My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Perjanjian


__ADS_3

"Kemana kita akan pergi?"


"Bandara."


Gavin melajukan mobilnya membelah jalan. Sepuluh menit perjalanan, suasana mobil hanya diisi dengan keheningan.


"Apa yang akan kita lakukan di bandara?" Helli mengeluarkan bolpoin dari dalam tasnya juga secarik kertas. Jemarinya mulai menari-nari di atas kertas tersebut.


"Seperti yang kukatakan tadi, kau harus melakukan tugas utamamu sebagai tunanganku. Tidak mungkin kau berharap aku secara suka rela menjadi tunanganmu, bukan? Hubungan ini harus saling menguntungkan, Nona." Gavin tersenyum seraya mengerling jenaka.


Helli mencibik, dari awal ia juga sadar jika sosok seperti Gavin tidak mungkin melakukan segala sesuatunya tanpa pamrih. Hanya saja yang menjadi pertanyaan Helli, keuntungan apa yang akan diambil pria itu darinya?


"Dari profilmu saja sudah sangat jelas jika kau bukan pria berhati malaikat. Jadi katakan dengan jelas, apa yang akan kulakukan nanti di bandara? Meski hubungan ini saling menguntungkan, tetapi kita juga harus membuat batasan," paparnya dengan tegas. Ia tidak boleh lengah.


Pria adalah makhluk yang tidak bisa dipercaya. Pada wanita harus berhati-hati dengan tingkah juga ucapan mereka. Ini, harus Helli catat di dalam otaknya. Gavin tipikal predator yang tidak bisa hidup dengan satu wanita dan sepertinya, Gavin tidak pandang bulu dengan mangsanya. Helli tidak akan membiarkan dirinya terperangkap dengan tipu muslihat montir tampan itu.


"Nah, kau harus ingat itu baik-baik, Ms.Lepisto. Aku bukan malaikat. Jangan pernah berpikir untuk merayuku karena aku tidak akan kuat menolaknya. Jadi bentengi dirimu."


Oh Tuhan!! Apakah kalian mendengar apa yang dikatakan pria itu? Jangan merayu karena tidak akan kuat menolak! Astaga!


"Kau lah yang harus yang membentengi dirimu, Mr.Pelayan. Jangan menerkam sembarang wanita! Hanya karena aku tunangan palsumu bukan berarti kau boleh menciumku seperti tadi. Itu pelanggaran!"

__ADS_1


Gavin tergelak, "Itu demi kepentingan kita berdua. Media harus diberi bukti agar mereka percaya. Teori tanpa praktek hanya akan membuat mereka menduga-duga juga menerka-nerka."


Hidung Helli kembang kempis. Teori tanpa praktek? Yang benar saja.


"Omong-omong apa yang kau tulis?"


"Perjanjian. Hitam di atas putih. Aku harus memastikan keselamatanku."


"Astaga, aku terdengar seperti seorang pemangsa."


"Kau memang manusia pemangsa. Mematuk segala sesuatu yang menarik perhatianmu."


"Kau gagak pemangsa! Dan aku sudah membuat perjanjian untuk kita berdua patuhi. Jika ada yang kurang, kau bisa menambahinya."


Gavin tidak terlalu tertarik dengan isi perjajian tersebut. Meski begitu, ia tidak melakukan penyangkalan atau penolakan sama sekali.


"Pertama, hubungan ini hanya berlangsung selama enam bulan." Helli menjeda ucapannya. Memberi ruang bagi Gavin untuk mengeluarkan pendapat. Apakah Gavin setuju atau tidak?


"Kau diam, artinya setuju."


Gavin menganggukkan kepala. Ia tidak ada masalah dengan waktu.

__ADS_1


"Kedua. Tidak ada sentuhan fisik. Termasuk ciuman atau hal lainnya tanpa persetujuan pihak lain."


"Hal lainnya seperti apa?"


"Ya, hal lainnya itu seperti apa tentunya kau lebih tau! Jika ciuman saja tidak boleh, sentuhan lainnya pun tidak boleh. Jika salah satu pihak melanggar, wajib baginya mengeluarkan denda."


"Denda? Wah, kau memerasku."


"Apa yang bisa diperas dari seorang montir sepertimu. Denda yang dimaksud di sini, pihak yang melanggar wajib mengikuti atau memenuhi permintaan pihak lainnya. Apa pun itu, asalkan bukan hal gila." Helli buru-buru menambahi. Kata apa pun itu, bisa jadi petaka jika tidak diluruskan dengan segera.


"Seperti yang kukatakan, adegan ranjang tidak akan terjadi tanpa persetujuan kedua pihak." Ucap Gavin dengan frontal. "Kau tenang saja."


"Kau merasa diperas artinya kau memang berniat memanfaatkan hubungan palsu ini." Helli dengan sengaja menyudutkan Gavin. Berbicara dengan Gavin harus secara blakblakan. Ini demi keselamatan mereka berdua.


"Bagaimana jika ternyata pihak lainnya juga menikmati pelanggaran yang dilakukan. Seingatku, kau sangat menikmati ciumanku, Ms.Flamingo."


Nah kan, selalu saja pria ini pandai berkilah.


"Dan ketiga!" Helli menghardik dengan kesal. "Dilarang memanggil pihak pertama dengan dengan sebutan Ms. Flamingo."


"Astaga, kau juga menyebutku gagak pemangsa." Gavin meminggirkan mobil. Mereka sudah sampai di bandara. "Kita akan melanjutkan pembahasan ini, nanti. Sekarang saatnya berlakon."

__ADS_1


__ADS_2