My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Aku Tidak Pernah Melihat Senyumnya


__ADS_3

"Kau tidak perlu membayangkan wajahnya!" Gavin melempar bantal sofa ke wajah Helli.


"Aku harus membayangkannya untuk memberimu jawaban. Matanya tajam, tapi indah. Tubuhnya lumayan oke. Kekar dan tipikal pria yang enak untuk dipeluk. Potongan rambutnya juga bagus. Cambangnya yang mulai tumbuh, menambah kesan maskulin pada dirinya. Hidungnya, hmm, aku suka hidungnya. Bahunya kokoh dan bidang. Benjol di kepala tidak mengurangi kadar ketampanannya sama sekali."


"Jika kau tertarik, dia cukup berkuasa. Kau ingin aku mengatur kecanmu dengannya?"


Wajah Helli berseri-seri malu. "Benarkah, Gavin? Dia pria kaya? Sekaya apa? Astaga, haruskah aku berkencan dengannya. Tu-tunggu, apakah dia tidak memiliki istri?"


Sial! Gavin keceblosan. Status pria itu tidak boleh diketahui oleh Helli maupun Grace.


"Dia memiliki seorang putri, tentu saja dia memiliki istri. Tapi sejak kapan kau peduli dengan status mangsamu?"


Helli bergeming untuk beberapa saat, kemudian ia tertawa. "Kau sangat mengenalku. Baiklah, sepertinya menaklukkan pria arrogant seperti Mr. Lawrence cukup menarik. Apakah dia akan bersikap dingin jika berada di atas ranjang? Aku penasaran, Gavin."

__ADS_1


Gavin menggeram, godaan ingin mencekik leher Helli sungguh sangat kuat.


"Kurasa sebaiknya kau mandi dan istirahat, Helli."


"Kau tidak ingin kutemani? Baiklah, aku akan kembali ke kamarku."


"Ck! Duduklah. Lupakan tentang Lawrence. Apa kau menyukai Grace?"


Gavin tercengang. Ia juga tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Hidupnya terlalu santai hingga ia tidak pernah dipusingkan tentang arti kata tersebut. Keluarga yang harmonis, kekayaan yang berlimpah, itu adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada mereka. Helli menyebutnya sempurna dan ia juga tidak menemukan kata yang lebih tepat untuk menggambarkan kehidupan keluarganya.


Wujud syukur yang harus mereka lakukan adalah berbagi dengan orang-orang kurang beruntung. Memberikan bonus besar bagi para pekerja mereka. Mereka hanya mendapat kepuasaan dari sana. Lalu apa itu bahagia? Saat Gavin dan timnya memenangkan balapan, tidak ada perasaan membuncah sama sekali. Ia bangga dan mereka akan merayakan kebahagiaan itu dengan pesta BBQ. No alkohol, karena tubuh Gavin tidak kuat mentolerir minuman haram tersebut. Sisi baiknya yang tersembunyi. Tidak pernah menyentuh minuman haram tersebut.


"Mona, mungkin," sahutnya dengan ragu. "Lalu kau sendiri? Bagaimana kau mengartikan kebahagiaan itu?"

__ADS_1


Helli menghembuskan napas panjang, "Jika kau mengatakan kebahagiaan tidak bisa dipukul rata, tidak bisa disamakan dengan orang lain, aku harus menjawab apa. Aku selalu bermimpi tentang hal-hal indah yang dilakukan orang lain. Bagiku bentuk kebahagiaan itu sangat sederhana tapi bagiku sangat sulit untuk menggapainya. Aku akan bahagia jika ibuku tersenyum kepadaku. Aku juga akan bahagia andai aku memiliki ayah seperti Glend Vasquez yang tetap memeluk dan mencium putrinya yang sedang bau keringat dan aku rasa saat ini aku juga sedang bahagia karena memiliki teman yang rupawan sepertimu."


Gavin memperhatikan manik Helli yang mengembun. Wanita itu terbawa perasaan. Untuk hal-hal tertentu, Gavin sangat lah peka. Tapi untuk urusan hati dan cinta, dia cukup bodoh mengingat ia sendiri belum pernah merasakan apa itu yang disebut dengan jatuh cinta.


"Hubunganmu tidak baik dengan ibumu?" Gavin mengikis ruang diantara mereka. Ia duduk bersila, menarik tangan Helli untuk ia genggam. "Apakah karena skandal yang terjadi hubunganmu dan ibumu jadi memburuk?"


Helli menggeleng, "Tidak pernah baik sebelumnya. Apa menurutmu ada ibu yang tidak menginginkan anaknya?"


"Aku tidak tahu, Helli. Aku dibesarkan di dalam keluarga yang saling mencintai satu sama lain. Aku tidak pernah melihat hal semacam itu." Gavin mengusap pipi Helli dengan jemarinya. Gadis itu sengaja mendongak, menghalau agar air matanya tidak jatuh. Hais, ia salah memilih topik pembicaraan. Tapi entah kenapa, ia ingin membagi gundahnya pada pria yang ada di hadapannya itu seakan Gavin akan mampu memikul beban beratnya selama ini.


"Kau sangat beruntung kalau begitu." Helli bersyukur jika Gavin hidup dalam keluarga yang sempurna. Setidaknya, Gavin memiliki modal yang membanggakan untuk masa depannya. Keluarga lengkap yang terhormat. Apa kabar dirinya? Ia bahkan tidak tahu ayahnya siapa?


"Kelahiranku tidak pernah diinginkan ibuku. Lebih dari 20 tahun hidup, aku tidak tahu seperti apa senyum ibuku? Aku tidak pernah melihatnya tersenyum hingga aku beranggapan, apakah justru kelahiranku ke dunia ini yang merenggut senyumnya?"

__ADS_1


__ADS_2