
"Eum, Gavin, apa kau yakin kita akan makan di di sini?"
Gavin yang juga sedang mengamati buku menu, mengangkat kepalanya.
"Ada masalah?" Wajahnya lempeng tiada berdosa. Tidak menyadari dan merasakan kekhawatiran Helli. "Jika kau tidak nyaman kita bisa pindah mencari restoran lain." Pria itu menatapnya dengan lembut.
Seketika Helli luluh. Pria itu tampak tulus saat mengatakan hal tersebut. Kapan seseorang memikirkan kenyamanannya. Jika sudah begini, Helli tidak akan kuasa menolak keinginan pria itu.
"Kita sudah duduk di sini." Helli kalah. Ia kembali memusatkan perhatiannya pada buku di genggamannya. Jangan sampai ia tenggelam dalam pesona tatapan Gavin yang sialnya sangat menyesatkan.
"Kau terlihat cantik hari ini. Kau juga berdandan sangat bagus. Aku kira ini tempat yang cocok untuk penampilanmu. Tempat ini indah sama sepertimu."
Helli mengangkat tatapannya, manik mereka beradu. Ucapan Gavin mungkin terdengar seperti rayuan atau pun bualan, tapi tidak Helli pungkiri, ada kehangatan yang ia rasakan saat mendengar hal itu. Ini bukan tentang keinginan pria itu tapi tentang dirinya. Gavin memikirkannya saat memilih tempat ini. Bahaya, jika Helli terus-terusan terpesona dengan semua tindakan yang dilakukan Gavin, bisa-bisa ia tersesat tidak tahu arah jalan pulang.
Persetan dengan harga menu makanan!
__ADS_1
"Pesanlah," ucap Helli.
Ia berharap Adrian segera menemukan pengganti sutradara agar proses syuting segera dimulai dan bayarannya bisa segera dicairkan.
Gavin mengangguk sembari tersenyum tipis. Pria itu pun menyebutkan pesanan yang ia inginkan. Mulai dari makanan pembuka, menu utama, makanan penutup hingga minuman. Setiap kali Gavin menyebutkan pesanan, Helli dengan cepat menarikan matanya pada harga sembari otak cantiknya sibuk menghitung. Harapan Helli agar Gavin memesan makanan termurah sirna sudah. Pria itu justru memesan makan dan minuman yang paling mahal.
Dasar pria tidak tahu tatakrama! Harusnya orang yang ditraktir sedikit sadar diri!
"Aku sudah selesai. Kau belum memesan apa pun." Gavin meletakkan buku menu tersebut.
"Hah?"
Helli meringis. "Maksudku, salad. Aku harus diet." Ini benar. Meski ia sangat ingin menikmati makanan enak, tapi teriakan ibunya seolah selalu terdengar setiap kali ia hendak menyentuh karbohidrat atau makanan berlemak lainnya.
"Kau yakin?" Gavin bertanya dan Helli hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Hampir 24 jam kita bersama dan selama itu aku tidak melihatmu menyentuh makanan."
"Aku makan satu apel tadi pagi jika lupa."
"Hanya itu."
"Ya, cukup untuk membuat perutku kenyang."
"Itu mustahil. Aku tidak ingin salah satu diantara kita menderita kelaparan dan membunuh yang lain. Percayalah, itu bukan judul cerita yang kuharapkan untuk kencan pertama kita."
"Aku sungguh tidak bisa memakan makanan yang lain. Salad cukup untukku."
"Selama kau menjadi tunanganku, kau harus makan karbohidrat, Helli." Gavin pun memesankan menu yang sama untuk Helli. Wanita itu semakin nelangsa. Tabungannya habis.
Akhirnya, entah kalap atau kesal, Helli menghabiskan satu potong kobe beef steak. Helli melirik piring Gavin yang masih menyisakan setengah potong daging tapi tidak dengan minuman mahalnya. Pria itu menghabiskannya. Lain cerita dengan makanan penutup yang tidak disentuh sama sekali. Ah! Ingin rasanya Helli mengumpat. Uangnya akan dibuang secara percuma. Saatnya acara bayar membayar. Berdasarakan kalkulator otaknya, biaya yang harus ia keluarkan kurang lebih 1800 dollar setalah dikenakan pajak. Jumlah uang yang bisa ia gunakan untuk biaya hidupnya selama kurang lebih satu bulan. Melarat benar-benar membuat hati nelangsa.
__ADS_1
"Saatnya membayar, kau bisa memanggil pelayan."