My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Aku Melindungimu


__ADS_3

"Apa kau sedang berakting? Karena aku tidak tahu lagi mana yang nyata dan mana yang tidak nyata."


Kesunyian menghampiri. Gavin menatap wajah Helli lekat-lekat. Pertanyaan Helli adalah pertanyaan yang sudah ia tanyakan kepada dirinya sebanyak berulang kali. Dan ia tidak menemukan jawabannya. Ia merasa frustasi di tengah kemarahan yang masih bercokol di hatinya.


"Kau tadi ketakutan."


Helli melangkah mundur, terguncang karena Gavin melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Bahaya, pria ini memang sangat bahaya. Helli salah dalam memilih partner untuk berlakon sebagai tunangan palsu. Gavin terlalu peka dan perhatian, membuat Helli justru semakin rapuh. Benteng yang ia bangun untuk melindungi dirinya sepertinya tidak berlaku kepada seorang Gavin, sang tunangan palsu.


"Aku sedang berakting!" Tanpa sadar Helli meninggikan suaranya.


"Tidak. Tadi itu kau ketakutan." Gavin mendorongnya, mendobrak benteng pertahanan yang didirikan Helli.


"Aku tahu kau ketakutan dan selama ini dia yang membuatmu takut. Aku akan di sini untuk melindungimu."


Pernyataan itu menggoyahkan lapisan pelindungnya. "Mengapa?" Kata itu hampir terdengar seperti bisikan. Bisikan yang menyiratkan harapan yang begitu besar.


"Karena aku tunanganmu."


Helli menoleh cepat, ia terkejut menyadari jika dirinya menginginkan jawaban yang berbeda. Astaga, Helli, ini hanya akan membuatmu sakit dan terluka. Jangan berharap!


"Kau tadi terlihat sangat meyakinkan. Kau membuat kesal satu sutrada lagi."

__ADS_1


Helli tahu akan ada harga yang ia bayar setelah ini. Calvin tidak boleh dibuat kesal. Dan sekarang Gavin sudah memancing amarah pria itu. Sepertinya Helli harus mempersiapkan diri mulai sekarang. Mempersiapkan untuk kemungkinan terburuknya.


"Apakah kau harus berbuat sejauh ini? Kau mempermalukannya dengan membuatnya seperti orang bodoh."


"Dia sendiri yang mempermalukan dirinya sendiri," Gavin tidak terlihat menyesal dan ia kesal mendengar kalimat Helli yang terdengar sangat peduli dengan harga diri pria itu.


"Lagi pula kenapa dia harus menciummu?" Gavin merasakan hatinya semakin panas. Cenat cenut mengingat bagaimana Calvin menyentuh rambut Helli mencium tunangannya itu. Ck! Ingin rasanya ia membersihkan jejak si keparat Calvin dari tubuh Helli.


"Dia hanya memperagakan sebuah adegan," Helli menggosok-gosok jemarinya di keningnya yang terasa nyeri. Merasa tidak berdaya dengan situasi ini. "Jika dia pergi, Addrian pasti akan panik."


"Kuharap dia memang pergi, aku tidak suka dengan caranya memandangmu."


"Aku tidak berniat merusak karirmu. Aku akan berbicara kepada Addrian." Ia mengabaikan tentang kesepakatan mereka. Ia juga mengabaikan tentang kenyataan bahwa sebentar lagi ia juga akan mendapatkan Mona, gadis impiannya.


Helli menggelengkan kepala, "Tidak, jangan lakukan itu. Kau sudah berbuat banyak kepadaku. Biarkan aku yang akan mengatasinya."


"Beritahu aku mengapa kau takut pada Calvin?" Ia menahan lengan Helli. Nada bicaranya rendah dan mendesak. "Kenapa kau peduli tentang apa yang pria itu pikirkan tentangmu?"


"Ka-karena dia memiliki kekuasaan."


"Kekuasaan terhadap penampilanmu?" Sungguh Gavin tidak mengerti kenapa Helli sangat terobsesi dengan kekuasaan. Itulah yang ia coba untuk digali.

__ADS_1


"Aku tidak ingin mengusiknya yang justru bisa menciptakan judul berita yang sangat buruk."


Gavin melirik melalui ekor matanya. Ada beberapa pers yang mulai mendekat. Gavin mencondongkan tubuhnya dan mencium Helli. Sebenarnya adegan ini tidak perlu. Tapi setidaknya ia menemukan alasan untuk melakukannya. Dengan begitu keinginan untuk mensterilkan bibir Helli tercapai.


Saat bibir Helli terbuka hendak melayangkan protes, Gavin buru-buru bersuara.


"Pers mendekat dari belakang. Pasang wajah sumringah saat melihatku." Bibir Helli lembut dan manis. Gavin ingin berlama-lama di sana, menikmati semua sarinya.


"Kurasa cukup," Helli mendorong tubuh Gavin agar menjauh. Ia harus meremass jemarinya, demi menahan diri agar tidak menarik pria itu kembali untuk menyentuhnya. Karena jika Gavin melakukan itu, ia akan meleleh dan mengakui semua perasaannya.


Gavin merasa resah karena ia belum merasa cukup sama sekali. Ia mengambil sesuatu di dalam mobil dan memberikannya kepada Helli. Topi dan kaca mata.


"Pakailah," ujarnya dengan lembut. "Dan sekali ini jangan membantah dan jangan berdebat denganku." Gavin menariknya, membawanya masuk ke dalam mobil. Helli belum waktunya pulang. Masih ada syuting hingga malam. Itulah yang dikatakan oleh Addrian.


Seorang jurnalis tiba-tiba datang, "Helli, katakan sesuatu tentang tunanganmu yang menghajar seorang sutradara." See, beritanya langsung menyebar dengan cepat.


"Tidak ada. Helli tidak akan memberikan komentar apa pun." Gavin menyalakan mesin mobil dan jurnalis itu masih saja mengejar mereka.


"Katakan, apa rencana kalian malam ini? Apakah ingin pergi berkencan?"


"Rencana kami malam ini adalah menghasilkan keringat sebanyak mungkin di atas ranjang." Dengan senyum berbahaya, Gavin menginjak gas dan melajukan mobil meninggalkan lokasi.

__ADS_1


__ADS_2