
"Sarapan siap santap." Gavin berseru seraya meletakkan pring berisi nasi dan telur yang dibentuk menyerupai panda yang sedang babak belur karena bentuknya tidak jelas.
"Ini tidak sama dengan buatan adikmu tempo hari," Helli tersenyum geli melihat bentuk sarapannya pagi ini. Jujur, dia bahkan lebih bahagia melihat sarapannya kali ini dibanding yang ia makan tempo hari, karena sarapan kali ini dibuat khusus oleh Gavin. Ada kehangatan tersendiri yang ia rasakan.
"Ini pertama kali buatku. Hargailah." Gavin menyendok bagian telinganya. "Abaikan bentuknya, coba kau cicipi rasanya."
Helli tertegun saat Gavin menyodorkan sendok ke mulutnya. Kapan ia disuap oleh seseorang? Tidak pernah dalam ingatannya sama sekali? Lalu, bagaimana ia bisa tumbuh dan hidup sekarang? Memikirkan hal itu membuat Helli merindukan ibunya. Bukankah artinya ibunya pernah mengurusnya? Menyusuinya dan memasak untuknya? Jika benar begitu, setidaknya masih ada kasih sayang yang tersisa di hati ibunya. Lonela tidak pernah benar-benar ingin membunuhnya? Benarkah demikian? Atau itu hanya asumsi Helli semata demi menyenangkan hatinya.
"Tanganku pegal." suara Gavin membuyarkan lamunannya. "Mau sampai kapan kau diam dan membiarkan tanganku menggantung di udara, Helli?"
Helli segera membuka mulutnya lebar-lebar membuat Gavin tergelak. Tidak ada manis-manisnya sama sekali.
"Aku tidak tahu apakah kau memang pintar memasak atau karena kau menyuapiku, makanannya terasa sangat lezat sekali."
"Anggap saja keduanya," sahut Gavin dengan enteng. Inti dari pernyataan Helli tersebut bahwa gadis itu menyukai masakannya.
Helli mengangguk, "Terima kasih. Kau juga makanlah."
Helli mengambil alih sendok dari tangan Gavin. Ia tidak ingin menikmati kebahagiaan sesaat ini lebih lanjut lagi. Ia harus sadar posisinya. Baginya kesadaran itu penting agar ia tahu kapan harus lanjut dan berhenti.
"Kau memiliki ibu?"
__ADS_1
Pertanyaan Helli membuat kening Gavin mengernyit seakan pertanyaan itu soal yang begitu aneh.
"Tentu saja aku memiliki ibu. Bagaimana bisa aku lahir ke dunia ini jika tidak memilikinya."
Helli terkekeh, jawaban Gavin benar adanya. "Maksudku, apa ibumu masih hidup?"
"Ya, dia masih sehat, cantik dan bugar."
"Dia pintar memasak?"
Gavin mengangguk, "Masakannya adalah makanan terenak karena dibuat dengan penuh cinta dan kasih sayang."
"Masakanku enak? Ini pertama kali aku memasak untuk seorang wanita. Kau beruntung, Nona."
"Wah, aku merasa tersanjung kalau begitu." ucap Helli dengan tulus. "Bagaimana dengan ayahmu? Ayahmu juga masih ada?"
"Ya, sama seperti ibuku, ayahku juga sangat sehat, dan semakin tampan."
"Jadi kau mirip ayahmu?"
Gavin menggeleng, "Aku mirip ibuku. Ayahku jauh lebih menawan dibanding diriku. Kau akan mengatakan hal serupa jika bertemu dengannya."
__ADS_1
Helli tersenyum, "Aku menyukai pria penuh kharisma seperti Glend Vasquez. Apakah ayahmu terlihat seperti dia?"
Bukan terlihat lagi, Helli. Ayahku memang seorang Vasquez.
"Kau mengagumi Glend Vasquez?"
"Sangat."
"Karena ia kaya?"
Helli tidak lantas menjawab. Gadis itu menyelesaikan kunyahannya di dalam mulut. "Mungkin," sahutnya singkat.
Gavin menghembuskan napas panjang. "Aku sudah selesai. Aku akan menjemputmu nanti siang."
"Hmm," Helli bergumam seadanya.
"Istirahatlah selama aku pergi," Gavin berhenti di samping Helli untuk memberikan usapan di kepala.
"Ya, bekerjalah yang rajin. Kumpulkan uang sebanyak-banyaknya."
Helli hanya tidak tahu jika seorang Gavin tidak perlu bekerja keras untuk menjadi kaya karena pria itu sudah terlahir kaya sejak dalam kandungan.
__ADS_1