
"Gaviiiinnnn..." Seorang wanita cantik berlari menghampiri mereka. Wanita itu segera menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Gavin. "Ah, aku merindukanmu."
Helli yang berada di sana, menyaksikan hal itu dalam diam. Mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Siapa wanita itu? Kenapa mereka harus menjemput wanita itu kemari? Dan apa ini ada hubunganya dengan tugas pertama yang dimaksud pria itu? Hais, Gavin terlalu banyak membual tapi lupa mengatakan dengan jelas, tugas seperti apa yang harus ia lakukan?
"Kau merindukanku?" wanita itu mengurai pelukan mereka. Mata keduanya beradu dengan senyum yang tersungging di kedua sudut bibir mereka.
Helli masih memperhatikan. Fokusnya adalah tatapan Gavin yang lembut mendayu. Tatapan memuja, merindu, yang tersirat dengan sangat jelas. Tidak perlu menjadi pintar untuk mengetahui jika Gavin memiliki rasa kepada wanita itu. Ya, Helli bisa melihat cinta di manik pria itu. Tatapan nakal dan jahil yang biasa Gavin perlihatkan, untuk saat ini tidak terlihat sama sekali.
"Tentu saja. Merindukanmu hingga hampir membuatku gila."
Ternyata bukan hanya tatapannya yang berbeda. Suaranya juga sangat halus, hangat dan menenangkan. Helli benar-benar melihat sosok Gavin yang berbeda.
Tangan pria itu terulur menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik nan mulus wanita itu.
"Bagaimana perjalananmu? Kau pasti sangat lelah."
Uwuu... Perhatian, sangat penuh perhatian. Helli masih memantau setiap gerak gerik keduanya sebelum ia sampai pada kesimpulan siapa wanita itu dan apa hubungan keduanya.
Wanita itu mengangguk. "Ya, tapi lelahnya hilang begitu aku bertemu denganmu."
__ADS_1
"Ehm," Helli berdehem, sengaja memberi kode kepada tunangan palsunya bahwa ia masih berada di sana. Hei, ia diabaikan sejak sepuluh menit yang lalu dalam kebingungan.
Gavin dan wanita itu menoleh. Helli menyengir sembari melambaikan tangan.
"Ah, Mona, ini Helli, tunanganku."
Wanita bernama Mona itu terpekik kaget. Wanita itu menatap Helli dan Gavin silih berganti.
"Tunangan?" wanita yang disebut Mona itu memastikan dengan suara yang sedikit melengking.
"Ya." Gavin menjawab singkat.
"Kau sibuk mengurus pernikahanmu. Aku tidak ingin mengganggumu. Sebelumnya kau juga tidak mengatakan bahwa kau memiliki seorang kekasih dan tiba-tiba akan menikah."
Helli kembali diabaikan. Kedua manusia itu larut dalam pembicaraan. Helli masih meraba-raba, tepatnya seperti apa hubungan kedua insan yang mengabaikannya itu.
"Apa kau sedang balas dendam padaku, Gav?"
Gavin terkekeh sembari mengusap lembut kepala wanita itu. "Tidak, aku hanya tidak ingin mencuri waktumu dengan berita tidak penting dariku. Jadi kapan calon suamimu akan datang? Aku penasaran dengannya?"
__ADS_1
"Ia akan menyusulku..."
"Ehm," Helli kembali berdehem, menghentikan kalimat yang hendak meluncur dari mulut Mona.
"Tenggorokanku mendadak kering," Helli bergumam pelan saat menemukan tatapan tidak suka dari Gavin.
"Monalisa Hilton." Mona mengulurkan tangan yang langsung disambut Helli dengan segera.
"Helli Lepisto."
Mona mengangguk, "Senang bertemu denganmu, Helli. Ah, aku baru menyadarinya. Bukankah kau seorang model?"
Helli hanya menganggukkan kepala. Ia cukup terkenal rupanya. Ya, tidak banyak model yang memiliki wajah juga tubuh ramping sepertinya. Helli cukup percaya diri dengan tampilan fisiknya.
"Astaga. Bagaimana bisa kau meyakinkan Gavin untuk berkomitmen, Helli. Kau tahu, dulu Gavin sangat anti dengan komitmen. Dia adalah pria paling berbahaya di London. Kau pasti sangat spesial untuknya." Mona melirik Gavin penuh arti. Pria itu hanya tersenyum salah tingkah.
"Wah, aku baru tahu predikatnya." Meskipun sebelumnya Helli sudah merasakan langsung betapa berbahayanya pria itu. "Kau sepertinya sangat mengenalnya."
"Kami sudah menjadi sahabat sejak kami masih kecil."
__ADS_1
Ah, jadi tunangan palsuku ini terjebak dalam situasi rumit. Jatuh cinta pada sahabat sendiri, heh?