marah dan tersinggung."


Ucapan Helli sontak saja mendapat pelototan sinis dari pria si pemilik manik indah yang aduhai itu. Ya, tidak dipungkiri, manik pria itu sangat indah dan menenggelamkan.


"Cara menatapnya tidak sesuai dengan pria yang memajang postermu di kamarnya," Grace kembali berbisik. "Astaga, kenapa dia harus memajang fotomu di kamarnya, jika dia memiliki seorang putri tentunya dia juga memiliki seorang istri. Aku benar, tidak?"

__ADS_1


"Aku bisa mendengar apa yang sedang kalian katakan. Apakah ini tata krama yang kalian miliki saat sedang meminta maaf. Sungguh sangat disayangkan."


Helli dan Grace saling menoleh, kemudian kembali serempak menelan saliva. Bukan hanya tatapan pria itu yang tajam, tapi juga setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.


"Dad, sebaiknya kau memaafkannya. Ini kecelakaan."


Ternyata tatapan tajam menghunus itu bukan hanya dilayangkan kepada Helli dan Grace. Kali ini, adik kecil itu lah yang mendapat giliran.


"Bukan tipikal ayah yang baik. Kau melihat dia juga melotot kepada putrinya? Hei, Bung! Kau membuat putrimu ketakutan!" Ucap Grace setengah menghardik.


Pria itu lagi dan lagi menoleh kepada mereka. "Bisakah kalian angkat kaki dari sini. Kalian terlihat seperti sekumpulan kelinci pengacau. Sangat memuakkan."


Ck! Gavin mendengus. Ia kena getahnya.


"Maaf, Mr. Lawrence, apakah saya termasuk dalam sekumpulan kelinci pengacau yang kau maksud?"


Astaga, apakah itu penting sekarang? Bagi Gavin, tentu saja ini penting.

__ADS_1


"Jika kau berkenan mengusir para kelinci betina itu, mungkin kau tidak termasuk di dalamnya."


__ADS_2