My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Bagaimana Rasanya?


__ADS_3

Helli menolak ajakan Rusell untuk menonton dan Grace juga memutuskan untuk pulang.


"Kau yakin tidak ingin kuantar?" Rusell bertanya untuk kesekian kalinya setelah mereka berada di parkiran.


Helli memberikan jawaban yang sama. Menolak dengan menggelengkan kepala. Selain ia tidak ingin merepotkan Rusell, ia juga tidak ingin ada yang tahu bahwa ia tinggal di rumah Gavin. Ia harus menghindari berita apa pun tentang dirinya yang dikaitkan dengan Gavin.


"Terima kasih tawarannya, Rusell. Aku dan Grace masih ingin singgah di suatu tempat." Helli sengaja berbohong dan berdoa semoga Grace tidak ikut menimpali.


"Aku tidak bisa memaksa jika ini urusan wanita. Sampai bertemu besok."


Helli mengangguk seraya melambaikan tangan. Setelah mobil Rusell tidak terlihat lagi, Grace menyenggol bahu Helli.


"Dia oke juga dan dari tatapannya, dia tertarik padamu." Selain mengompori saudaranya, Gavin, Grace juga mempunyai keahlian dadakan lainnya. Mencomblangi.


"Aku tidak tahu jika kau ahli dalam membaca tatapan mata," Helli berkelakar.

__ADS_1


Baginya dugaan Grace itu sangat salah. Dulu, saat makan siang bersama Mona dan Gavin, Helli melihat dan merasakan jika Rusell benar-benar serius dengan Mona, benar-benar mencintai wanita itu. Jika bukan cinta dan serius, tidak mungkin mereka sampai pada keputusan besar yaitu pernikahan. Hanya saja, semesta berkata lain. Manusia punya rencana, tapi jika bukan jodoh apa hendak dikata.


Helli yakin dan percaya jika sebuah perasaan tidak bisa berubah secepat membalikkan telapak tangan. Demikian perasaan Rusell kepada Mona. Rusell pasti masih dalam suasana patah hati. Dari yang ia dengar, pria itu juga mengakhiri hubungannya dengan sekretarisnya tersebut.


"Sebelumnya memang tidak. Keahlianku ini datang secara tiba-tiba."


Sebuah mobil berhenti di hadapan mereka. Seorang sopir turun untuk membukakan pintu untuk Grace.


"Ayo," ajak gadis itu kepada Helli. Ternyata Grace menganggap serius kebohongan kecil yang Helli lontarkan kepada Rusell.


"Aku masih ada urusan, Grace. Aku akan naik taksi. Aku sudah memesannya tadi."


Helli menggeleng, tidak mungkin ia membawa Grace ke rumah Gavin. Apa yang dikatakan Grace tentang dirinya jika tahu selama ini Helli tinggal berdua dengan Gavin. Helli sangat menyukai Grace, jadi penilaian gadis itu tentang dirinya sangat lah penting.


"Kau pasti sudah lelah. Pergilah, taksiku akan datang sebentar lagi."

__ADS_1


"Kau yakin tidak ingin kuantar?"


"Hmm," Helli menganggukkan kepala. "Kita akan mengatur jadwal bertemu kembali. Kau sudah menyimpan nomor ponselku, bukan?" Helli mengiming-imingi Grace dengan menjanjikan pertemuan selanjutnya agar gadis itu segera pergi.


"Aku akan menagihnya dengan segera. Bye, Helli."


"Bye."


Begitu mobil Grace melaju, tidak berapa lama taksi yang memang sudah dipesannya berhenti di hadapannya. Pun Helli segera melompat masuk ke dalam mobil dan menyebutkan alamat Gavin. Ia harus segera pindah dari sana dan yang akan ia lakukan hari ini adalah mengemasi pakaiannya. Semoga saja Gavin sudah pergi dan tidak datang lagi agar ia lebih leluasa.


Tidak berapa lama, taksi yang ia tumpangi berhenti. Helli mengintip dari balik kaca mobil. Ia tidak melihat ada Ferrari yang parkir di halaman rumah. Barulah ia segera turun setelah memastikan bahwa tidak ada tanda-tanda keberadaan Gavin di sana.


Helli memasuki rumah, melintasi ruang utama begitu saja dan langsung menuju tangga.


"Akhirnya kau pulang juga,"

__ADS_1


Suara itu sontak saja menghentikan langkahnya. Ia refleks menoleh dan menemukan Gavin yang sedang duduk di sofa. Pria itu beranjak dari tempatnya, berjalan mendekat ke arahnya.


"Bagaimana rasanya kencan dengan dua pria di hari yang sama?"


__ADS_2