
"Kau memang yang terbaik, Grace. Jangan pernah tinggalkan aku."
Percayalah, mimik Oscar saat mengucapkan kata beracun itu seperti seorang kekasih yang sekarat. Grace tahu jika Oscar hanya sedang bergurau dengan sengaja berlakon berlebihan. Pria itu tidak tahu apa efek yang diberikan kepada Grace saat mendengar permohonan yang seolah mengatakan ia tidak berdaya, tidak akan mampu hidup tanpa dirinya.
Gelombang kesedihan menyebalkan menjalari perutnya. Andai Oscar bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Disaat seperti ini, Grace ingin menyerah, menyerah dari pekerjaan ini. Ternyata bertemu setiap hari dengan pria pujaannya itu tidak bagus buat kesehatan batinnya. Grace harus menahan rasa cemburu setiap kali ia harus menyaksikan Oscar bersama wanita lain. Baru dua bulan, tapi sudah sungguh sangat menyesakkan.
Apakah dia sungguh tidak akan pernah memandangku sebagai wanita?
Sejujurnya, Grace merasa bahwa dirinya yang sekarang bukanlah dirinya yang dulu dan ia kurang menyukai dirinya sekarang. Ia menjadi pelakon yang hebat sekarang dengan bertindak bijaksana seolah dirinya memang seorang sekretaris yang sangat efisien yang tidak akan dipandang Oscar sebagai wanita.
Apa sebaiknya aku memang harus mengundurkan diri?
"Kau malah melamun." Oscar melambaikan tangan di wajah Grace, membuyarkan lamunan gadis itu atas kecemburuannya terhadap selir-selir Oscar.
"Sepertinya aku harus mengundurkan untuk melihat apa kau memang tidak bisa hidup tanpaku."
"Oh, tolong jangan mengancamku seperti itu," Oscar memasang wajah menyedihkan seperti anak kambing yang kehilangan ibunya. "Aku akan mempertimbangkan masalah kenaikan gajimu. Dan ini..." Oscar mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. "Tiket amal gratis. Datang dan bersenang-senanglah di sana."
Grace menatap tiket itu tanpa minat. Ia tidak yakin bisa bersenang-senang dengan bebas tanpa ada gangguan. Terakhir kali Oscar memberikan tiket gratis kepadanya, ia harus berhadapan dengan para wartawan demi menyelamatkan Oscar yang terciduk berkencan dengan salah satu model majalah dewasa yang sudah memiliki kekasih. Terima kasih kepada Helli, saudari iparnya yang dengan begitu mudah berhasil menarik perhatian para wartawan.
"Tiket gratis?"
"Ya, itulah yang kukatakan." Oh Oscar menggoyang-goyangkan lembaran tiket tersebut.
Grace memicingkan mata menatap Oscar penuh curiga, "Apa ada syarat tertentu?''
"Astaga,'' Oscar terlihat tersinggung.
"Mungkin kau mengharapkan sesuatu dariku. Seperti ponsel yang harus selalu menyala agar memudahkanmu untuk menghubungiku guna untuk membereskan kekacauan yang mungkin terjadi. Kekacauan yang mungkin tidak bisa kau hadapi."
__ADS_1
"Ya ampun, Grace, kenapa pikiranmu buruk sekali tentangku. Kau hanya tinggal datang. Aku tidak akan menganggumu. Sungguh."
"Kau yakin?"
"Kau bisa mematikan ponselmu sepanjang kau berada di acara tersebut. Aku tidak akan merecokimu."
"Baiklah." Grace akhirnya menerima tiket tersebut. "Aku akan hadir jika tidak sedang sibuk." Grace berlagak seakan-akan dia adalah wanita karir yang sangat sibuk. Faktanya, pulang dari kantor yang ia lakukan adalah menghempaskan tubuh ke atas ranjang. Mencari duit dan mengejar cinta ternyata sangat melelahkan.
"Kau harus hadir, Grace. Tiketnya lumayan mahal.''
"Aku bisa mengganti uang tiketmu jika kau mau."
"Ratu sengit mulai beraksi," Oscar berkelakar sambil tertawa. "Akan sangat menyenangkan melihatmu bisa bersenang-senang di sana."
Grace semakin tidak yakin jika Oscar tidak memiliki maksud terselubung.
"Aku akan memeriksa arsip-arsip ini, sebentar lagi seseorang akan datang menghantar sesuatu. Kenakan itu untuk nanti malam." Oscar memukul kepala Grace dengan pelan menggunakan arsip sebelum meninggalkan gadis itu masuk ke dalam ruangannya.
Mendengar serangan Grace, Oscar yang sudah berada di ambang pintu kembali berbalik, "Kau membuatku terlihat seperti atasan kejam yang begitu pelit. Ayolah, Gre, ini hadiah. Aku hanya ingin menyenangkanmu."
🦂
Jam sudah menunjuk ke angka enam. Grace masih belum memutuskan apakah ia harus menghadiri pesta amal tersebut atau tidak. Oscar mengizinkannya pulang lebih awal. Tepatnya, Oscar menyuruhnya pulang setelah jam makan siang. Dan sekarang hari sudah menjelang malam dan ia masih tidak menemukan jawaban haruskah ia pergi atau tidak.
Grace memandangi dress yang dibelikan Oscar padanya. Hadiah pertama yang ia dapatkan dari pria idamannya. Dress panjang tanpa lengan berwarna krem sepadan dengan senada dengan sepatu yang juga diberikan pria itu. Grace sudah mencoba dress tersebut dan ternyata sangat pas di tubuhnya. Bagaimana bisa Oscar tahu ukurannya?
Astaga, apakah aku masih perlu mempertanyakan kemahiran pria itu menebak ukuran wanita.
Ting
__ADS_1
^^^Aku mengharapkan kehadiranmu, sekretarisku yang berharga.^^^
Grace membaca pesan yang dikirim Oscar. Grace segera bangkit dari ranjangnya, berjalan menuju toilet. Pada akhirnya ia memutuskan untuk menghadiri pesta amal tersebut.
Setengah jam kemudian, Grace sudah mengenakan pakaiannya. Keluar dari kamar menuju kamar iparnya.
"Helli..." Grace mengetuk pintu kamar iparnya itu.
Tidak berapa lama, Helli membuka pintu. Gavin yang berada di atas ranjang, mengalihkan tatapannya dari laptop, memandang adiknya dengan kening berkerut.
"Dress?" Gavin memperhatikan penampilan adiknya dengan satu lirikan cepat.
"Hm, pesta amal. Kau tidak datang?" Grace melintasi ruangan, duduk di tepi ranjang, di sebelah saudaranya yang langsung menyingkirkan laptop dari atas pangkuannya.
"Aku meminta seseorang mewakiliku. Helli sedang tidak enak badan."
"Oh, kau sedang tidak enak badan?" Tujuan Grace mendatangi Helli adalah untuk meminta bantuan saudari iparnya itu untuk mendandaninya.
"Aku hanya sedikit meriang. Dress yang bagus. Dikenakan olehmu terlihat semakin indah. Hm, bagaimana jika kau mengubah sedikit tatanan rambutmu dan juga memoleskan sedikit make up."
Helli memang sangat pengertian. Grace belum menyampaikan tujuannya tapi Helli sudah bisa menebaknya.
"Kau memang yang terbaik, Helli!" Grace memeluk Helli, menghadiahi satu kecupan di pipi Helli. "Bisakah selesai dalam setengah jam? Acaranya mulai jam delapan."
"Kalau begitu kita harus bergerak dari sekarang. Siapa yang memilihkan gaun ini?" Helli membawa Grace ke meja rias. Gavin pun segera beranjak dari ranjang, memberi ruang dan waktu kepada istri dan adiknya.
"Oscar. Dia ingin aku mengenakannya malam ini."
"Wow! Kau harus membuatnya terkesan kalau begitu."
__ADS_1